Home » » Negara Sakit

Negara Sakit

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, May 21, 2015 | 10:47 PM

negara sakit
Sumber Gambar : indonesia.cri.cn
Oleh: Masykur Arif Rahman


Maraknya pemberitaan mengenai korupsi yang dilakukan oleh beberapa elit pejabat pemerintah membuktikan bahwa negara kita sedang sakit. Filsuf Yunani Kuno, Plato mengatakan bahwa negara yang sakit adalah negara yang salah satu komponen di dalamnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Plato membagi negara menjadi tiga komponen, yaitu pemangku kekuasaan, militer, dan rakyat. Jika salah satu dari ketiga komponen ini tidak berjalan sebagaimana idealnya atau ada yang sakit, maka negara sehat yang sejahtera jangan harap menjadi kenyataan.

Mengikuti Plato, jelas saat ini negara kita sedang sakit. Pasalnya, salah satu komponennya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyaknya pejabat elit pemerintah yang tersandung kasus korupsi menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa negara sedang tidak sehat.

Melalui hasil diagnosa KPK, dapat dikatakan yang sakit saat ini adalah bagian pemangku kekuasaan. Ibarat tubuh manusia–sebagaimana dicontohkan Plato–yang sakit saat ini adalah pada bagian kepala atau bagian otaknya. Kita tahu, jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit, maka sekujur tubuh akan merasakan sakitnya. Negara pun demikian. Jika yang sakit adalah pemangku kekuasaan, rakyat pun terkena imbasnya.

Dalam dunia medis, korupsi laksana kanker. Ia menggorogoti kekayaan negara dengan ganas dan mengejutkan. Kanker yang dibiarkan menjalar ke seluruh tubuh manusia akan mengantarkan manusia menemui titik ajalnya. Demikian juga, korupsi yang dibiarkan menjalar dari pejabat elit sampai bawah, akan menjadikan negara hancur dan mati.

Oleh karena itu, dokter menyarankan, virus kanker harus segera dimatikan sebelum menjalar ke seluruh tubuh dan mematikan penderitanya. Dalam proses penyembuhan, kanker harus dibersihkan sampai ke akar-akarnya dan jangan sampai tumbuh lagi. Jika tidak bersih sampai ke akarnya, kemungkinan besar kanker akan berkembang kembali.

negara sakit
Sumber Gambar: Furqansaliha151
Karena korupsi ibarat kanker, maka sebelum ia menghancurkan negara, korupsi harus diberantas. Dalam proses pemberantasan korupsi, pihak berwenang harus membersihkan koruptor sampai ke akar-akarnya, tidak boleh dangkal dan tebang pilih. Sebab, sisa-sisa koruptor yang tidak dibersihkan bisa menjadi benih yang akan menumbuhkan koruptor-koruptor baru.

Dalam proses penyembuhan negara yang sedang sakit akibat korupsi tersebut, KPK tidak boleh mogok, walaupun dalam dunia kodekteran, beberapa bulan yang lalu, telah terjadi pemogokan akibat isu kriminalisasi. Pemogokan dokter dapat menjadi pelajaran penting bagi KPK. Akibat dokter mogok banyak orang sakit yang sangat membutuhkan pertolongan tertelantarkan. Tanggung jawab dokter untuk kemanusiaan menjadi diabaikan.

Bisa dibayangkan, bagaimana dampaknya terhadap negara yang sakit akibat korupsi jika KPK mogok. Negara akan tambah sakit. Korupsi akan menjalar ke mana-mana. Ramalan Plato akan menjadi kenyataan, yakni jika negara tidak segera disembuhkan dari sakitnya, maka negara akan menemui garis batas kehancurannya.

negara sakit
Sumber Gambar: www.wikipedia.org
Dokter mogok karena menganggap ada kriminalisasi terhadap anggotanya. Ini berarti dokter ingin menghentikan kejahatan yang dianggap membahayakan kelompoknya. Namun, apabila KPK suatu saat mogok karena ada kriminalisasi terhadapnya, maka berarti KPK (pihak yang mewakili kebajikan) kalah sama sekelompok koruptor (para penjahat negara). Jika ini terjadi, kejahatan korupsi akan semakin merajalela. Para koruptor akan bersorak gembira. Negara gagal akan semakin nampak di depan mata.

Oleh karena itu, KPK tidak boleh mogok meskipun ada pihak tertentu yang berusaha melakukan kriminalisasi terhadap KPK agar koruptor bebas melenggang buana di negeri ini. KPK harus tetap eksis memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Selama korupsi belum mati, laksana kanker, ia akan tetap hidup menggorogoti negeri yang sejahtera dan kaya ini.

Aristoteles–murid Plato– mengatakan bahwa negara didirikan demi tujuan kesejahteraan warganya. Koruptor yang mengambil hak warga berarti telah menjadi pengkhianat terhadap tujuan negara didirikan. Soekarno mengatakan bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh dari kalangan kita sendiri, yaitu para pengkhianat bangsa. Dengan demikian, KPK harus tetap eksis untuk memberantas para pengkhianat-pengkhianat bangsa yang telah membuat negara sakit.

* Penulis adalah Esais dan Master Filsafat dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini tinggal di Yogyakarta.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment