Home » » Topless, Akun Esek-Esek, dan Sastra

Topless, Akun Esek-Esek, dan Sastra

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, April 15, 2015 | 9:40 PM


http://4.bp.blogspot.com/_gUN3UX5W2gw/TNAIDGs-ShI/AAAAAAAAAF0/4fXqYyAAL2Q/s640/lukisan+unik.jpg
Sejak kecil saya tidak menetek pada Ibu, tapi menyusu pada penis ayah---itulah kalimat topless dalam tokoh Nayla di sebuah cerita karangan Djenar Maesa Ayu. Apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Djenar adalah bagian dari sebuah kritik terhadap situasi sosial masyarakat kita yang mengalami shock culture di zaman Gadget ini. Meski tentu saja sebagian kecil memutuskan kembali ke zaman batu alias akik.
Beredarnya foto topless duo serigala adalah salah satu bukti betapa tubuh tidak hanya dieksplorasi melalui karya sastra sebagaimana yang dilakukan Djenar, tetapi tubuh dieksplorasi melalui kamera handphone, kemudian disebarkan kepada publiknya. Akun esek-esek Tata yang belakangan dihabisi oleh pelanggannya karena mengiklankan dirinya melalui sebuah media sosial.

Apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh orang-orang ini melalui politik pasar tubuhnya? Teori yang sangat sederhana dapat membacanya sebagai sebuah model distribusi baru, sebab masyarakat kita mulai dekat dengan dunia online. Kita bisa melihat, betapa segala kebutuhan di rumah, mulai dari buku, pizza, kopi, baju, hingga tubuh perempuan murahan dapat didapatkan melalui jaringan online, asalkan kita mau dan punya uang.
Pada tahun 2000-an, penyair Binhad Nurrahmat telah mengilustrasikan fenomena ini melalui puisinya yang berjudul Rakyat ML:
Jika rakyat make love (ML) 3 kali seminggu, maka rakyat ML 12 kali sebulan dan 144 kali setahun. Jika rata2 rakyat menikah sejak usia 25 thn, maka rakyat usia 50 thn rata2 pernah ML 3.600 kali. Jika jumlah pasutri 100 jt, maka terjadi 300 jt ML seminggu. Statistik ini tidak termasuk jumlah rakyat ML pra-nikah, poligami/poliandri, free-sex, dan yg selingkuh. Lanjutkan! Lebih sexy lebih baik!
Tetapi tak perlu risau saudara-saudara! Dunia ini terus mengalami perubahan. Naluri dasar manusia adalah melawan. Ketika aturan hukum dibuat sedemikian rupa untuk sebuah norma, maka ada saja manusia-manusia lain yang berupaya untuk melawan dan melanggar aturan itu. Jadi, biarlah manusia itu berada dalam dunianya yang bebas, toh pada akhirnya mereka mengetahui, mana yang bermanfaat bagi dirinya dan yang mencelakakan dirinya. Kenyataan itu sesuai dengan pernyataan Nabi Muhammad SAW : man amila man alima, allamallahu ma lam ya’lam artinya barang siapa yang mengaplikasikan segala sesuatu yang telah diketahuinya, Tuhan akan menambahkan pengetahuan-pengetahuan baru yang belum diketahuinya.

Sumber Gambar: http://4.bp.blogspot.com/_gUN3UX5W2gw/TNAIDGs-ShI/AAAAAAAAAF0/4fXqYyAAL2Q/s640/lukisan+unik.jpg



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment