Home » » Djamijah dan Mausoleum

Djamijah dan Mausoleum

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, March 11, 2015 | 6:01 AM



Z ? G JX F X F N T B D F W E F
D X W B U J H R V W W G Z E B Q
Z Z Z B ? G K B M A G X B Z M Q

Itulah potongan sandi romantik yang tergurat di sebuah nisan tua seorang perempuan pribumi di desa Sinderan Pacitan. Sandi tersebut menjadi teka-teki hampir 100 tahun. Tak seorang pun dapat mengungkap makna monumen cinta di nisan ini. Kuburannya berada di bawah sebuah cungkup tua yang seringkali disebut Mausoleum oleh masyarakat sekitarnya. Dalam tradisi dunia, sebutan itu biasanya ditabalkan di makam pemimpin-pemimpin besar seperti Tajmahal (India), Piramida (Mesir), dan Mausoleum Maossolos (Bodrum Turki).

https://ngrasanipacitan.files.wordpress.com/2013/02/20130206-210116.jpg

Setelah sekian lama memantik rimbunan ke-masyghul-an di tengah masyarakat, peneliti, akademisi, dan sejarahwan, akhirnya pada 20 Oktober 1990, peneliti dari Belanda, Willem G.J. Remmelink (1995:18), berhasil memecahkan sandi romantik nisan itu setelah melakukan penelitian cukup lama. Ia sekaligus berhasil mengungkap orang yang membangun nisan itu, yakni lelaki berkebangsaan Belanda yang bernama Marcus Jacobus van Erp Taalman-Kip, yang tak lain dan tak bukan adalah suami Djamijah. Ia lahir di Kota Woerden provinsi Utrecht Belanda, 16 Maret 1830.
Menurut Remmelink, puisi liris di nisan itu kira-kira berbunyi begini: “Untuk istri yang sangat kucintai, Djamijah. Terlahir 1873 meninggal 12 Desember 1901. O, Djamijahku! Bunga mawarku (rose of sharon). Bagaimana aku dapat mengungkapkan rasa cinta dan hormatku kepadamu? Seluruh dunia ini menjadi sempit bagiku. Apakah aku akan bertemu denganmu lagi? Seandainya ada kehidupan di alam baka, tentu kamu sekarang ini ada di surga. Kamu sungguh sangat baik dan begitu saja terlempari kotoran. Karena itu, aku akan menempuh jalan sulit melewati Golgotha dan menemuimu kembali. Sampai kita ketemu lagi!”  
Dentuman cinta dari seorang mandor kebun Hindia-Belanda kepada kekasihnya Djamijah terus kita saksikan hingga kini. Cinta yang bertaut-kelindan ini menghapus batas relasi kuasa, antara Hindia-Belanda yang berkuasa saat itu terhadap seorang perempuan pribumi yang telah dikawininya. Pada dasarnya, ia mudah saja memperlakukan Djamijah dengan seenak nafsunya, tapi tuan Kip masih menaruh rasa hormat dan rasa cinta yang mendalam. Salah satu bukti terkuat cintanya Kip kepada Djamijah adalah penggunaan idiom rose of sharon bagi Djamijah.
Rose of Sharon dikenal sebagai bunga nasional masyarakat Korea Selatan. Sifat bunga ini sederhana dan baunya sangat wangi. Bunga ini dipilih oleh masyarakat Korea Selatan sebagai simbol ketekunan, kelembutan, dan keteguhan di masa penjajahan Jepang (1910-1945). Kita dapat menginterpretasikan bahwa idiom itu dipilih oleh tuan Kip, karena ia menaruh rasa sayang dan rasa hormat karena kebaikan, kelembutan,  ketekunan, keteguhan, dan keharuman sifatnya.
Dan Suatu waktu, seorang tetangga di dekat Mausoleum Djamijah bertutur bahwa ada seorang bule yang usianya sudah tua dan pipinya keriput datang mengunjungi makamnya, ia membaca kembali sandi-sandi di atas nisan itu. Begitu membaca kalimat berikut ini, ia meneteskan air mata, lalu membalikkan badan dan segera kembali: “Kamu sungguh sangat baik dan begitu saja terlempari kotoran. Karena itu, saya akan menempuh jalan sulit melewati Golgotha dan menemuimu kembali”.
***
Djamijah memang bukan Julia. Taalman-Kip memang bukan Valentine. Tapi keduanya sama-sama merangkai kisah cinta yang sangat istimewa. Keduanya membangun sandi-sandi kehidupan yang tak dapat ditafsirkan hanya sekedar melalui kata-kata. Tubuh boleh saja dikubur. Claudius II boleh saja memenggal leher Valentine. Jarak boleh saja berpisah. Tapi genggaman cinta keduanya tak dapat dipisahkan siapapun, bahkan tuhan sekalipun.
Karena itulah, Rabindranath Tagore (1861-1941) pernah berkumandang melalui puisinya yang berjudul Tukang Kebun 28:
Jika hidupku hanya sebuah permata, akan dapat kupecahkan jadi seratus keping dan kurangkai jadi seutas rantai untuk kukalungkan di lehermu.
Jika ia hanya sekuntum bunga, bundar dan kecil dan indah, akan dapat kupetik dari batangnya, untuk kusematkan di rambutmu.
Tapi ia adalah hati, kekasihku. Di manakah pantai dan dasarnya?
Pertalian cinta Valentine dan Julia mengusik kegusaran Kaisar Roma, Claudius II. Sebab saat itu Kekaisaran Romawi sedang mengalami kemerosotan di bidang pertahanan dan keamanan, karena adanya pemberontakan masyarakat sipil. Ancaman lain dari luar muncul dari Turki, Mongolia, Slavia, dan Hun. Kemudian Kaisar merekrut para lelaki untuk diberangkatkan ke medan perang. Dan dibuatlah aturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah, karena bagi Kaisar, orang yang telah menikah dan memiliki hubungan cinta hanya akan melembekkan pertahanan di medan perang.
Tersebab Valentine melawan hukum yang telah dibuat oleh Kaisar, ia dipenjara dan diberi hukuman mati. Di saat-saat terakhir menjelang eksekusi, Julia mengatakan pada Valentine; “Apakah kau tahu apa yang kudo’akan setiap pagi? Aku berdoa agar aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang telah kau ajarkan padaku.”
Kemudian Valentine berkata kepala Julia dengan tenang; “Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya.”
Dan, cinta di dunia ini memang ada dan monumen-monumen cinta adalah bukti betapa cinta punya sejarah. Candi Prambanan adalah bukti cinta dari Bandung Bondowoso dan  Roro Jonggrang. Jabal Rahmah di Arab Saudi adalah bukti pertemuan cinta pertama Adam dan Hawa setelah diturunkan dari Surga.  Taman Gantung Babylonia adalah bukti cinta Raja Nabukadnezar II kepada istrinya Amytis. Dan Mausoleum Djamijah adalah bukti cinta abadi Taalman-Kip kepada Djamijah.
Maka sekali lagi, atas nama cinta, izinkan aku mengumandangkan puisi Tagore berjudul Tukang Kebun 29:
Bila kata-katamu berakhir, kita akan duduk tenang dan diam. Hanya pohon-pohon akan berbisikan dalam gelap.
Malam akan pudar. Hari akan merekah fajar. Kita akan saling bertatapan mata dan pergi menurutkan jalan kita masing-masing.
Bicaralah padaku, kekasihku! Ceritakan padaku dengan kata-kata apa yang kau nyanyikan.***

Sumber Gambar: https://ngrasanipacitan.files.wordpress.com/2013/02/20130206-210116.jpg

Tulisan ini dimuat di Jawa Pos Minggu, 22 Februari 2015


Artikel Terkait:

2 comments :

  1. Mr. Remmelink made a wrong identification of “Mr. Gip“.
    Marcus Jacobus van Erp Taalman Kip died on July 10th 1889 in Tjilatjap. He was 59 years old. Mr. Remmelink’s identification as the husband of Princess Djamija is thus incorrect. His wife Noertija applied for a widow’s pension in that year.
    The Mr. Van Erp Taalman Kip who died in 1903 was his oldest son, Marcus Willem Louis Hubert Frederik. But this also is a misinterpreted piece of information.
    De husband of Djamija, Princess of Mandailing, was the younger son Jan Louis. He was the plantation manager in Patjitan. Djamija was his second wife. Jan Louis divorced his first wife, Iboe Bok Gijem, with whom he had a son in 1891. After Djamija’s death in 1901 Jan Louis remarried in 1907 with Tan Sien No, with whom he had two daughters.
    With kind regards,
    Maarten Taalman Kip.

    ReplyDelete