Home » » Azazil

Azazil

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, March 12, 2015 | 2:11 AM

Oleh :Ahmad Muchlish Amrin


Sudah ribuan tahun aku hidup di muka bumi. Dan ribuan tahun pula aku berkelindan di aliran darahmu. Tapi kamu tak bisa melihatku, bukan? Aku berada diantara kedipan matamu, bibirmu, tanganmu, dan kakimu. Aku melompat lagi ke detak jantungmu, aku pindah lagi ke dalam rongga hatimu. Aku adalah pengintai yang paling tidak suka melihatmu bahagia.


http://2.bp.blogspot.com/-3I6GOSWiXXg/UfhA20gH8hI/AAAAAAAAArc/T_SDwEJbNjs/s1600/ilustrasi+adam+hawa+dan+iblis.jpg

***
Namaku Azazil. Aku adalah bapak dari para iblis di alam raya ini. Aku tahu Tuhan telah memberiku takdir menjadi makhluk terbaik dan paling tampan dibanding makhluk-makhluk lain. Aku telah berbakti kepada Tuhan selama 80.000 tahun. Aku telah mengelilingi Baitul Makmur selama 14.000 tahun, sebab aku mengagungkan-Nya. Aku tentu lebih tampan dibanding Jibril, Israfil, Rakib, Atit, dan teman-teman mereka. Aku juga lebih tampan dibanding manusia-manusia seperti kamu dan pendahulumu.
Kulitku putih bagai cahaya-cahaya Taman Eden yang merumbai. Suara air mengalir di bawah lantai yang jernih bagai kaca. Kulihat ruh-ruh bagai busa-busa yang beterbangan.
Kamu tahu kan, aku telah menolak takdirku. Aku tidak ingin menjadi makhluk yang mudah diperintah. Setiap hari aku selalu makan buah dari Pohon Pengetahuan. Karena itu, aku tahu semua rahasia. Tersebab aku adalah makhluk pilihan, maka Tuhan memilihku untuk menjadi Raja Iblis. Ya, Tuhan memilihku menjadi Raja Iblis.
Aku sangat menyukai tempat ini. Sungguh aku sangat menyukai Taman Eden ini. Buah-buah yang menjurai siap disantap. Bidadari-bidadari dengan senyum terkulum.
Konon, sebelum makhluk sepertimu diciptakan, aku menjadi imam para malaikat dan menjadi bendahara di Taman Eden ini. Namun begitu manusia pertama (kakek buyutmu yang bernama Adam) diciptakan dari lumpur yang hina, aku diperintah Tuhan bersikap hormat padanya. Karena aku tidak bodoh, maka aku menolak. Aku mengatakan pada Tuhan, aku tidak bisa menerima perintah ini.
Lalu Tuhan bertanya padaku, “Zil, kenapa kamu menolak hormat pada Adam?”
Aku tidak menyahut. Bibirku bergeming. Aku cuek saja.
“Apakah karena kamu diciptakan lebih dulu?”
Aku tetap tidak menyahut. Aku tahu Tuhan tidak akan marah padaku meskipun aku tidak nyahut. Aku diam saja. Dan aku sangat tahu, meski aku tidak menjawab, Tuhan Maha Tahu segala sesuatu yang kumaksud.
Aha! karena aku tak menyahut, Adam yang kerdil itu menganggap aku sombong. Padahal manusia seperti dialah yang sombong dan bodoh.
Buktinya, karena Tuhan memerintahkanku hormat padanya, ia bangga dan merasa dirinya lebih baik dari dariku dan makhluk-makhluk lain. Ya, itulah setidaknya menurut akal sehatku yang cerdas dan waras. Teman-teman di sekelilingku pada tertunduk. Diam. Hatiku bergolak dan dongkol.
Hmm, aku yakin, jika kamu menjadi aku, kamu pasti melakukan sebagaimana yang kulakukan. Karena sikapku ini adalah sikap yang cerdas dan masuk akal.
Tuhan mengulangi pertanyaannya padaku dengan suara yang lebih lantang.
“Zil, kenapa kamu menolak hormat pada Adam?”
“Hehehe! Tuhan ini ada-ada saja. Bukankah Engkau Dzat Yang Maha Agung?”
“Benar!”
“Bukankah Engkau Dzat Yang Maha Pencipta?”
“Benar!”
“Bukankah Engkau Dzat Yang Maha Cerdas?”
“Benar!”
“Bukankah Engkau Dzat Yang Maha Bijaksana?”
“Ya, benar!”
“Bayangkan saja wahai Tuhanku. Aku ini imam malaikat, 80.000 tahun aku berbakti kepada-Mu, aku dijadikan bendaharawan di Taman Eden, diciptakan dari api, sedangkan Adam itu diciptakan dari lumpur yang hina, dan bodoh. Bagaimana mungkin aku akan menghormatinya. Yang masuk akal sajalah wahai Tuhanku. Satu-satunya yang kuhormati adalah Engkau wahai Tuhanku.”
“Oo, begitu?”
“Iya Tuhanku.”
Tuhan pun tertawa. Semua teman-temanku menyaksikan perdebatanku di Taman Eden. Bidadari-bidadari bersungging senyum di dekat pohon-pohon yang telanjang. Buah-buah segar dan ranum tergenang di penglihatan.
“Tapi ini kan perintah Tuhanmu. Tuhan Yang Menciptakan kamu dan alam raya ini?”
“Memang benar Tuhanku. Aku menolak karena aku memuliakan Engkau, wahai Tuhanku. Aku menolak karena aku tidak ingin menjadi makhluk penjilat seperti makhluk-makhluk lain, wahai Tuhanku. Bukankah Engkau merasa sedih bila makhluk-makhluk yang Engkau ciptakan menjadi penjilat terhadap makhluk lain yang dianggap lebih tinggi jabatannya? Bukankah engkau sedih bila makhluk yang Engkau ciptakan telah membuat makhluk lain lupa kepada-Mu, wahai Tuhanku? Karena itu aku menolak perintah-Mu.”
“Kamu tahu kan kalau menolak perintahku adalah sikap yang janggal?”
“Sikap ini janggal bagi yang belum tahu rahasia wahai Tuhanku. Aku tahu Engkau telah memilihku untuk melawan keputusanmu dan aku tahu takdirku yang sesungguhnya.”
Tuhan berpikir.
“Dari mana kamu mendapat pengetahuan ini, Azazil?”
“Atas Kebesaran dan Keagungan-Mu, wahai Tuhanku. Engkau telah menumbuhkan Pohon Pengetahuan di Taman Eden ini. Dan aku memakannya setiap waktu. Karena itulah, semua rahasia yang Engkau sembunyikan kepada makhluk-Mu yang lain, aku telah mengetahuinya.”
Tuhan kembali Berpikir.
“Kalau begitu, keluar kamu dari Taman Eden ini. Posisimu akan digantikan Adam.” Kemudian Tuhan memerintah Jibril untuk memberi tahu kepada Adam, jika dirinya menjadi penggantiku di Taman Eden ini. Jibril mengangguk. Jibril yang berbentuk kupu-kupu, menggulung belalainya. Lalu bersijingkat pergi dari hadapan kami.
“Jibril!” tegas Tuhanku.
Jibril membalikkan badan lagi. Menunduk.
“Katakan pada Adam. Janganlah sekali-kali mendekati Pohon Pengetahuan itu. Baginya, pohon itu adalah pohon larangan.”
Aha! Mungkin saja Tuhan khawatir Adam bisa mengerti rahasia-rahasia yang disembunyikan-Nya sebagaimana rahasia yang kuketahui. Dan Tuhan berjanji, akan menciptakan teman hidup baginya di Taman Eden.
Tuhan segera meninggalkan kami. Tuhan meninggalkan Taman Eden menuju Singgahsana-Nya. Barisan para malaikat di Taman Eden mendukungku. Mereka sangat senang dengan penolakanku. Mereka sebenarnya menolak terhadap perintah menghormati Adam. Tapi karena perintah Tuhan, mereka tak dapat berbuat apa-apa kecuali tunduk. Hanya aku. Ya, akulah yang bisa menolak takdirku.
***
Taman Eden yang indah; pohon-pohon yang bercahaya, buah-buah segar bagai dalam kaca seperti diberi lampu-lampu hias yang terus menyala. Bidadari-bidadari berkalung kecantikan, dengan senyum menggoda. Bidadara-bidadara dengan gaun tampan dengan wajah merona.
Di bawah, air jernih mengalir indah tak kutemukan ujungnya. Bila kami ingin makan, sebuah keranjang yang berisi makanan segera datang, melalui mesin-mesin otomatis yang diciptakan Tuhan. Dan mesin-mesin itu amat peka terhadap segala kehendak penduduk Taman Eden.
Aku menolak untuk keluar dari Taman Eden ini. Setelah Jibril memberi tahu kepada Adam bahwa ia akan menggantikanku di Taman Eden, dengan pongah Adam menerimanya. Padahal aku tahu dirinya tidak mampu mengemban tugas ini. Dan Jibril pun ragu atas kemampuan Adam untuk mengemban tugas besar ini.
Aku mengatakan pada Jibril bahwa kelak Adam dan anak turunnya akan membuat kerusakan. Jibril hanya mengangguk mendengar perkataanku. Jibril tidak berani mengusirku dari Taman Eden. Sebab aku tahu rahasia-rahasia yang tidak dibuka oleh Tuhan kepadanya dan makhluk lain. Kemudian Tuhan datang lagi ke Taman Eden.
“Oh, Azazil masih di Taman ini?”
“Benar wahai Tuhanku”
“Keluarlah! Hiduplah kamu dan anak turunmu di muka bumi.”
“Baiklah Tuhanku. Tapi bagiku Adam adalah musuhku. Izinkan aku selalu mengintainya setiap waktu. Aku akan bersarang di aliran darahnya dan denyut nadinya. Aku akan mengetahui segala gelagatnya.”
“Keluarlah!”
“Izinkan aku dan anak turunku tidak mati sampai alam raya ini Engkau hancurkan wahai Tuhanku”
“Ya, Keluarlah!”
“Baiklah Tuhanku.”
Semua malaikat dan penduduk Taman Eden berdiri ketika aku bersiap-siap keluar dari Taman ini. Hewan-hewan pada berbunyi seraya menghormatiku. Hanya Adam yang tidak mempedulikanku. Sombong. Tentu ini menyakitkan. Jibril dan teman-temannya menangisi kepergianku. Akhirnya, aku keluar dari Taman Eden ini melalui sebuah pintu di sebelah kiri Pohon Pengetahuan. Aku keluar melalui Babul Hayat (pintu kehidupan).
***
Sudah ribuan tahun aku hidup di muka bumi. Dan ribuan tahun pula aku berkelindan di aliran darahmu. Tapi kamu tak bisa melihatku, bukan? Aku berada diantara kedipan matamu, bibirmu, tanganmu, kakimu. Aku melompat lagi ke detak jantungmu, aku pindah lagi ke dalam rongga hatimu. Aku adalah pengintai yang paling tidak suka melihatmu berbuat baik.
Aku tidak suka kamu bangun tengah malam, bersimpuh di hadapan Tuhanmu. Aku tidak suka bila kamu mengulurkan tangan pada orang lain.
Kamu tahu, bukan? Bagaimana aku telah menghancurkan pembesar-pembesarmu? Bagaimana aku telah menggoda menteri-menteri di negerimu untuk korupsi, kolusi, dan nepotisme? Kamu tahu bukan, bagaimana aku telah menggoda pemimpinmu untuk menginjak-injak hak rakyatmu. Aku tahu semua yang kamu rahasiakan.
Kamu tahu, bukan? Bagaimana aku telah menggoda orang-orang diantaramu, pejabat-pejabat di negerimu, bahkan ulama’-ulama’mu sekalipun, telah kujungkalkan ke dalam jurang yang hina. Kamu tahu, bukan? Orang-orang yang menurutmu mulia dan terhormat, orang-orang yang menurutmu adil, lalu bertindak tidak hormat dan tidak adil. Ya, semua itu karena pengaruh bisikan-bisikanku di hati mereka.
Inilah. Ya, inilah sebuah keadaan yang aku inginkan. Inilah sebuah keadaan yang membuatku bahagia. Bahagia. HA HA HA.

Yogyakarta/Giwangan, Mei 2014

Sumber Gambar : http://2.bp.blogspot.com/-3I6GOSWiXXg/UfhA20gH8hI/AAAAAAAAArc/T_SDwEJbNjs/s1600/ilustrasi+adam+hawa+dan+iblis.jpg


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment