Home » » Janur Kuning Untuk Anisa

Janur Kuning Untuk Anisa

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Tuesday, June 16, 2015 | 10:16 PM

Cerpen : Jamilatus Sariroh

Hari-hari berjalan wajar setelah pernikahan Aliya sebulan lalu. Anisa masih dengan kesibukannya yang semakin estafet dari rumah, mengajar di sekolah-sekolah menengah, kampus, tempat-tempat kursus, tak ada yang berubah kecuali janur kuning di bawah kolong tempat tidurnya yang sudah lebih coklat dari sebelumnya, layu dan hampir kering. Namun, ingatan Anisa tentang perlakuan janur itu terhadapnya tentu masih sangat basah bernanah, ia lebih anyir dari darah. Bagaimana tidak, ia telah berlumur darah yang mengalir bukan dari tubuh melainkan dari hatinya.
nikah
Sumber Gambar: tokopedia.net

Anisa telah pertaruhkan harga diri dan imannya di depan ratusan pasang mata demi menjaga tradisi nenek moyangnya ketika itu. Janur kuning yang diberikan oleh dukun pengantin kepadanya itu membuat para tamu undangan menahan tawa, bahkan beberapa dari mereka tak mampu lagi menahan gelaknya. Mungkin bagi mereka, ketika ia menggigit janur kuning tersebut sebanyak tiga kali adalah tontonan yang sangat lucu.
 Lebih-lebih setelah janur kuning itu dipecut-pecutkan di tubuhnya, sebagai penolak bala sebuah pantangan yang telah dilanggar. Meski hanya tiga kali pecutan-pecutan kecil namun, perih yang ia terima sungguh tak terkira, ratusan mata itu menatapnya iba.

***

“Ibu jahat!”

Suara gaduh di ruang makan merampas istirahat Anisa yang baru saja membanting tubuhnya yang lelah di pembaringan. Serta merta ia mendatangi sumber suara itu.

Di sana telah berdiri seorang Aliya, sambil menangis di depan Ibunya yang terduduk lesu di salah satu kursi kayu meja makan.

“Ada apa ini, Aliya? Tak semestinya kamu berbicara dengan suara keras kepada Ibu!”

“Ini semua gara-gara Mbak Anisa! Aku nggak mau jadi perawan tua gara-gara Mbak Anisa yang memang ingin jadi perawan tua!” Aliya meninggikan suaranya, menatap menantang pada Anisa.

“Aliya!” bentak Anisa, nyaris melayangkan telapak tangannya di pipi adiknya yang sebulan lalu diwisuda menjadi Magister Komunikasi itu. Aliya menghambur pada Ibunya, menangis sejadi-jadinya.

“Astaghfirullah....maafkan Mbak, Aliya! Lalu Aliya maunya apa?” Suaranya parau, menahan emosi yang nyaris meledak.

 “Aliya mau menikah, Mbak! Mas Heru dan keluarganya sudah mendesak Aliya untuk memutuskannya! Tahun ini Mas Heru akan meneruskan pendidikannya di Malaysia, Mas Heru memberi pilihan pada Aliya, mau mendampinginya, atau tidak sama sekali!”

Tangis Aliya mulai mereda.

“Kalau begitu, menikahlah! Tak usah perdulikan mbak. Jodoh sudah digariskan di atas takdir masing-masing makhluk. Mbak merestuimu, Aliya.” Anisa meraih kepala adik satu-satunya itu dan menenggelamkannya di bahunya.
pernikahan
Sumber Gambar: souvenirbalionline.com

“Tidak bisa!” Ibunya bangkit dari tempat duduknya.

“Orang jawa bilang, ora elok! Seorang perempuan yang dilangkahi adiknya, jodohnya akan menjauh! bahkan akan selamanya jadi perawan tua! Pokoknya, Ibu nggak akan mengizinkan Aliya menikah sebelum kamu menikah, Anisa!”

“Tapi kapan, Bu?! Umur Aliya sudah 25. Sementara, Mbak Anisa saja sampai sekarang belum punya calon. Bayangannya saja nggak pernah ada. Jangan hanya karena Mbak Anisa, Aliya yang jadi korban. Bisa-bisa Mas Heru mutusin Aliya. Bisa-bisa Aliya bener-bener jadi perawan tua generasi kedua setelah Mbak Anisa. Ibu mau, punya dua anak gadis jadi perawan tua semua?”

Aliya merajuk. Bibirnya merapat sedikit lebih maju ke depan. Diputarnya badan membelakangi ibu dan kakak perempuannya sebagai bentuk marahnya.

“Tapi kamu juga harus memikirkan kakakmu, Aliya! Pikirkan bagaiamana perasaannya! Belum lagi omongan tetangga yang pasti akan lebih panas mengupas Mbak Anisa!”

“Ibu hanya memikirkan perasaan Mbak Anisa saja! Tidak sama sekali untuk Aliya!”

Aliya meninggalkan mereka berdua dengan kekecewaan. Melangkahkan kaki dengan tekanan keras hingga bersuara, lalu masuk kamar dan membanting pintu.

Di menit yang sama, hanya berjengkal beberapa rumah dari rumah Anisa, bergerombol ibu-ibu sedang menyerbu sayur mayur di warung Mak Ipeh. Seperti biasa, aktivitas memilih-milih sayuran itu selalu diselingi dengan obrolan panas yang bisa bersumber dari mana saja. Satu menu obrolan bisa menjadi santapan yang tak ada habisnya meski dilahap habis-habisan oleh mulut-mulut mereka.

“Tahu nggak, Ibu-Ibu. Ada berita baru, masih panas, fresh from the open!” Kata bu Aminati yang baru datang tergopoh membawa tas belanjaan. Tangannya langsung meraih setengah kilo gram daging ayam yang ada di depannya, diam sejenak membiarkan rasa penasaran yang langsung meluap dari ibu-ibu yang lain.

“Apa itu, Bu Nati?!” kejar Bu Broto.

“Aku dengar, Aliya, anak bungsunya bu Sopiyah mau menikah loh! Sama laki-laki yang suka ngantar Aliya pakai honda jazz merah itu!”

 “Kasihan Anisa. Masak dia mau dilangkahin adiknya. Umurnya kan sudah kepala tiga lebih! Bisa-bisa jadi perawan tua seumur hidup dia!”

 “Padahal Anisa itu cantik, pintar lagi! Tapi di umurnya yang sekarang, mana ada laki-laki yang mau. Walaupun masih perawan, tapi laki-laki perjaka umumnya cuma mau gadis muda. Bukan gadis tua,”

Semuanya berbicara, sahut menyahut, seperti anak panah yang menyidik habis papan objeknya. Sementara Anisa masih berusaha membujuk ibunya yang tetap kekeh tak mau merestui permintaan Aliya.

 “Bu, Anisa mohon izinkan Aliya menikah!”

“Tidak bisa, Anisa! Bagaiamana dengan nasib kamu?”

“Ibu!” Potongnya, “Anisa mohon. Jangan membuat Anisa menanggung dosa yang lebih besar sebab menahan pernikahan Aliya dengan Heru. Kebersamaan mereka sudah terlalu intens, kemana-kemana di antar Heru, berduaan di mobil, tidak boleh mereka dibiarkan begitu lebih lama lagi. Mereka harus menikah, wajib, Bu!”

 Ibunya diam mencerna penyataan puterinya yang selalu berbalut jilbab panjang itu. Tak ada yang salah dengan semua yang dikatakannya. Akhirnya pun ia luluh.
nikah
Sumber Gambar: angetan.com

“Tapi, kamu janji ya, menikahlah secepatnya setelah adikmu menikah!” Ibunya menatapnya penuh mohon.

“Insyaallah, Bu. Doakan Anisa agar segera dipertemukan dengan pasangan hidup yang selama ini Anisa impikan!”

“Tentu. Tanpa kamu minta sekalipun, anakku...”

***

Sore ini, ada kerabat  jauh yang hendak bertamu membawa seorang laki-laki mapan yang akan diperkenalkan kepada keluarga Anisa. Bukan kepalang, Ibunya menyambut dengan penuh antusias dan berharap bahwa sore ini akan menjadi jawaban dari ikhtiarnya menyimpan janur kuning tersebut di bawah kolong puterinya.

“Wah, manjur sekali ya janur kuningnya, baru juga sebulan! Jodohnya langsung datang saja!” Seperti biasa, bu Aminati mengawali ritual menggosip mereka. Yang lain pun serta merta menyambutnya dengan pendapat masing-masing. Dalam hitungan detik, mulut mereka memanas seperti rentetan peluru yang keluar dari mulut senapan.

Dari pertemuan dua keluarga itu, secepat mimpi-mimpi di tidurnya, hari baik pun telah ditentukan. Kini, tak ada alasan yang membuat Anisa menolaknya lagi, lebih-lebih ia tak mau menghancurkan hati ibunya untuk kesekian kali.

Kebaya borkat bersulur emas putih sepanjang mata kaki, dipadukan dengan jilbab yang senada menjadikan Aliya tampak anggun menawan. Aura bahagia terpancar jelas dari manik matanya.

 “Coba kalau waktu itu kamu tidak nurut sama Ibu, pasti hari ini tidak akan terjadi dan entah sampai kapan kamu akan jadi perawan tua,” celetuk ibunya sembari membantu Anisa duduk di pelaminannya. Di kondisi yang demikian, tentu tidak memungkinkan bagi Anisa untuk mendebatnya.

Tamu  undangan mulai memenuhi gedung. Berdebar, Anisa menanti kedatangan mempelainya. Menurut jadwal, lima menit lagi atau tepatnya pukul delapan pagi ini akad nikah akan dilaksanakan namun spertinya akan sedikit terlambat sebab mobil yang membawa mempelai pria belum juga tampak. Walau sedikit cemas, Anisa memaklumi kondisi jarak antara rumahnya dan calon suaminya tidaklah dekat. Belum lagi macet yang tak bisa dihindari di jalur pantura saat arus balik masa libur di bulan syawal ini.

Sepuluh menit berlalu dari angka delapan. Para tamu masih asik menikmati hidangan. Ah, terlambat itu sudah biasa. Hanya memang, menunggu adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman, apalagi menunggu bersama debaran-debaran di dada  yang kian lama semakin menyiksa.

45menit berlalu. Tanda-tanda kedatangannya belum juga terdengar. Para tamu sudah mulai tak tenang. Lebih-lebih Anisa, kecemasannya semakin menggolak, semua prasangka tiba-tiba menghambur dalam otaknya. Mungkinkah calon mempelainya itu mengundurkan diri dan urung menikahi Anisa, perempuan yang lima tahun lebih tua darinya ini? Atau kondisi macet yang sangat parah hingga keterlambatannya menjadi begitu lama? Atau...jangan-jangan...ah, Anisa menampik semua prasangka negatif yang semakin membuatnya tak tenang. Kursi pelaminannya pun kini tak lagi nyaman.

Penghulu mulai menanyakan kapan akad akan segera dimulai. Panitia berusaha mencegah para tamu undangan yang mulai ingin berpamitan pulang. Ibunya dan Aliya tampak mondar-mandir di lokasi penerimaan tamu, kecemasan tergambar jelas di wajah mereka. Pakdhe qomar sibuk dengan handphonenya, menghubungi siapa saja dari pihak mempelai pria, tapi nihil, tak ada nomor yang bisa dihubungi.

Anisa akhirnya turun dari pelaminan, hendak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada yang berhasil mencegahnya. Ia tak bisa terus berdiam diri di kursi pelaminan dalam keadaan yang meresahkan dirinya dan para kerabatnya itu.

Pakdhe Qomar masih mengutak-atik tombol handphonenya. Setelah beberapa kali sepertinya usahanya membuahkan hasil. Satu nomor tersambung. Lalu, pakdhe Qomar bercakap sebentar, entah sedang bicara apa. Anisa tak bisa mendengarnya dari jauh. Lalu pakdhe Qomar meletakkan kembali handphone di sakunya. Wajahnya berubah kusut. Tentu bukan sebuah berita menggemberikan yang barusan ia dengar. Ibu dan Aliya menghambur ke arah pakdhe Qomar, menanyakan kebenarannya. Lalu mereka bertiga tampak lemas, pakdhe Qomar dengan sigap menangkap tubuh ibu Anisa saat lunglai hampir tak sadarkan diri.

Semua pemandangan itu tampak seperti siluet hitam di mata Anisa. Suara-suara kian menjauh, Anisa mematung di antara janur yang dipasang di sisi kanan-kiri pelaminan. Lantas semua menjadi gelap.
Warung Mak Ipeh kembali ramai setelah kejadian itu. Kasak-kusuk mulai berisik.

“Itu pasti akibat melanggar pantangan. Terbukti kan, kalau perempuan yang dilangkahi adiknya ya begitu itu, jodohnya menjauh!”

“Bukan menjauh, Bu Nati! Tapi mati!”

“Ah, sama saja!”

“Kasihan laki-laki itu harus mengalami nasib yang mengenaskan gara-gara mau menikahi perempuan yang sudah melanggar pantangan tradisi! Aku dengar, mobilnya saja samapai ringsek tak berbentuk lo, Ibu-ibu! Jelas saja, wong lawannya kan mobil kontener!”

“Eh, tapi Anisa kan sudah dipecut pakai janur kuning, masak sih janur kuningnya ga mempan?”

“Iya, malah janurnya itu digigit-gigit gitu, lucu aku lihatnya.”

Gerrrr semua cekikikan.

“Ini buktinya, kalau janur kuning itu tak memiliki kuasa apa-apa, Ibu-ibu! Hanya Allah yang berkuasa atas setiap nasib dan nafas yang berhembus dari makhluk-Nya!” tiba-tiba suara Anisa mengagetkan mereka dari belakang. Sontak pesta gosip itu berhenti, lalu pura-pura memilih sayur di warung Mak Ipeh.


Jamilatus Sarirah, lahir di Tuban, 26 Juli 1986. Pernah menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan kini menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Al-Huda, Babakan Ciwaringin, Cirebon.



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment