Home » » Perisai Ketiga Keraton Yogyakarta

Perisai Ketiga Keraton Yogyakarta

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Tuesday, March 31, 2015 | 6:28 PM




https://goblokku.files.wordpress.com/2011/11/hamengkubuwonoiii.jpg

20 Februari 1769, untuk pertama kalinya, Raden Mas Surojo lahir ke dunia. Laki-laki gagah putra mahkota Sri Sultan Hamengku Buwono II ini kelak menjadi penerus Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat setelah ayahnya dipaksa turun oleh Herman Willem Dandels (periode 1) dan ketika ayahnya diasingkan ke Pulau Pinang oleh Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (periode 2). Pulau Pinang merupakan negara bagian terkecil Malaysia setelah Perlis. Pulau ini memiliki luas wilayah 293 km².
Rafles adalah seorang warga negara Inggris, Gubernur Jendral Hindia Belanda yang paling besar. Ayahnya Kapten Benjamin Raffles, pedagang budak di kepulauan Karibia. Ia berhasil menduduki tanah Jawa setelah menundukkan Belanda pada tahun 1811. Raffles merupakan salah satu buruh Perusahaan Hindia Timur Britania di London. Namun pada tahun 1805, Raffles dikirim ke pulau Pinang.

Perusahaan Hindia Timur Britania merupakan asosiasi usaha yang diberikan Raja Elizabeth I pada tanggal 1 Desember 1600, untuk menolong hak usaha India, yang kelak perusahaan ini beralih fungsi menjadi sebuah pemerintahan dan pertahanan militer untuk menghegemoni negara.  
Di usianya yang ke-41, Raden Mas Surojo menggantikan ayahnya Hamengku Buwono II pada tahun 1811 yang dipaksa mengundurkan diri oleh musuh londonya Herman Willem Daendels (1762-1818). Raden Mas Surojo yang mendapat julukan Hamengku Buwono III didaulat sebagai wakil Raja atau regent.
Willem merupakan seorang pemberontak di Belanda yang melarikan diri ke Prancis. Dalam pelariannya, ia menyaksikan dari dekat peristiwa Revolusi Prancis yang terjadi 1789-1799. Saat itu ia bergabung dengan Pasukan Batavia hingga berpangkat Jendral. Pada 28 Januari 1807, atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte (1769-1821), Willem dikirim ke Hindia-Belanda. Willem pun tiba di Batavia setelah kapalnya bersandar di Pulau Kenari pada 5 Januari 1808. Ia menggantikan Gubernur Jenderal Albbertus Weise (1761-1810).
Sikap Willem memang amat keras terhadap Raja-Raja Jawa. Ia menginginkan agar Raja-Raja Jawa mengakui kedaulatan Raja Belanda serta memaksa agar Raja-Raja Jawa meminta perlindungan kepada Raja Belanda. Keraton Solo dan Yogyakarta diganti dari keresidenan menjadi menester. Willem menginginkan agar Raja-Raja Jawa menjadi wakil dari Raja Belanda di Jawa. Willem pun melarang keraton membangun hubungan bilateral dengan negara lain. Tetapi keinginan ini menimbulkan perlawanan yang hebat dari para Raja di Jawa, termasuk perlawanan dari Sri Sultan Hamengku Buwono II saat itu.
Situasi sosial politik pulau Jawa tahun 1811 mengalami hiruk pikuk. Situasi ini membuat saya teringat puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul Berdarah:
hari ini aku berdarah. kapak hitam menakik almanakku pecahlah rabuku
mengalirlah pecahlah seninku mengalirlah pecahlah selasaku mengalirlah
pecahlah jumatku mengalirlah
darah mengalir dalam denyut dalam debar.
Seluruh Jawa menjadi pertarungan setiap interest para koloni saat itu. Rombongan Perusahaan Hindia Timur Britania berhasil merebut kota pelabuhan Batavia dari tangan Hindia Belanda. Stamford Raffles diangkat sebagai Gubernur Jenderal di Jawa. Ia membebaskan kepemilikan tanah dan memperluas jaringan perdagangan. Situasi ini dimanfaatkan oleh Hamengku Buwono II untuk mengambil alih kembali kekuasaannya dari Hamengku Buwono III di akhir tahun 1811.
Peralihan tersebut menjadi periode kedua pemerintahan Sultan Sepuh. Pada peridode ini muncullah permusuhan antara Sultan Sepuh dengan Raffles. Perlawanan Sultan Sepuh dibocorkan oleh Secadiningrat pada Pemerintahan Inggris, bahwa Sultan mempersenjatai diri dan membuat pemerintahan Inggris sangat berang. Pecahlah pertempuran di Yogyakarta. Sampai pada akhirnya, Sultan Sepuh diasingkan. Kemudian Hamengku Buwono III berkuasa kembali. Tetapi pada masa ini kedaulatan Yogyakarta dikebiri dan akhirnya harus setuju pada tiga ketentuan.
Pertama, Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang, dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setiap tahun. Kedua, Angkatan perang Yogyakarta diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton saja. Ketiga, Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa mendukung Raffles, dan diangkat menjadi Paku Alam I.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/33/Kraton_Yogyakarta_Pagelaran.jpg

Tiga ketentuan itu memang sangat menyakitkan bagi Kerajaan Yogyakarta yang secara de facto memiliki kedaulatan penuh setidaknya hingga tahun 1798. Hubungan dengan para koloni pada mulanya sebatas mitra belaka. Namun api perlawanan itu kelak bergulir pada titisan Hamengku Buwono III dari selir berdarah Sumenep Madura, R.A. Mangkarawati yang tersohor dengan nama Pangeran Diponegoro.
Mungkin banyak orang membangun persepsi, seandainya Notokusumo tidak mendukung Raffles, tentu Yogyakarta saat itu tetap berada dalam singgasana kejayaan dan keluasan wilayahnya. Untuk itulah, benar juga pepatah bijak orang Jawa : Rukun agawẻ sentosa, crah agawẻ bubrah, artinya rukun membuat kita kuat, bertengkar membuat rusak. Pengertian lebih luas adalah jika rakyatnya rukun membuat negara kuat, jika bertengkar membuat negara rusak. 


Sumber Gambar 1 : https://goblokku.files.wordpress.com/2011/11/hamengkubuwonoiii.jpg
Sumber Gambar 2: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/33/Kraton_Yogyakarta_Pagelaran.jpg


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment