Home » » Festival BAM, Contoh Kemeriahan Silaturrahim Keluarga

Festival BAM, Contoh Kemeriahan Silaturrahim Keluarga

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Friday, June 12, 2015 | 7:01 PM

KABARBANGSA.COM---Festival Bani Abdul Manan (BAM) merupakan sebuah kegiatan yang berlatar belakang sebuah keluarga besar. Dalam acara ini biasanya dihadiri oleh keturunan KH. Abdul Manan yang tersebar di berbagai daerah. (Baca juga: Ada Dongeng Anak di Festival BAM)

Momentum ini menjadi media silaturahim keluarga besar keturun Mbah Abdul Manan yang terberai di seluruh penjuru tanah air dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesi.

Abdul Muis, salah satu generasi ke-3 Bani Abdul Manan mengatakan kepada kabarbangsa.com bahwa festival ini diinisiasi oleh anak muda, untuk mengatasi kerinduan, kejenuhan, dan tali persaudaraan antar keluarga yang sedang merantau.

“Pada mulanya, saya menulis di Facebook tentang kerinduan saya dengan situasi yang ada di Miji, sejak itu Ami Muzak merespons dan berembuk untuk mengadakan kegiatan yang dapat memfasilitasi kerinduan itu” tegas Muis.

Festival ini sengaja diadakan di Kota Mojokerto, tempat keluarga ini bermula, dalam rangka birrul walidaini (berbuat baik kepada orang tua). Akan tetapi pola birrul walidaini di BAM memang terkenal sangat unik. Mereka tidak menganggap orang yang sukses secara pendidikan, usaha, keberlimpahan harta, jika melupakan atau menelantarkan orang tua.

Orang sukses menurut generasi BAM adalah mereka yang berbuat baik kepada orang tua mereka. Sampai saat ini, festival BAM diadakan setiap tahun menjelang bulan Ramadhan.

Rangkaian acara dibuat meriah, mulai dari yasin, khatmil qur’an, shalat dhuha berjama’ah, ziarah qubur, diba’, ratibul haddad, dan lain sebagainya. Keluarga Bani Abdul Manan (BAM) dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi keluarga besar lain di Indonesia.

Terkait dengan BAM, Ahmad Muchlish Amrin mengabadikan dalam sebuah puisi yang pernah dipublikasikan di Jawa Pos pada tahun 2012, yang berbunyi:

Halal Bihalal di Miji
-untuk Abdul Yazid Qahar

Di manakah senyum Mbah Abdul Manan
di antara padi-padi yang belum menguning?
Burung-burung terbang dari sawah satu
ke sawah yang lain,
kudengar kicauannya serupa puisi
serupa cinta yang enggan pergi

Di manakah kata-kata hujan Mbah Muzamma?
dinginnya mengalir di urat nadi
dan air mata basah di pipi sepi.
Mendung yang kini pergi berganti matahari
kita yang belia sibuk mengejar bayang-bayang sendiri
padahal bayang adalah mimpi pagi.
Bila sore nanti, bayang-bayang terentang di belakang
dan hasrat kita menjadi malam.

Di manakah kalimat-kalimat cinta Mbah Abdul Qahar
yang disaungkan di leher bulan?
Bila malam menuruti lelap dan jiwa menuruti gelap,
kita tengkurap dan mendengkur bagai lenguh sapi.
"Mari kita susun lagi kata-kata
yang akan hidup jutaan tahun lagi."
Tanpa sangsi dan ragu, kita sebut nama-nama cahaya
dengan asap kemenyan dan dupa

Di Miji, kita sampai
Di Miji, kita urai
Di Miji, kita temukan bulan dan matahari baru
Di MIji, bintang-bintang berkedip dalam diri.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment