Home » » Colosium Abu Vulkanik

Colosium Abu Vulkanik

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Saturday, September 30, 2017 | 3:06 AM



http://3.bp.blogspot.com/-zBDjdYIjb9Q/VAYA9rFTmsI/AAAAAAAAAW0/uRzHA0DNQMg/s1600/bencana%2Bgunung%2Bmeletus.jpg

Apa jadinya bila desa-desa dan kota-kota dikurung abu? Apa jadinya bila pohon-pohon, tanaman, daun-daun, dan sayur-mayur diguyur gagal panen? Orang-orang dilarang keluar rumah. Jalanan sepi. Tak satupun orang-orang berlalu lalang. Semua orang menyelamatkan diri di rumah. Ratusan ribu masker dibagikan. Sekolah-sekolah diliburkan. Bandara ditutup. Tentu, hujan abu vulkanik akibat letusan gunung, benar-benar melumpuhkan roda kehidupan.

Dalam kondisi seperti ini, saya teringat puisi Chairil Anwar yang berjudul Hampa:
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Kisah sedih kutukan abu memang pernah terjadi sekitar 2000 tahun lalu, peradaban Pompeii luluh lantak oleh abu vulkanik, lahar, dan awan panas letusan gunung Vesuvius. Pompeii merupakan bagian dari kota kejayaan Romawi kuno. Pompeii terletak di sebelah tenggara kota Napoli Italia. Kota ini didirikan oleh orang-orang Osci, sebuah suku masyarakat di Italia Tengah. Di pelabuhan Pompeii menjadi pelabuhan yang aman bagi pelaut Yunani dan Fenisia.
Penduduk kota ini memang terkenal sangat makmur, karena lahan pertaniannya yang subur. Karena itulah, kota ini menjadi perhatian penuh peradaban Romawi kuno. Di kawasan Pompeii dibangun tempat-tempat wisata untuk musim panas, villa, perjudian, dan pemandian ala Romawi. Peradaban Romawi merupakan peradaban maju yang berdiri di abad 9 SM. Peradaban ini tumbuh dari negara kota (nation state) di semenanjung Italia dengan kaisar pertama bernama Augustus (63 SM-14 M).
Saat terjadi letusan, lebih 2000 jiwa berbondong-bondong bersembunyi di lubang-lubang yang aman. Namun karena serangan abu vulkanik dan gas beracun, 2000 jiwa itu dipaksa menyerah pada kutukan abu gunung yang terletak di Campania ini. Plinius Tua (23-79 M), seorang filsuf kenamaan dari kota Pompeii menjadi korban letusan dahsyat 24 Agustus 79 M. Saat itu, ia sedang bersembunyi  di teluk Napoli.
Dalam sebuah surat kepada teman karibnya, Cornelius Tacitus (56-117), senator sekaligus penulis sejarah Romawi, Plinius Tua menulis: “abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi. Tinggi semburan ini diduga mencapai 30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudian, Pompeii seperti dilapisi abu dan kerikil vulkanis setebal beberapa sentimeter. Penduduk Pompeii panik dan mulai mengungsi ke luar kota, menyisakan 2000 orang yang masih bertahan dalam lubang-lubang persembunyian menanti letusan gunung berakhir. Tapi selambat-lambatnya pada keesokan harinya, mereka tewas karena keracunan setelah menghirup gas dan abu vulkanis.” 
Sejak zaman itu kota Pompeii tak pernah dibangun lagi oleh penduduknya yang berhasil menyelamatkan diri ke luar kota. Kota Pompeii secara kebetulan ditemukan pada tahun 1599 M. Pompeii modern terletak di lokasi terbentuknya aliran lava yang mengarah ke hilir sungai Sarno. Kini sungai ini menjadi sungai terpolusi di Eropa akibat limbah industri yang tak terkendali.
***
Tanggal 21 Februari 2014 ini untuk pertama kalinya film berjudul Pompeii akan dirilis di Amerika Serikat. Sutradara kenamaan Paul W.S. Anderson menghadirkan kisah cinta seorang budak bernama Milo dengan putri sang majikan, Columba. Ia ingin bebas. Ia ingin suatu saat nanti bisa menjalin kasih dalam sebuah rumah tangga bersama kekasihnya. Tentu tidak mudah untuk mewujudkan keinginan itu. Seorang budak sangat tidak mungkin menikah dengan perempuan merdeka di zaman Romawi.
Dalam film itu, peristiwa terjadi di akhir musim panas tahun 79 M. Pertempuran di Colosium mencerminkan bahwa tokoh Milo berusaha menyelamatkan temannya Gladiator Nigellus. Milo mengetahui bagaimana cara memperjuangkan temannya ini. Ia tahu bahwa Columba telah berjanji kepada pria lain dan ia sadar bahwa dirinya telah dijual kepada majikan lain. Ketika itu, tiba-tiba Vesuvius meletus dengan kekuatan yang sangat dahsyat, sehingga meluluh lantakkan Pompeii. Ia bersikukuh menyelamatkan teman-temannya sehingga ia terkubur oleh Vesuvius.
Film ini---tegas sang bintang Kiefer Sutherland, akan seperti perang nuklir. Pompeii luar biasa relevan. Film ini bukan pelajaran sejarah, tetapi problematika nyata yang terjadi. Saya rasa film ini layak diperbincangkan, sebab peristiwa yang sama bisa saja terjadi lagi.
Peristiwa demi peristiwa bencana alam terus terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah umat manusia sendiri. Sebab itulah, Ebit G. Ade menulis lirik lagu yang bagus berjudul Untuk Kita Renungkan: Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, kita mesti tabah menjalani/ Hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia di atas segalanya/ Adalah Dia di atas segalanya/ Anak menjerit-jerit asap panas membakar, lahar dan badai menyapu bersih/ Ini bukan hukuman hanya satu isyarat, bahwa kita mesti banyak berbenah/ Memang bila kita kaji lebih jauh/ Dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista.***

Sumber Gambar: http://3.bp.blogspot.com/-zBDjdYIjb9Q/VAYA9rFTmsI/AAAAAAAAAW0/uRzHA0DNQMg/s1600/bencana%2Bgunung%2Bmeletus.jpg


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment