Home » » Hijab, Puisi, dan Kitab Suci

Hijab, Puisi, dan Kitab Suci

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, March 26, 2015 | 11:41 PM


http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2014/08/05/3393/664xauto-6-atlet-muslimah-cantik-berhijab-dunia-1408050.jpg
  
Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

Hijab merupakan pengertian lain dari jilbab (Arab), kerudung (Indonesia), Chador (Iran), Pardeh (India dan Pakistan), Abaya (Irak), dan jubelan istilah lain dari berbagai negara yang tentu substansinya sama, yakni menutup aurat. Hijab merupakan istilah yang digunakan oleh peranakan Arab-Afrika, Yaman, dll.
Tulisan ini tidak akan membahas tutorial memakai hijab, apalagi memberikan pilihan paling syar’ie atau bahkan menyodorkan produk “hijab” layaknya iklan. Tidak. Tulisan ini ingin membuka tabir kebekuan ilmiah dalam kacamata sastra, sosial, dan budaya, perihal substansi menutup aurat bagi perempuan, yang selama ini seolah-olah jika tidak memakai “hijab” atau “jilbab” adalah bagian dari asfala saafiliin (berada di kerak neraka).

Budayawan Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun secara khusus menerbitkan antologi puisi berjudul Lautan Jilbab. Pada tahun 1988, Cak Nun mengadakan pentas keliling dengan judul yang sama, seolah-olah ingin menyodorkan terminologi subtantif jilbab yang seharusnya dipahami oleh mayoritas wanita Muslim di dunia. Bedanya, Cak Nun tidak membawa produk jilbab untuk dijual sebagaimana para pejuang hijab syar’ie belakangan ini.
Dalam salah satu puisinya, Cak Nun berkumandang:
Ribuan jilbab berwajah cinta
membungkus rambut
tumbuh sampai ujung kakinya
karena hakekat cahaya Allah
lalah terbungkus di selubung rahasia.
Bagaimana kita memaknai jilbab berwajah cinta? Jilbab adalah simbol kehormatan bagi wanita. Jilbab adalah benda metaforis yang dapat dimaknai sebagai cara wanita melindungi dirinya dari tebaran mata. Tentu mata yang juga metaforis. Akan tetapi, meskipun wanita punya cara melindungi dirinya dengan ketat melalui jilbab, wanita tetap punya cara untuk “menebar cinta”, kasih sayang, dan keharmonisan dengan sesama.
Hijab bukanlah penutup ekstrem untuk menciptakan batasan-batasan. Hijab bukan benda untuk membeda-bedakan, ini Muslim itu Kafir. Ini kelas elit, itu miskin. Ini beriman itu pendosa. Bukan. Hijab tak lain dan tak bukan sebagai media menemukan hakikat cahaya Allah di mana saja, dan melalui siapa saja. Jadi, tidak perlu fanatik apalagi nge-judge orang lain yang tidak memakai jilbab adalah kalangan celaka. Jika kita memutuskan untuk memakai jilbab, ya, pakailah! Jika tidak, itu hak kita sebagai manusia yang memiliki hak asasi.
Dalam konteks sosiologis, hakikat cahaya Allah melalui jilbab adalah prinsip menutup bagian-bagian yang membuat patologi sosial (social pathos), konflik sosial, dan kesenjangan sosial. Sehingga nilai-nilai cinta yang ditiupkan oleh jilbab mampu direalisasikan dalam kehidupan sosial, agama, dan berkebudayaan.  
Pada tahun 2006, seorang pakar arkeologi Iran, Muazzez Ilmiye Cig menulis sebuah buku berjudul My Reactions as a Citizen, menuliskan bahwa jilbab sudah berkembang semenjak peradaban Sumeria di Mesopotamia 5000 tahun lalu, jauh sebelum agama Islam lahir ke dunia. Menurut Muazzez, jilbab saat itu merupakan identitas pelacur Mesopotamia di kuil-kuil, untuk membedakannya dengan para biarawati. Memang Muazzez pernah digugat oleh banyak kalangan di Turki terkait pernyataannya tersebut. Akan tetapi pada akhirnya, pengadilan memvonis bebas untuknya.
Diakui atau tidak, jilbab merupakan tradisi agama-agama tertua di dunia yang sampai saat ini telah mengalami evolusi yang luar biasa. Jadi, hijab atau jilbab bukan hanya milik Islam. Pendapat ini dikuatkan oleh Eipstein, sebagaimana dikutip oleh Nasaruddin Umar, bahwa pakaian jilbab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), Code Hammurabi (2.000 SM), dan Code Asyiria (1.500 SM). Ketentuan menggunakan jilbab atau hijab telah berkembang di kota-kota tua seperti Babylonia, Mesopotamia, dan Asyiria (Kompas, 25/11/2002).
***
Sekali lagi, hijab atau jilbab adalah pakaian kehormatan perempuan, sebagaimana diterangkan dalam kitab suci. Dalam al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 59, berbunyi: "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.".
Penekanan (stressing) al-Qur’an atas jilbab berorientasi pada “identitas” dan “kehormatan”. Identitas diperlukan bukan untuk memberikan sekat atau ruang-ruang kesenjangan secara sosiologis, melainkan untuk saling menjaga agar identitas yang satu dengan yang lainnya tidak saling mengganggu. Identitas diperlukan agar saling menjaga nilai-nilai masing-masing serta menjaga kehormatan kelompok kita maupun kelompok orang lain, sehingga tidak terjadi benturan yang tidak diperlukan.  
Dalam 1 Alkitab-Bible 11:5 juga dijelaskan, yang berbunyi: “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.”
Tudung adalah nama lain dari hijab. Di bagian ini, orang yang tidak memakai tudung dianggap menghina kepala. Sedangkan kepala adalah lambang kehormatan bagi umat manusia. Berdo’a atau bernubuat secara terminologis meminta kepada tuhan, mengajak diri sendiri dan orang lain, sebagaimana tugas yang dilakukan oleh para nabi.
Dalam pemahaman umum kita, nabi adalah orang bijaksana yang memiliki tugas mengajak dirinya sendiri dan keluarganya menuju jalan yang harmonis. Jalan harmonis tentu tidak hanya kemewahan, kelengkapan fasilitas, tetapi ia bisa berada di ruang-ruang becek sekalipun. Ia tetap merasa terhormat meski berada di gorong-gorong jembatan untuk menebar kasih sayang, cinta, kehormatan, kemuliaan, dan kebenaran. Sebab itulah, dan dari gorong-gorong jembatan itulah Cak Nun kembali berteriak lantang: Jilbab-jilbab bertaburan tidak di langit tinggi/ Melainkan di bumi, tanah-tanah becek/ Teori pembangunan yang aneh/ Kemajuan yang menipu/ Jilbab-jilbab terserimpung di kubangan sejarah/ Melayani cinta palsu dan kecurigaan/ Cekikan yang samar/ Dan tekanan yang tak habis-habisnya/ Jilbab-jilbab dikambinghitamkan/ Bicaralah dengan bahasa kambing hitam!*** 


Sumber Gambar 1 : http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2014/08/05/3393/664xauto-6-atlet-muslimah-cantik-berhijab-dunia-1408050.jpg
 

·        
S


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment