Home » » Kucing dan Sakralitasnya

Kucing dan Sakralitasnya

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, March 30, 2015 | 10:06 PM

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin



Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku mengapa
panjang. Seekor kucing menjinjit tikus yang menggelepar
tengkuknya. Seorang perempuan dan seorang lelaki bergigitan.
Yang mana kucing yang mana tikusnya? Ngiau! Ah gang
yang panjang.

(Ngiau, 1999, Sutardji Calzoum Bachri)

Bila dua ekor kucing saling berteriak di tengah petang, biarkanlah! Mereka sedang berupaya memadu kasih, negosiasi, ta’aruf, dan berbujuk-rayu. Mereka akan berkejaran, petak-umpet, sambil berteriak “meeeooooonggggggg!” layaknya sepasang kekasih yang malu-malu mau.
Kucing merupakan binatang yang banyak disukai, dipelihara, bahkan belakangan ini kucing seringkali diternak dan dijadikan lahan bisnis yang menguntungkan. Pernahkah kita dengar mitos-mitos yang berkembang di kampung kita berkaitan dengan kucing? Bila kita sedang berkendara, lalu menabrak kucing, lalu kucing itu mati, tandanya kita akan celaka, kecuali kita menguburnya.

https://artkustiks.files.wordpress.com/2011/04/modern-cat-04.jpg


Di Jerman, tumbuh kepercayaan, apabila kucing hitam melompat di tempat tidur orang yang sakit, maka ajal akan segera datang. Di Jawa, kucing dengan bulu tiga warna lebih disukai, karena dipercayai membawa keberuntungan dan dapat menolak celaka. Dan bila ada orang yang meninggal, sementara rencana penguburannya masih esok hari dengan berbagai alasan, misal menunggu kerabat masih diperjalanan, jenazahnya diinapkan, biasanya dijaga semalaman, karena khawatir ada kucing yang melompat di atasnya.
Dalam mitologi Mesir kuno, kucing disebut sebagai dewi pelindung (bast), karena dewi bast sangat mirip dengan kucing. Dewi kucing juga dikenal sebagai dewi perawan, putri dari Dewa Matahari yang bernama Ra. Ia merupakan ibu dari Mihos.
Sekitar 5000 tahun Sebelum Masehi, kucing Afrika dijinakkan di Mesir untuk menjaga pangan dari serangan hewan-hewan lain seperti tikus. Karena manfaat kucing yang luar biasa, kerajaan Fir’aun Mesir kuno sempat melarang ekspor kucing, bahkan kerajaan menghadiahkan hukuman mati bagi yang melanggar.
Fir’aun bukanlah nama orang, melainkan nama gelar kehormatan semua periode Raja Mesir. Nama raja Fir’aun yang dimumi adalah Ramses III (1186-1155 SM). Ia merupakan Fir’aun kedua dari dinasti ke-20. Ramses III adalah putra dari Setnakhte dan ibunya Tiy-Merenese. Alasan terpenting bangsa Fir’aun menghormati kucing karena hewan lucu satu ini telah menyelamatkan bangsa Mesir dari kelaparan.
Yang menarik, beberapa waktu lalu, artefak kucing ditemukan di kota Alexandria Mesir berusia ± 4.000 tahun silam. Artefak itu menguatkan bahwa kucing dalam sejarah Mesir memang disembah. Kota Alexandria yang juga dikenal dengan Iskandariyah merupakan kota pelabuhan terbesar kedua di Mesir. Kota ini terletak sekitar 208 km sebelah barat laut kota Kairo.
Stephen Summer (1999) mengilustrasi dengan sangat bagus tentang kucing dalam film the Mumy. Dalam film itu, mumi berusaha menyerang sang tokoh, kemudian hancur lebur ketika melihat kucing. Tatapan matanya yang nanar memporak-porandakan mumi yang berusaha masuk dalam kamar, dan mumi hancur menjadi pasir di kamar itu. Adegan ini secara historis mengilustrasikan bahwa pendekar-pendekar dari Mesir, tidak akan menyerang dalam sebuah perang, apabila musuh mereka membunuh kucing di medan perang sebelum bertarung.
Dalam sejarah peradaban Islam, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw. juga memiliki seekor kucing yang bernama Mueeza. Karena saking sayang pada Mueeza, suatu waktu, ketika beliau hendak berangkat ke Masjid, Mueeza terlelap di atas jubahnya. Beliau hanya mengelus-elusnya tiga kali. Karena Mueeza tidak bangun, beliau memotong beberapa kain untuk dipakainya ke masjid.
Sebab itulah, Rasul begitu sayang terhadap kucing dan beliau sangat murka ketika ada orang yang menyiksa kucing. Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah.” (Shahih Muslim No.4160)
Abu Hurairah adalah gelar yang diberikan Nabi kepadanya, karena setiap ia bertemu dengan Nabi, selalu ditanya “apakah gerangan yang ada di lenganmu, sahabat?” lalu Abu Hurairah mengeluarkan seekor kucing kecil yang disayanginya. Sejak itu, lelaki yang memiliki nama lahir Abdu Syamsi itu diberi gelar Abu Hurairah (bapak para kucing jantan). Nama pemberian Nabi kepada Abdu Syamsi setelah masuk Islam adalah Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi. Kucing memang hewan biasa yang bermakna tidak biasa. Kucing telah hidup ribuan tahun yang lalu. Kucing merupakan lambang keamanan, keharmonisan, dan kasih sayang.
Tetapi zaman post-modernisme telah mengubah hal ihwal paradigma orang tentang kucing, meskipun paradigma ini hanya bekerja di dunia persepsi. Film animasi Tom and Jerry telah mendekontruksi persepsi umum bahwa kucing yang secara kodrati dan alamiah semenjak zaman ekumene 5000 tahun yang lalu, selalu menang sama tikus, dalam film ini ia kalah. Tikus (Jerry) dihadirkan sebagai sosok kecil yang lebih cerdik dari kucing (Tom).
Munculnya film itu dapat pula ditandai sebagai bangkitnya kaum minoritas, sub-altern, dan orang-orang pinggiran yang selalu kalah. Para pemangku kekuatan, kelompok mayoritas, mengalami kekalahan karena sikap-sikap terlena dan gegabah, seperti Tom.
Kisah dalam film animasi ini digarap oleh dua orang animator, William Hanna (1910-2001) dan Joseph Barbera (1911-2006). William Hanna adalah seorang produser, sutradara dan kartunis Amerika Serikat. Ia pernah kuliah Camton City Collage, tetapi tidak selesai. Ia mengalami depresi yang luar biasa. Di tengah-tengah depresi, ia bekerja serabutan sambil mengembangkan potensinya, dan ia menemukan kembali hidupnya setelah bergabung dengan studio animasi Harman and Ising pada tahun 1930.
Joseph Barbera adalah seniman kartun Amerika Serikat, artis, dan produser. Ia menjalani masa muda, sekolah, hingga dewasa di kota New York. Di tengah kesibukannya sebagai seorang Bankir, ia terus menerus mengasah kemampuannya di bidang kartun. Dan menjumpai keberhasilan yang luar biasa setelah kartun hasil ciptaannya disukai banyak orang di seluruh dunia.
Film serial kartun Tom and Jerry adalah film animasi yang paling banyak menerima penghargaan, salah satunya piala Academy Award (Piala Oscar).

***
Bagaimana pun kucing tetaplah kucing. Ia tetap menjadi hewan lucu yang kadang disenangi dan kadang pula dibenci. Kucing juga tak luput dari radar penglihatan penyair terkemuka Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Pada tahun 1995, presiden penyair itu menulis sebuah puisi berjudul Kucing, yang berbunyi:  
Ngiau! Kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber
gegas lewat dalam aortaku dalam rimba
darahku dia besar dia bukan harimau bu
kan singa bukan hiena bukan leopar dia
macam kucing bukan kucing tapi kucing
ngiau dia lapar dia merambah rimba af
rikaku dengan cakarnya dengan amuknya
dia meraung dia mengerang jangan beri
daging dia tak mau daging Jesus jangan
beri roti dia tak mau roti ngiau ku
cing meronta dalam darahku meraung
merambah barah darahku dia lapar 0
alangkah lapar ngiau berapa juta hari
dia tak makan berapa ribu waktu dia
tak kenyang berapa juta lapar lapar ku
cingku berapa abad dia mencari menca
kar menunggu tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri da
ging jangan beri nasi tuhan mencipta
nya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang seha
ri untuk kenyang sewaktu untuk tenang.

Sutardji sadar benar bahwa dalam dirinya ada kekuatan, keperkasaan, kewibawaan, kemampuan melindungi, bahkan kebuasan yang lapar. Namun kebuasan yang lapar itu tak butuh sesuatu yang fisik, tak butuh yang sementara, tak butuh yang imanen, dia lapar jangan beri daging/ jangan beri nasi tuhan menciptanya/ tanpa setahuku dan kini dia minta/ tuhan sejemput saja untuk tenang sehari/ untuk kenyang sewaktu untuk tenang. Kucing buas yang lapar itu hanya bisa jinak dengan kejinakan tuhan.
Tentu Sutardji hanya mengungkap satu bagian saja dari sifat ke-kucing-an—lebih tepatnya kehewanan--manusia. Apakah kucing dalam diri itu benar-benar akan berteriak-teriak, meronta tanpa henti, menyerang di seluruh aliran darah kita, tanpa bisa dikendalikan oleh sifat ketuhanan dalam diri? Atau kucing-kucing justeru saling mangsa dalam diri, memangsa tikus-tikus diri, bahkan memangsa tuhan dalam diri sehingga pada akhirnya kita menyembah kucing dalam diri itu?
Aku (lirik) benar-benar menjadikan diri sebagai miniatur dunia. Kucing-kucing itu telah merambah lembah Afrikaku, yang bisa juga merambah lembah Palestinaku, Timur Tengahku, Eropaku, Amerikaku, dan lembah Asiaku. Kucing-kucing itu bukan leopar, bukan jet tempur, bukan tank-tank, bukan persenjataan yang dicipta untuk meluluhlantakkan manusia lain. Tapi senjata-senjata celaka itu dikendalikan oleh kucing-kucing buas yang tak mau diberi makan roti, nasi, bahkan tidak mau diberi makan Jesus dan Muhammad. Kucing-kucing itu hanya butuh tangan tuhan untuk tenang. Entah tangan tuhan yang kasar yang berupa bencana alam atau tangan tuhan yang lembut alias hati mereka ditenangkan.
Bukankah begitu bang Tardji?
Ternyata, setiap orang di dunia ini sedang memelihara kucing-kucing mereka sendiri dalam diri. Kucing-kucing itu memiliki peran yang signifikan dari cara kita membesarkannya. Jika kita membesarkan dengan cinta, kucing-kucing itu seperti dewi bast yang dapat melindungi dari celaka. Jika kucing-kucing itu dipelihara dengan amuk, kucing-kucing itu akan terus menerus ngamuk, melalui sikap, perilaku, dan cara kerja sosial kita. Karena itu, saya setuju pada sebuah pepatah Arab yang berbunyi: idza kaana qalbuka wardatan/ fakullu ma yakhruju min famika yakuunu mu’thiran artinya jika hatimu adalah bunga mawar/ maka yang keluar dari mulutmu pastilah keharuman wangi-wangian.***


Sumber Gambar : https://artkustiks.files.wordpress.com/2011/04/modern-cat-04.jpg


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment