Home » » Mengenang Sa’di!

Mengenang Sa’di!

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, May 28, 2015 | 10:45 PM

Hafiz
Sumber gambar: kilahgabrin
Oleh : Salman Rusydie Anwar*

Lelaki itu biasa dipanggil Sa’di. Ia berasal dari Shiraz dan kemudian popular dengan sebutan Sa’di Al-Shirazi. Melihat kesehariannya, sama sekali tidak tampak bahwa dia sebenarnya adalah seorang darwis yang menghabiskan hari-harinya dalam pengabdian yang total kepada Tuhan. Potongan tubuhnya kurus dan kering. Apalagi jubah yang dikenakannya penuh tambalan, sehingga siapapun yang menyaksikannya pasti akan berguman betapa dia tidak lebih dari seorang lelaki yang lemah.

Ya, Sa’di memang kelihatan seperti lelaki tua yang rapuh. Ia pernah menjadi tawanan dan menjalani hukuman kerja paksa di Tripoli bersama orang-orang Yahudi. Namun sesungguhnya dia adalah orang yang sangat dihormati dan dicintai oleh para penguasa di kota kelahirannya.

Kharismanya yang begitu kuat pernah memaksa seorang perdana menteri kota Tabriz, Syamsuddin, turun dari atas keretanya ketika mengadakan pawai kerajaan. Sang perdana menteri menerobos kerumunan orang-orang dan kemudian menghampiri Sa’di, mencium dengan penuh takdzim tangan lelaki renta itu.

Bahkan konon, penguasa Hulaku Khan yang terkenal dengan julukan ‘Sang Penakluk Dari Mongol’ tersedu-sedu mendengar untaian nasehat-nasehat bijak yang dikemukakan Sa’di secara puitis kepadanya;
“Hanya perbuatan baiklah yang bisa menolong Anda, Tuan. Terserah kepada Anda, apakah mau mengumpulkan perbuatan baik atau perbuatan buruk,” demikian kata Sa’di.

Betapa sederhananya nasihat itu. Bahkan saat ini kita bisa mendengar kata-kata yang sama diucapkan ratusan kali setiap hari oleh para tokoh agama, ustadz dan rohaniawan yang tak pernah kosong mengisi acara-acara di televisi.

Namun, apakah suara-suara kebenaran dan kebijaksanaan mereka mampu membuat si pendengarnya merasa tersentuh hingga kemudian menitikkan air mata sebagaimana yang terjadi pada Hulaku Khan? Saya belum melihat yang seperti itu. Bukan pada persoalan gaya bahasanya, tetapi lebih kepada siapa yang mengucapkannya. Lebih jelasnya, saat ini sulit menemukan figur tokoh agama yang memiliki kepribadian ruhani cemerlang sebagaimana Sa’di.
sa'di
Sumber Gambar: cercerichan

Bila penguasa seperti Hulaku Khan dan juga Syamsuddin hatinya begitu mudah tersentuh hanya oleh untaian kata-kata bijak, justru saat ini kita sulit menemukan sosok penguasa yang memiliki sensitivitas yang sama sebagaimana mereka berdua.

Satu hal yang bisa kita catat, bahwa sebenarnya kita tidak pernah kekurangan tokoh-tokoh yang bisa menjadi penyampai suara-suara kebenaran. Kita juga tidak pernah kekurangan penyair yang mampu menulis sajak indah perihal apa saja, termasuk kebijaksanaan. Bukan sekadar soal anggur dan rembulan sebagaimana kata Rendra.

Namun, kita kekurangan tokoh dengan ‘prestasi’ spiritual macam Sa’di. Kita juga kekurangan pemimpin dan figur-figur yang hatinya amat dengan cepat tersentuh bahkan ‘menangis’ oleh seruan-seruan kebijaksanaan itu, apalagi hanya dengan seuntai sajak sebagaimana sering dilakukan Sa’di di masanya dulu.

Begitu sulitkah kita mendapatkan pemimpin yang memiliki hati lembut sehingga mudah tersentuh oleh bahasa kebenaran betapapun sederhananya bahasa itu?

Mungkin tidak. Hanya saja, saat ini, factor yang membuat mereka mudah ‘tersentuh’ bukan lagi oleh melulu kebenaran, kebijaksanaan, kearifan, melainkan oleh kepentingan-kepentingan dan juga ambisi kekuasaan.

Saban hari kita dipaksa menyaksikan perseteruan para kaum elit yang sayangnya perseteruan itu lebih disebabkan oleh kepentingan-kepentingan politis-kekuasaan. Kenyataan inilah yang kita khawatirkan dapat membuat hati mereka makin tidak mudah ‘tersentuh’ oleh kebenaran, termasuk oleh fakta-fakta social yang secara gamblang berbicara bahwa masih ada penderitaan dan cucuran air mata kesedihan disana-sini yang seyogyanya harus mereka tanggapi dengan hati yang penuh limpahan rasa sayang, empati dan kepedulian yang tinggi.

Konon, khalifah Umar bin Khattab ra, rela memanggul sendiri sekarung gandum untuk diantarkan kepada rakyatnya, seorang ibu yang merebus sebongkah batu demi membohongi anaknya yang tak berhenti menangis karena kelaparan. Ketika pengawalnya berniat ingin membantu, sang khalifah menolak sambil berujar singkat;

“Bila kau sanggup membantu mengurangi beban pertanggungjawabanku besok di hadapan Allah, maka bantulah. Tapi bila tidak, menyingkirlah!”

Sebuah penolakan yang inspiratif, karena mampu membuat kita berpikir betapa kuatnya rasa ketersentuhan hati Umar terhadap problem kehidupan yang dihadapi oleh rakyatnya sendiri. Dalam kasus lain juga disebutkan, bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah memerintah bawahannya untuk segera memperbaiki kondisi jalan di sebuah kampung terpencil yang masih berada di bawah kekuasaannya, lantaran beliau mendengar ada seekor unta yang cidera kakinya gara-gara terperosok saat melewati jalan kampung yang rusak itu.

Terdengar begitu sepele, bukan? Tetapi tidak bagi pemimpin-pemimpin yang terbiasa melatih hati nuraninya sehingga mereka dengan mudahnya tersentuh oleh persoalan-persoalan yang memang menjadi tanggungjawabnya. Kita jelas merindukan pemimpin yang mampu membangun dan menciptakan system serta suasana pemerintahan yang arif dan elegant seperti itu. Selain itu, kita juga merindukan tokoh-tokoh agama yang hebat sebagaimana Sa’di. Bukan sekadar tokoh yang dianggap popular karena seringnya nongol di televisi.

Tapi kapan? Mungkin seratus tahun lagi atau bahkan lebih lama dari itu. Bhuwaa…!!


* Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie Yogyakarta


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment