Home » » Damar Kembang*

Damar Kembang*

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, March 12, 2015 | 1:51 AM


Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

Aku memujamu dengan api ini, anakku. Sebab aku tahu rahasia pendar damar pada sumbu kapas yang desisnya terdengar. Di atas sekerat daun lontar dan jelantah itu, suluh damar menjadi kompas bagiku, dan kusulut ia bagi jiwamu, agar nyala dan terangnya meresap ke dasar hatiku.

Bila api menggeliat di udara: ke kanan dan ke kiri. Ia melarut jiwa. Kau pasti bahagia di sana. Dan bila ia mati, kusulut lagi, mati lagi; gerimis bening tumpah dari mataku, memadamkan segala sukamu.


Bagiku, kau adalah api itu, anakku. Api yang berkobar di aliran darahku, sumsum tulang, dan detak jantungku. Garis nasib yang kau ikuti lajurnya adalah perpanjangan sumbu yang kau sulut di rahimku dulu. Karena itu, aku menjagamu tak mengenal waktu.

Singosaren, April 2011

Catatan :
* Damar Kembang adalah ritual orang Madura untuk mengetahui keadaan anak (keluarga) di rantau.

Di Pemakaman

Kelak, di pemakaman ini ruh-ruh akan tumbuh seperti pohon. Akar-akarnya berserabut dan menghunjam dalam tanah. Amal-amalnya menjadi batang dan getah meleleh bagai cinta yang mencair. Lihatlah, bunga-bunga di ujung ranting, kelopaknya mekar ke langit; ada yang ceria, ada yang derita.

Kelak, suatu pagi di pemakaman berkabut ini, ruh-ruh kita tumbuh. Kita akan bertemu mengenang permainan dadu, buku, dan kisah yang tak selesai. Kita berjanji akan melanjutkannya nanti, bersama ular yang meliuk dalam api, atau dengan burung-burung yang bertekukur dalam cahaya. Ya, kelak di pemakaman ini akan menjadi hutan rimbun, yang ditumbuhi ruh-ruh kita.

Sareman, April-Mei 2011

Bekisar Merah Dari Kangean

Pulau ini telah mengambil langit
dalam diriku, hingga matahari dan bulan tak terbit.
Kunyalakan perapian di mataku
lalu aku mengembara sambil kuteguk bayangan diriku.

Kutarik suaraku sepanjang jalan.
Keras dan lantang.
Pulau mengembalikan langit,
hingga matahari dan bulan
bersinar dalam kata-kataku.

Pulauku  ingin berkata-kata lewat suaraku
dan mengembara dengan kakiku dan
menaruh mahkota di kepalaku dan
kubawa pulauku menyeberangi laut
sampai maut bertaut.

Kangean, Desember 2010

Kepada Umbu Landu Paranggi

Umbu, pada laut yang menyimpan maut
aku ingin bertanya muasal pasang dan surut.
Pada mata sedalam laut
kutangkap ikan-ikan bersisik lumut:
menelan matahari di siang hari
dan menelan bulan di malam hari.
Memang aku tahu
sirip kanan-kiri mengipas di air garam
tapi ikan-ikan tak pernah asin.

Umbu, di atas sampan kukibarkan layar
tiang menusuk bintang bagai bulu mataku,
gelombang menggesek air
yang bergambar bunga karang di dasar,
dan di tengah bahtera itu, Umbu
sudah tak kukenali lagi arah
hanya biru langit
dan air laut berombak di mata.
Memang aku tahu
langit selalu bertaut pada laut
adakah laut mengalami maut, Umbu?

2009-2011

Bulan Putih Melon
Di Taman Sare

Bulan putih melon di Taman Sare
semakin matang, kian meninggi
biji-bijinya tumbuh
menjadi batang:
batang-batang menjalar
pada malam.

Bulanku putih melon di Taman Sare
sendiri
berdiri di atas pelataran
dan pagar kebun
matanya mengerling
pada bayang-bayang kucing.

Angin merintih
karena letih
mendekap kesedihan
diantara awan-awan
tipis
yang bergeser bagai cincin bulan.

Bulanku putih melon
irisannya memancar.

Taman Sare, 2010

Petik Laut*

Laut tua, aku mengalungkan bunga-bunga, rerampatan, dengan bandol kepala kambing guling di lehermu, dan buih di bibirku menjadi manik-manik mantra berkilau di bibirmu: sandoroaraikurcap cap sandoroaraikurjem. Meletuplah lidah gelombang menelan sampan-sampan. Dan melayanglah ruhku bersatu dengan ruhmu: ruh laut.

Aku menjadi laut---ikan-ikan berenang di tubuhku: yang besar memakan yang kecil. Cumi-cumi naik-turun di tebing, sekali waktu bersembunyi diantara karang, menyemprotkan kebencian bagi yang mengancam. Lalu para nelayan memaksa membuka layar, melempar jaring dengan mata sebelas bintang. Bila airku menghitam segeralah bersandar, agar tidak dikubur rendam dendam.

Laut tua, o, laut tua---katamu. Aku mengalungkan bunga-bunga, rerampatan, dengan bandol kambing guling di lehermu. Kata-kata kemenyan menyeruak dari mulut tukang tenung, diiringi lengking suara ronggeng dan igau gelombang di lubukku. “kirimkan padaku perempuan perawan,” kataku. Si tukang tenung panik. Matanya terpejam, tangan dan lehernya bergerak-gerak: sandoroaraikurcap cap sandoroaraikurjem. Asap melindap ke angkasa, menjadi mendung, dan hujan menyampaikan isyarat laut.  

Sumenep, September 2010

Catatan:
* Petik laut adalah selamatan laut di Madura.

Puisi-puisi ini telah dimuat di Kompas Minggu selama tahun 2011


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment