Home » » Dunia Sastra Sapardi Djoko Damono

Dunia Sastra Sapardi Djoko Damono

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, October 12, 2017 | 11:23 PM

Oleh : Arif Gumantia
sapardi
Sumber Gambar: dok. Arif

Judul Buku      : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis               :  Sapardi Djoko Damono
Cetakan             : 2014
Jumlah halaman  : 138 halaman
Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama Kompas Gramedia

Buku “Bilang Begini, Maksudnya Begitu” Karya Sapardi Djoko Damono ini adalah Buku Apresiasi Puisi yang tidak berisi teori teori sastra yang ‘njelimet’ atau rumit tetapi  semacam ajakan untuk mengapresiasi puisi dengan pengenalan medium yang digunakan penyair yaitu alat kebahasaan berupa : gagasan, metafora, ironi, citraan, perlambang, suasana, imajinasi, dan sebagainya. Dan cara penjelasannya pun sangat mudah dipahami karena dengan menampilkan contoh contoh puisi.

Sapardi Djoko Damono, Sastrawan dan Dosen Universitas Indonesia ini membagi bukunya dalam 11 bagian yaitu wujud visual berita dan cerita, Puisi sebagai bunyi, jenis-jenis Puisi, Bilang Begini, Maksudnya Begitu. Memilih Kata, Iman: Manusia dan Pencipta, Simpati kepada orang susah, Cinta, Sikap Hidup, Memanfaatkan Dongeng, dan Penutup. Dengan penekanan pada apresiasi yaitu penghargaan atau kesadaran akan adanya nilai yang berharga dalam puisi.

Hal yang menarik di bab pertama adalah perbedaan berita dan cerita dalam puisi, perbedaan pertama adalah tanda baca, penyair bisa menyusun tanda baca sedemikian rupa agar bisa menimbulkan perasaan tertentu bagi yang membacanya, dan yang kedua adalah susunan larik yang berbeda dengan berita yang ditulis di Koran. Ada larik larik yang panjang dan pendek, pada puisi sehingga pembaca bisa merasakan suasana yang dibangun oleh penyair. (Hal 7)

Puisi sebagai bunyi, menjelaskan betapa pentingnya bunyi dalam puisi tulis, karena pada saat kita membaca puisi, huruf huruf yang tercetak dalam kertas itu berubah menjadi bunyi dulu dalam pikiran kita, sebelum menjelma makna. Dalam menjelaskan jenis jenis puisi pun Sapardi juga tidak menggunakan teori-teori tetapi dengan berbagai contoh puisi diantaranya Puisi Taufiq Ismail “Tentang sersan Nurkholis” dan Puisi “Pidato di kubur orang” karya Subagio Sastrowardoyo . yang dengan mudah dapat kita pahami apa itu Puisi Sindiran atau Ironi.(Hal 31)

Menurut Sapardi Ironi inilah sebenarnya terletak inti puisi : “bilang begini, maksudnya begitu”. Penyair menyampaikan sesuatu gagasan tetapi cara penyampaiannya dengan menggunakan peranti bahasa yang berupa metafora, personifikasi, dan ironi sehingga pembaca harus menafsirkan makna yang tersirat dari larik larik puisi tersebut.dan terkadang puisi puisi tersebut bisa menjadi puisi parabel atau nasehat bagi pembacanya. Disini diperlukan kecerdasan pembaca untuk menafsirkan puisi bukan hanya apa yang tersurat, tetapi juga apa yang tersirat, hingga bisa menggali gagasan dan amanat puisi yang ingin disampaikan Penyair.
Sapardi memberi contoh seperti soneta yang ditulis Chairil Anwar “Kabar dari Laut” :

…………………………..
Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi
Pembatasan Cuma tanbah menyatukan kenang
Dan tawa gila pada wiski tercermin tenang.
…………………………………….

Kata kata yang dipilih Chairil Anwar mengekspresikan gejolak emosi yang kuat, dan menggunakan perumpamaan atau ibarat bahwa hidup berlangsung antara buritan dan kemudi. Dan contoh metafora pada Puisi WS. Rendra :

………………………..
Dadanya bagai daun talas yang lebar
Dengan keringat berpercikan
Ia selalu pasti sabar dan sederhana
Tangannya yang kuat mengolah nasibnya
…………………………..


Penyair menggunakan kata bagai untuk membandingkan dua hal, dadanya bagai daun talas yang lebar. Dada petani dan daunt alas. Penyair menggunakan Metafora atau perbandingan : dua hal dibandingkan dengan maksud menjelaskan maknanya. Tangannya yang kuat mengolah nasibnya, nasib yang abstrak, dianggap sebagai sesuatu yang kongkret hingga bisa diolah seperti sawah.
sapardi
Sumber Gambar: arai15

Perkembanga puisi erat kaitannya dengan perkembangan bahasa, oleh karena itu Penyair harus cermat dalam memilih kata dan gaya bahasa. Penyair memang sering dikatakan bisa menciptakan bahasa ‘baru’ karena memiliki licentia poetica atau hak khusus dalam menulis sastra. Setidaknya mampu dan memiliki hak untuk menciptakan ungkapan baru. (Hal 72). Atau sebaliknya, penyair bisa juga kembali ke bahasa klasik untuk mengusahakan kecermatan ekspresi seperti yang dilakukan oleh penyair Amir Hamzah.

Karya sastra sering menyediakan jawaban bagi berbagai persoalan, oleh karena itu penyair sering memberikan amanat bagi pembacanya, penyair ingin membantu pembaca yang mencari pegangan dalam menghadapi masalah dalam rohaninya. Bagian ini dibahas Sapardi dalam bab Iman: Manusia dan Pencipta, dengan memberi contoh contoh puisi salah satunya adalah puisi panjang Goenawan Mohamad yang berjudul Gatoloco, puisi yang bersumber pada karya klasik jawa yang erat kaitannya dengan tasawuf, yakni serat Gatholoco. Puisi yang menggoda kita untuk mempertimbangkan dan merenungkan hubungan kawula-Gusti.
Di kebudayaan manapun di belahan dunia ini puisi banyak ditulis sebagai bagian dari simpati kepada orang susah. Hal ini juga dibahas oleh Sapardi, dengan memberi contoh dari puisi Toto Sudarto Bachtiar “Gadis peminta-minta”

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
……………………….

Duniamu lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tetapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
…………………


Sajak yang ditulis tahun 1955 itu bisa dianggap mewakili puisi tahun 50-an yang banyak mengungkapkan simpati penyair terhadap orang miskin.

Berbicara tentang puisi tentu tidak pernah lepas tentang tema cinta, yang menurut Sapardi cinta adalah pengalaman yang sangat merepotkan kita, hingga para penyair manapun sejak penciptaan puisi klasik sampai sekarang sering menciptakan puisi dengan tema cinta. Puisi juga bisa digunakan oleh penyairnya untuk memperlihatkan sikap hidupnya, baik dengan teknik menggunakan gaya ungkap prosa liris atau puisi tentang peristiwa.

Di bagian akhir buku Sapardi memaparkan puisi yang ditulis dengan memanfaatkan dongeng, situasi yang melandasi proses kreatif penyair yang unik sebab ia berketepatan untuk menggunakan dongeng, misalnya dongeng tentang wayang yang diambil dari kisah mahabarata atau Ramayana yang mengalami modifikasi cerita. Hal ini menuntut kecerdikan penyair untuk menuliskannya dalam lirik ringkas, dengan tafsir yang menjadikannya dramatic karena diksi dan latar yang diciptakannya.(hal 130)

Secara keseluruhan buku yang ditulis Sapardi Djoko Damono ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh siapapun. Baik pelajar, mahasiswa, Guru, Dosen, sastrawan, atau anggota masyarakat lainnya, karena gaya bahasanya yang sederhana dan disertai banyak contoh hingga mudah untuk kita pahami. Dan layak kita beri apresiasi yang tinggi di tengah minimnya buku tentang apresiasi Sastra di tengah hingar bingar kehidupan politik yang mendominasi narasi negeri ini. Meskipun contoh yang diberikan kurang beragam terutama tidak adanya karya puisi dari penyair jawa timur, bali, dan Indonesia timur lainnya. Juga ketiadaan teori teori sastra yang membuat pisau analisanya kurang tajam.(kb)

Arif Gumantia, Ketua Majelis Sastra Madiun. Twitter: @arifgumantia


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment