Home » » Gagasan Tentang Komisi Dedek-Dedek Gemes

Gagasan Tentang Komisi Dedek-Dedek Gemes

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, June 4, 2015 | 7:29 PM

Oleh : Edi AH Iyubenu
mihrima
Sumber Gambar: libertatea.ro

Siang ini, saya kedatangan tamu dari Jakarta. Sudahlah, namanya dirahasiakan saja. Pastinya bukan TM, SB, apalagi AA. Mereka-mereka sih biar diurus sama kakak-kakak anggota dewan saja yang berisik.

Tentu saja, tamu ini ngantar duit. Hari gini mah yang nggak bau-bau duit ya rasanya gimana-gimanalah. Nggak sedep. Sebab duit adalah koentji! Koentji menuju dedek-dedek gemes.

Sebagai muslim yang baik, yang selalu yakin diri ini telah kaffah (iya, kayak kamu yang ngototan…), saya pun menyambutnya dengan obrolan hangat sedemikian panjang lebarnya sebagai wujud takrimul al-duyuf (memuliakan tamu). Faidza huyyitum bitahiyyatin fahayyu biahsanin minha.

Beberapa menit kemudian, saya tersedak. Saya tak menyana sama sekali, di antara obrolan kita kian lama kian mengerucut pada dedek-dedek gemes. Walah, rupanya beliaunya ini bagian dari kakak-kakak sepenuh jiwa yang selalu peduli sama dedek-dedek gemes. Saya sangat terharu menyaksikan kian banyaknya kakak-kakak penuh kasih beginian di negeri hambuh ini. (Baca juga: Dedek-Dedek Gemes Turki)
.
Memang, demikian saya membatin, dunia ini selalu menjadi lebih indah berkat dedek-dedek gemes. Tuhan Maha Baik telah menghadirkan mereka di antara kita.

Kau bayangkan.

wanita cantik
Sumber Gambar: ilastycos.blogspot.com
Mau punya uang sekarung, rumah berderet, mobil berkilatan, bila tak ada dedek gemes di sampingmu, pada siapa kau akan bercerita? Menyandarkan bahu di kala lelah? Mencari lemas dan lelah di kala tegang?

Ya hanya dedek-dedek gemes itu solusinya. Sebagaimana ayah yang selalu solusi buat Dek Gara dan Dek Diva.

Hanya saja, untuk mensolusikan dedek-dedek gemes, apalagi sekaliber AA, SB, TM, hingga AMA, kau harus memiliki “jalan tolnya”. Apa itu? Ya duit itu tadi. Makanya tadi di awal saya bilang tanpa ragu, hidup tanpa duit ini rasanya gimana-gimanalah, sebab itu berbanding lurus dengan jauhnya kita dari solusi dedek-dedek gemes itu. Wajar kalau saya senang sekali dikunjungi tamu yang ngasih duit begini. Sebab itu kian mendekatkan saya pada solusi dedek-dedek gemes. (Baca juga: Dedek Roro Fitria, Mbok Ayo Umroh Saja)

Apakah ini klaim dedek-dedek gemes itu makhluk matre?

Ini pertanyaan bodoh. Serupa kau ingin melaju cepat, lalu memilih masuk tol, dan kau dikutip bayaran.

Ya iyalah, Bro! Kau takkan pernah menyebut seseorang dedek gemes bila ia tidak gemesin, bukan?

Untuk menggemeskan diri, jelas saja ia membutuhkan seperangkat alat (bukan shalat) duit untuk dandan dan bergaya. Dari atas hingga bawah. Dari yang tersirat sampai yang tersurat. Dari yang ruhani hingga jasmani.

No duit no gemes! Begitu dogmanya.

Logika silogisme bekerja sempurna di sini: semakin gemesin seorang dedek, semakin besar kebutuhan duitnya.

Wajar, ya sungguh natural, bila biaya melelahkan diri bersama dedek gemes begitu lesatnya. Kian tinggi kian tebal gemesinnya. Kau cukup pergi ke Sarkem atau Sorti saja jika keberatan dengan biaya operasional dedek-dedek gemes itu.

Kala tamu pulang, saya merenung.

Iya ya, bukankah sangat jitu bila segala problem politik yang memualkan di republik ini didekati dengan solusi dedek-dedek gemes?

Begini, begini maksud saya.

Dedek SB yang lagi booming merepresentasikan dedek-dedek gemes kekinian rumornya telah sukses melelahkan banyak politisi. Dari pusat sampai daerah. Setidaknya begitu kabar dari mulut pengacara RA.

komisi
Sumber Gambar: erwannugroho.wordpress.com
Bayangkan, umpama semua politisi dibikin lelah-lemas, selelah-lelahnya, selemas-lemasnya, niscaya mereka takkan punya cukup energi untuk berantem sok-sok atas nama rakyat. Iya, kan? Lha udah lelah-lemas kok. Lalu peran dedek-dedek gemes dalam melelah-lelahkan melemas-lemaskan mereka dijaringkan dalam sebuah tradisi yang membuat mereka saling mengerti.

Oh, BS malam ini melelah-lelahkan melemas-lemaskan politisi A dari partai sapi, kemudian dedek BS ini mengisahkan pada A bahwa besok malam ia ada janjian untuk melelah-lelahkan melemas-lemaskan politisi B dari partai telo, niscaya mereka akan saling-kunci. Kunci-mengunci rahasia, jelasnya.

Otomatis, lalu lintas rahasia akan saliung tersandera. Dalam keadaan lelah-lemas, mereka akan saling menahan diri untuk tidak menghabiskan energi berantem atas nama rakyat apalah-apalah, sebab tradisi mereka sudah saling tahu bahwa rahasianya diketahui lawan politiknya. Begitu seterusnya. Ya kira-kira kayak kasus Century dan Lapindo gitulah.

Satu sisi sudah sangat lelah, lemas. Sisi lain juga insaf bila berkoar hanya akan menmguak topeng diri sendiri. Rahasia dibalas rahasia.

Sempurna!

Ini akan menjadi solusi strategis amat menakjubkan untuk membungkam mulut-mulut busuk para politisi agar tak kian menggaduhkan perut-perut rakyat yang keroncongan.

Suatu kelak, saya membayangkan di republik ini akan lahir sebuah komisi baru untuk menampung gagasan brilian ini: Komisi Dedek-dedek Gemes.

Jogja, 4 Juni 2015 


Edi AH Iyubenu, Rektor #KampusFiksi, CEO Diva Press, dan Kandidat Doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment