Home » » Surat Dari Seorang Murid Masola

Surat Dari Seorang Murid Masola

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Sunday, March 15, 2015 | 11:05 PM



 
Dan cinta adalah nyawa
engkau boleh mengatasnamakan apa saja
tetapi yang tumbuh di dada ini
adalah pohon cahayanya
tebanglah
jika engkau sanggup menanggung perihnya

(Zainal Arifin Thaha, Cinta Adalah Nyawa, 1996)

Gus, salam ta’dzim. Surat ini ditulis oleh murid yang selalu merindukan seorang guru bersahaja yang benar-benar berusaha mengorbitkan semua murid-muridnya menjadi orang bermanfaat, minimal diri sendiri dan sesamanya. Hanya melalui surat ini kami bisa menyampaikan kerinduan kepadamu. 


http://4.bp.blogspot.com/-WZEnNTxcft4/Tlrx81wEoFI/AAAAAAAAAYo/NhqUErx9CbE/s300/Gus%2BZainal%2BArifin%2BThoha.jpg



Suatu waktu engkau pernah menasihati kami: berbuatlahlah meskipun sedikit, dari pada kamu berangan-angan ingin bertindak banyak. Ya, ternyata action itu lebih penting daripada hanya berangan-angan layaknya para penyair gagal itu. Apalagi berangan-angan ingin menulis puisi, cerpen, novel yang dahsyat, tetapi kenyataannya tak ditulis-tulis pula.
Murid-muridmu memang banyak yang menjadi penulis, Gus. Karya-karya mereka bertebaran di seluruh media massa di negeri ini. Setiap huruf dan kata-kata yang berpendar di lembaran-lembaran koran minggu itu, sejatinya mereka sedang mengibarkan bendera namamu. Hingga saat ini, saya masih belum percaya jika engkau ini sudah meninggal, Gus. Engkau masih hidup, minimal di dalam hati kami dan hati setiap orang yang pernah merasakan sejuk air kebaikanmu.
Gus, masih ingat kan? Bagaimana ayammu yang dipelihara oleh penyair dan esais hebat Ridwan Munawar, hanya karena sakit sedikit, lalu kami sembelih bersama-sama? Haaa, itu adalah bagian dari tingkah muridmu yang masola (nakal). Engkau hanya menegur kami begini “Lho, mana ayam satunya kok tinggal tiga?” lalu kami dan teman-teman dengan muka tanpa bersalah menjawab “Sudah disembelih, Gus! Ayamnya sakit.”
Engkau hanya menimpali “Ya, jangan gitu rek! Kalau mau nyembelih itu ya ngomong. Kan enak kalau disembelih bersama-sama dan dimakan bersama-sama.” Saat itu yang memutuskan untuk menyembelih biar saya sebutkan di sini Gus. Ada cerpenis hebat Mahwi Air Tawar, Fauzi Abdur Rahman (bagian rempah-rempah), saya bagian menguliti bulunya, sementara Yunus BS, yang sekarang jadi kiai kondang di Masalembu, tukang sembelihnya, Gus.
***
Gus, setiap malam tak bosan-bosan engkau mengadakan evaluasi kepada kami, baik berkaitan dengan intelektualitas, spiritualitas, dan profesionalitas. Tiga jargon yang selalu engkau sodorkan kepada kami dan bagaimana cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kami ingat betul, bagaimana santri-santrimu yang nakal itu beraksi. Ketika engkau siap mengisi pengajian bersama kami. Engkau membawa secangkir kopi dan sebungkus rokok. Pengajian berlangsung selama satu jam. Setelah itu engkau buka sesi tanya jawab. Di tengah-tengah sesi itu, dipanggil dari rumah utara, bahwa ada telpon yang harus engkau terima.
https://c2.staticflickr.com/4/3195/2494714454_a8a9e521cd.jpg

Kemudian setelah kembali lagi ke majlis pengajian di pondok, kopi yang pada mulanya tinggal separuh telah habis dan rokok yang pada mulanya tinggal lima batang tinggal satu batang. Siapa yang minum kopi dan merokok? Tanyalah pada Rahmat, Affas, dan kawan-kawan. He He. Betapa bengal santri-santrimu itu, Gus. Tapi tak sedikitpun teronggok rasa marah di raut wajahmu.
Dan suatu hari, engkau kehilangan sarung dan kaos di tempat jemuran depan pondok. Setelah hari berikutnya ternyata sarung dan kaos itu dipakai oleh sastrawan Ridwan Munawar, hehehe, tetapi saat itu engkau justeru tertawa dan bilang “Wah, kaos dan sarung itu dicari dari kemarin, ternyata kamu yang memakai, Wan. Ah, bisa saja kamu ini.”
Memang banyak sekali kisah yang berkaitan dengan Ridwan. Ia termasuk santri paling rajin menjalankan program jualan bukumu di kampus-kampus, Gus. Tapi terus terang saja, lama-lama saya pun penasaran, kenapa anak ini rajin sekali berangkat jualan buku di UAD Sastra. Ternyata, seminggu kemudian mulai terkuak. Selain jualan buku, Ridwan juga ikut pencak silat di kampus itu. hehehe.
***
Gus, sulit sekali kami mendapat ganti sosok sepertimu. Pepatah hilang satu tumbuh seribu itu tak terbukti bagi kepergianmu. Sampai saat ini engkau tak tergantikan. Teman kami yang bernama Saifulllah, telah mengabadikan namamu menjadi nama anaknya : Zainal Arifin Thaha. Itu sebabnya, setiap kami datang ke rumahnya, kerinduan kami tumbuh lagi.
Semoga engkau selalu tenang dan bahagia di sana, Gus! Meski bagian-bagian tertentu mulai runtuh dan dimiliki orang lain. Ajaran-ajaranmu tetap berkibar sampai kapanpun. Kepergianmu delapan tahun lalu sejatinya sedang mengalami puisi yang engkau tulis sendiri. Puisi itu berjudul Ciuman Terakhir Menjelang Kematian:
Di bawah matahari terik yang meledak-ledak
keringat begitu deras melumuri tangan malaikat
dan aku yang terpingsan-pingsan dekat jendela
memandang wajahmu dalam gaib asmaradana
“Tuhan, beri aku ciuman, sebelum nyawa meregang
Meninggalkan tanah sorga yang jalang rupawan.”

Dan malaikat mulai lingsir ke sebelah wuwung
malaikat merayap-rayapkan tangan
mencari letak nyawa
tangis begitu mengharap
hingga ini kamar bagai debur gelombang
tangan menggapai-gapai
meraih alam lain yang penuh camar
“Tuhan, beri aku ciuman, biar segera lesat
ini sukma
dan terlemparlah bangkai badan dari biru semesta.”


Sumber Gambar 1: http://4.bp.blogspot.com/-WZEnNTxcft4/Tlrx81wEoFI/AAAAAAAAAYo/NhqUErx9CbE/s300/Gus%2BZainal%2BArifin%2BThoha.jpg

Sumber Gambar 2 : https://c2.staticflickr.com/4/3195/2494714454_a8a9e521cd.jpg


Esai ini dimuat di Merapi, 15 Maret 2015



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment