Home » » Matahari Perdamain Dari New Delhi

Matahari Perdamain Dari New Delhi

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, March 23, 2015 | 7:01 AM




http://www.iloveindia.com/indian-heroes/pics/mahatmagandhi.jpg

30 Januari 1948, matahari perdamaian dunia, Mahatma Gandhi menghembuskan nyawa karena dibunuh oleh penganut Hindu ekstrem Muhasabha, Nathuram Godse dan rekan-rekannya: Narayan Apte, Vishnu Karkare, dan Madanlal Pahwa.
Sang pembunuh tidak suka, tersebab menurutnya inspirator yang dikremasi di New Delhi ini terlalu getol membela kaum minoritas, termasuk kaum muslim di India.  

Narasi besar yang dinyanyikan Gandhi adalah “jiwa agung” dan “membela jalan kebenaran”. Ia sangat membenci diskriminasi, ketidakadilan, dan rasisme.
Pengalaman penting yang memupuk embrio perjuangan Gandhi tak lain dan tak bukan ketika ia hijrah ke Natal, Afrika Selatan.
Di sana, ia merasa menjadi korban rasisme dan perlakuan tidak adil atas hak-hak para pekerja India. Ia pernah diusir dari kompartemen kereta kelas satu dan ditendang disuruh keluar.
Baginya, belajar dari pengalaman pahit menjadi pelajaran paling penting. Menyimpan amarah dan mengubah amarah itu menjadi energi, lalu amarah yang terkendali dapat diubah menjadi kekuatan besar yang dapat menggerakkan dunia.
Itulah sebabnya, Gandhi menjadi guru besar yang berpengaruh bagi tokoh sekaliber Jawaharlal Nehru, Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, Gusdur, dll.
Inti pemikiran Gandhi memiliki kecenderungan spiritual, menempatkan intuisi sebagai sarana memperoleh kebenaran; bersifat monistis; selalu mempertimbangkan hal-hal yang bersifat tradisional dan bersedia menerima komentar-komentar dari para pemikir, serta berupaya membumikan ajaran-ajaran spiritualitasnya (David, 1984:76).
Kesederhanaan tidak hanya mewarnai gagasan-gagasan dan gerakannya, melainkan menjadi perilaku nyata sehari-hari. Tuhan bagi Gandhi, sebagai energi kebenaran dan kasih sayang. Tuhan adalah etika dan moralitas. Gerakan-gerakan politiknya tak lain sebagai aksentuasi dari nilai-nilai yang berkecamuk dalam pemikirannya, sehingga membentuk kesederhanaan hidup yang dilingkupi “kebenaran”.
Kehadiran Tuhan bagi Gandhi tercermin dalam sebuah realitas sosial. Realitas yang mengandung keadilan dan ketidakadilan. Secara mendasar, ia mempersoalkan kehadiran Tuhan dalam realitas diskriminatif, kotor, jijik, miskin, kumal, dan sebagainya dalam institusi agama dan negara.
Gandhi yakin “Tangan Tuhan” tidak semata-mata berkutat di tempat-tempat ibadah yang “suci” dan elit. Tangan Tuhan menyentuh seluruh lapisan masyarakat miskin yang kumuh dan kelaparan. Itulah landasan pertama,  ahimsa, dalam pemikiran Gandhi yang menguatkan spiritnya untuk mengangkat hak tangan-tangan “kotor” dan kumuh menjadi mulia di hadapan hukum. Jiwa ahimsa adalah jiwa yang menolak kekerasan terhadap semua makhluk. (Gandhi, 1982:66). 

http://media2.intoday.in/indiatoday/images/Photo_gallery/mahatma%20gandhi_070811092419.jpg

Gandhi menulis dalam catatan hariannya: “Saat itu tak ada orang Eropa yang bersedia membantu membalut luka mereka...Kami harus membersihkan luka-luka orang Zulu yang tidak dirawat, setidaknya setelah lima atau enam hari yang lalu, karena itu luka-lukanya membusuk dan sangat menakutkan. Kami menyukai pekerjaan kami.
Kedua, prinsip satyagraha merupakan prinsip keteguhan hati dan jiwa untuk berpegang teguh pada kebenaran. Tentu kebenaran hanya bisa dirasakan melalui hati nurani, bukan indera luar yang mudah terkontaminasi oleh godaan-godaan ambisi. Tetapi Gandhi berupaya menerjemahkan keteguhan itu ke wilayah sosial, politik, agama, pendidikan, dan buadaya. Jiwa satyagrahi adalah jiwa yang kokoh, teguh, dan tak dapat dibeli dengan materi (korupsi).
Ketiga, prinsip bramkhacharya (mengendalikan nafsu seksual). Nafsu seksual adalah simbol dari sifat kebinatangan manusia. Menurut Gandhi, jika nafsu kebinatangan bisa dikendalikan, baik di ranah sosial maupun politik, maka kesewenang-wenangan, ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi bisa dipastikan diminimalisir dari realitas sosial.
Jika ada bangsa lain yang menindas dan menyakiti, tentu perlawanan yang paling tepat bukanlah perlawanan melalui kekerasan. Bagi Gandhi, kekerasan yang dibalas dengan kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Dan kekerasan baru itulah yang nantinya akan membentuk rezim baru yang justeru lebih keras.
Keempat, prinsip Swadesi yakni upaya menguatkan identitas bangsa yang kuat. Gandhi berupaya “memboikot” produk-produk Inggris sebagai penjajah, kemudian menggerakkan masyarakat India untuk mengolah kreativitas yang bersumber dari bahan baku alam India. Harapannya adalah agar masyarakat India back to nature membangun kekuatan ekonomi mandiri yang berbasis kerakyatan.
Sebab itu pula India disegani oleh bangsa-bangsa Amerika dan Eropa karena menyamai China, menjadi penyuplai bahan baku terbesar di dunia. Bahkan sang penasehat Gedung Putih, Samuel Huntington (2000:54) mengkategorikan sebagai negara yang “berbahaya” bagi peradaban Amerika dan Eropa.
***
30 Januari 1948 lalu adalah hari yang redup bagi masyarakat India. Kematiannya adalah kabar buruk bagi perdamaian dunia. Tetapi meskipun abu kremasi Gandhi sudah bertabur, pemikiran-pemikirannya tetap berkibar di seluruh dunia.
Sebuah buku yang secara khusus ditulis oleh Manohar Malgonkar “The Men Who Killed Gandhi” telah menginspirasi sutradara terkenal Siddharth Sengupta. Ia memproyeksikan buku itu di layar lebar yang ditayangkan bulan Januari 2014 lalu.
Semoga dengan proyek itu, ajaran-ajaran Gandhi tetap bisa terealisasi dalam kehidupan sosial, politik, pendidikan, agama, dan ekonomi di seluruh dunia. Boleh saja seorang tokoh itu mendahului kita, tapi ajarannya tak dapat dilupakan begitu saja.***

Sumber Gambar 1 : http://www.iloveindia.com/indian-heroes/pics/mahatmagandhi.jpg
Sumber Gambar 2 : http://media2.intoday.in/indiatoday/images/Photo_gallery/mahatma%20gandhi_070811092419.jpg 


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment