Home » » Pelukan Laut

Pelukan Laut

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Saturday, May 30, 2015 | 7:30 PM

Cerpen : Aris Kurniawan
pelukan laut
Sumber Gambar: ranahberita.com

Langit bergelimang warna merah, Maura, lihatlah. Hempas gelombang, deru angin, kepak camar menggaris cakrawala. Bukankah ini waktu yang paling kamu suka? Kamu sering berhari-hari meninggalkan aku hanya untuk menikmati saat-saat seperti ini; manakala matahari telah melewati tigaperempat perjalanannya, perlahan terbenam ke balik laut. Menyepuh seluruh permukaan bumi dengan warna yang lebih merah dari pewarna bibir yang kamu pakai. 

Ayolah Maura, genggam tanganku. Kita berkejaran di pantai sepuasnya, mencari ketam dan kulit kerang, atau duduk menikmati langit yang berkobar bagai tembaga yang dipanaskan.  Maura, ayolah kamu tidak boleh begini terus. Toh aku selalu merelakan diri mendengar ceritamu tentang ketam dan kulit kerang, tentang perahu-perahu nelayan yang timbul tenggelam dimainkan gelombang di kejauhan, tentang pantai yang menyala merah bagai tercampur darah.

***

Kamu duduk di sana , di tepi pantai itu. Tepekur seakan ingin menghisap seluruh gelimang warna merah ke dalam tubuhmu untuk kamu nikmati ketika malam menggulungmu dalam kamar penginapan. Kamu akan keluar kembali menjelang sore, berjalan dengan langkah-langkah pelan tanpa alas kaki. Hamparan pasir putih bagai jarum-jarum halus-panas menyerbu menusuk telapak kakimu yang lembut. Kamu sangat menyukai tamparan angin laut yang membuat kulit wajahmu kering. Kamu dengar gemuruh laut dan peluit kapal dan perahu-perahu nelayan di kejauhan.

Kadang kapal-kapal yang tampak serupa titik hitam timbul tenggelam dimainkan gelombang itu mendekat. Kamu terperanjat ketika tiba-tiba kapal itu telah berada di hadapanmu. Sesuara yang amat kamu kenal berteriak dari palka dan melambaikan tangannya yang mungil. Kamu tengadah dan balas melambai seraya berteriak, “Hanaaan turunlah, Nak, Mama kangen…” lantas kamu berlari merentangkan kedua tanganmu menyambut dan memeluknya. Kau mengusap cairan bening-hangat membuncah dari kelopak matanya yang bulat dengan bulu-bulu yang melengkung lentik. Kelopak mata yang ia warisi darimu. Mata yang menggetarkan saat aku melihatmu pertama kali. Mata yang tak habis-habis kukagumi.

“Dari mana saja kamu, Nak, meninggalkan Mama sendiri. Hanan nggak sayang sama Mama?”

“Berlayar ke tengah lautan, Ma,”

Lantas kamu bawa Hanan dalam pelukanmu menyusuri pantai—o, tidak Hanan menolak digendong, ia selalu ingin berjalan sendiri—membuat istana dari tumpukan pasir. Setiap kali istana itu berdiri ombak menghempasnya kembali. Lantas kalian berlarian mencari ketam dan kulit kerang. Kadang kalian jatuh, bergulingan dijilat buih ombak, membuat pakaian kalian kotor oleh butiran pasir putih. Bermain percikan air, berenang sampai mata kalian merah dan kulit kalian berbau garam.

“Jangan ke tengah, Hanan,” serumu mengejar dan menangkapnya. Hanan tertawa-tawa berusaha meloloskan diri dari sergapanmu. Suara tawa yang menggaung terus menerus di dinding batinku menggoreskan keperihan yang membuatku limbung berhari-hari. Jejak telapak kakimu dan telapak kaki mungilnya meninggalkan rongga luka di jiwaku. Kamu baru akan menggandengnya pulang saat langit telah menggelap. Kulit kerang yang berwarna-warni kamu untai menjadi kalung.

“Besok kita teruskan mencari kerang, ya sayang.”

laut
Sumber Gambar: xinhuanet.com
Hanan, buah cinta kita, kadang menolak dan ingin terus menerus main di pantai, memandang kelap-kelip lampu kapal nelayan di kejauhan. Dia memang keras kepala seperti Ibunya. Ada saja yang ia tanyakan padamu, “Siapa yang menyalakan kelip-kelip lampu itu, Mama? Apa yang mereka lakukan di tengah lautan sana ?”

“Menangkap ikan, sayang,”

“Ikan paus?”

“Bukan, ikan paus terlalu besar. Mereka menangkap ikan-ikan kecil untuk dijual di pasar. Kamu suka makan ikan, bukan?”

Hanan seringkali tak pernah puas dengan segala penjelasan yang kamu berikan. Sehingga kamu harus merayunya, membujuknya akan memberi dongeng kesukaannya sebelum tidur. “Tapi aku minta dongeng yang baru Mama. Aku tak mau Mama mengulang dongeng-dongeng itu. Aku bosan.”

“Ya Sayang, Mama punya dongeng baru untuk kamu. Ayo kita masuk, angin malam bisa membuat kita sakit.”

“Dongeng apa, Mama?”

“Nanti saja di dalam kamar. Kita mandi air hangat dulu, biar segar.” katamu meyakinkan. Kamu membelai rambut lurusnya yang jatuh menutupi kening. Kamu jongkok memegang bahunya yang lunak. Kalian bertatapan. Ah, kamu seringkali tak sanggup menatap sorot matanya yang tajam dan tampak gusar, seakan mau melawan dan tak mau mempercayai omonganmu. Kedua telapak tanganmu menangkup pipinya yang ranum kemerahan seperti kulit apel, lantas mencium bibirnya yang mungil lunak bagai es krim. Sementara pikiranmu bekerja keras mengingat-ingat dongeng mana yang belum kamu ceritakan. Kamu sering kerepotan mencari-cari cerita baru untuknya. Kamu tak mungkin mengarang-ngarang cerita dalam waktu singkat. Karena pasti tidak menarik dan menyebabkannya ngambek.

Kamu ingat, suatu ketika kamu pernah memperdengarkan cerita yang kamu karang-karang secara mendadak dan sekenanya. Hanan terlalu kritis dengan cerita-cerita yang buat kepalanya terdengar mengada-ada. Dia protes, tidak mau tidur semalaman. Dia baru mau tidur setelah puas mengerjaimu; mengajak kembali ke pantai melihat kelip-kelip lampu di kejauhan sampai menjelang subuh.

Sementara di rumah, jauh di tengah kota , aku tidur gelisah sendirian. Kamu tahu, aku tak mungkin menyusulmu ke pantai karena pekerjaan yang selalu menumpuk. Pekerjaan yang sering membuat kamu kesal karena membuatku sering mengabaikan kalian. Tak pernah sempat ikut menemani kalian menikmati pantai di waktu senja dengan gelimang warna merah yang berkobar memesona. Aku selalu pulang dalam keadaan kepayahan setelah seharian digasak pekerjaan.

“Baiklah, biar kami berdua saja ke pantai.” katamu kecewa seraya menyiapkan bekal yang akan kamu bawa untuk beberapa hari. Aku membantu mengepak roti, biskuit, minuman kaleng dan lain-lain yang kubeli di supermarket.
 
Aku hanya mengantarmu sampai di teras penginapan sederhana itu. Sejenak aku menciummu. Bu Lika, pemilik penginapan yang sudah akrab dengan Hanan memeluk dan membawa Hanan lebih dulu masuk. Aku harus segera kembali meneruskan pekerjaan kantor yang kubawa ke rumah. Aku hanya akan kembali menjemput kalian jika kamu menelpon. Namun seringkali Hanan masih betah dan menolak diajak pulang. “Papa besok saja kita pulang. Aku mau Papa menemani kita malam ini di pantai. Ayolah Papa, sekali ini saja” Hanan merajuk. Hatiku serasa remuk tak dapat memenuhi permintaannya.

"Besok Papa harus kerja, sayang. Kalau nggak kerja nanti dimarahi bos Papa.”

“Kenapa Papa takut sama bos?” tanyanya menohok. Aku hanya sanggup mengusap-usap kepalanya tanpa kuasa menjawab. Kita gagal merayunya.

Aku terpaksa kembali pulang sendirian. Aku harus menyiapkan sarapan sendiri, membuat kopi, sejenak menyimak berita pagi. Aku tak mungkin membawa perempuan lain ke rumah kita. Sebagaimana aku pun yakin kamu tidak mungkin melakukan perselingkuhan.

aris kurniawan
Sumber Gambar: indonesian.alibaba
Esoknya ketika aku kembali menjemput, Hanan menolak lagi. Terpaksa kamu harus membongkar lagi pakaian yang sudah dipak dalam koper dan memperpanjang sewa kamar penginapan. Kita tak berdaya. Kita tak tahu kenapa Hanan tak pernah bosan berlarian di pasir pantai mencari ketam dan kulit kerang. Barangkali karena di pantai pertama kali kita bertemu, katamu.

“Hanan, kita harus pulang sekarang. Minggu depan kita kembali mencari kerang.” Kamu membantu membujuknya. Tetapi dia bersikeras tak mau pulang. Terpaksa aku kembali pulang sendirian setelah berjanji besok minta cuti mendadak untuk menemani kalian.

Namun itu tak pernah terjadi. Karena mimpi buruk itu lebih dulu datang: Hanan hilang ditelah gulungan ombak. Para penjaga pantai tak berhasil menemukan jasadnya. Bukan hanya kamu yang terguncang. Kita shock, tak bisa menerima kenyataan. Berhari-hari sesudahnya kamu melamun. Dan jiwaku terhuyung-huyung didera sesal bergulung-gulung.

***

Maura, ayolah kita keluar. Menikmati gelimang warna merah, kepak camar, deru angin dan peluit kapal di kejauhan. Tidakkah kau lihat betapa indah ombak yang bergulung kejar mengejar? Maura, kita ke pantai ini untuk berlibur, kan? Bukan untuk melamun mengenang suara tawa dan jejak-jejak kaki mungil Hanan di pasir. Biarlah, kita ikhlaskan laut mengasuhnya. Mungkin dia kini lebih bahagia menjadi penghuni lautan. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Sebab akulah yang bersalah. Aku terlalu mengkhawatirkan pekerjaanku. Tapi kukira kamu pun mengerti waktu itu aku belum lama mendapatkan pekerjaan. Kamu tahu bukan? Begitu sakitnya jadi pengangguran.

Ayolah Maura, genggam tanganku. Kita berkejaran di pantai sepuasnya, mencari ketam dan kulit kerang, atau duduk menikmati langit yang berkobar bagai tembaga yang dipanaskan.  Maura, ayolah kamu tidak boleh begini terus. Toh aku selalu merelakan diri mendengar ceritamu tentang ketam dan kulit kerang, tentang perahu-perahu nelayan yang timbul tenggelam dimainkan gelombang di kejauhan, tentang pantai yang menyala merah bagai tercampur darah.*

Desember 2014-Mei 2015 


Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, resensi untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005).


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment