Home » » Kado Spesial “Generasi Nol Buku”

Kado Spesial “Generasi Nol Buku”

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, June 22, 2015 | 6:25 PM

Oleh : Yanuar Arifin*

Pada tanggal 25 Juni 2015, sastrawan sekaligus budayawan besar Indonesia, Taufik Ismail merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Menyambut hari istimewa tersebut, seyogyanya bangsa Indonesia memberikan kado spesial bagi pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat pada tahun 1935 itu. Mengingat, Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan besar Indonesia yang mempunyai peran signifikan dalam membangun, mengembangkan dan memajukan pendidikan generasi bangsa Indonesia, khususnya melalui bidang sastra. Tentunya, perlu bagi kita untuk sekedar mendengarkan dan merenungi kembali semua nasehat-nasehat beliau yang seringkali mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia.
buku
Sumber Gambar: mondayflashfiction.blogspot. com

Misalnya pada tahun 2007 yang lalu, tepatnya ketika beliau menerima penghargaan Habibie Award 2007 dalam rangka ulang tahun The Habibie Center ke-8 di Jakarta, Taufik Ismail melemparkan kritik pedas atas sistem pendidikan di Indonesia yang carut marut. Menurutnya, sistem pendidikan di negara ini belum dapat mencetak kader-kader bangsa yang cerdas dan mumpuni dalam menghadapi prolematika kehidupan bangsa.

Bahkan dengan nada geram, Taufik menyebut generasi bangsa Indonesia adalah “Generasi Nol Buku”.

Predikat sebagai generasi nol buku ia lekatkan kepada generasi bangsa Indonesia yang sekarang memang terasa telah kehilangan jati diri mereka sebagai generasi penerus bangsa. Tengok saja, bagaimana realitas kehidupan generasi pemuda sekarang yang seakan tertelan oleh hingar-bingar dinamika kehidupan zaman globalisasi. Mereka yang seharusnya menghabiskan masa mudanya dalam rangka mengembangan potensi diri, keterampilan (skill) dalam ranah intelektualitas dan spritualitas sehingga mampu menjadi manusia yang memiliki profesionalitas, bermanfaat bagi diri mereka dan masyarakat, ternyata lebih memilih untuk menyia-nyiakan waktu mereka dengan berbagai pernak-pernik aktifitas kehidupan yang cenderung glamor, hedonis dan pragmatis.

Mereka, generasi pemuda, dalam hal ini menurut hemat penulis adalah generasi yang sedang mengalami krisis identitas, identitas diri maupun identitas kebangsaan. Tak salah memang apabila Taufik menyebut generasi kita dengan sebutan yang terkesan menyepelekan eksistensi dan peran generasi bangsa Indonesia dalam membangun Indonesia. Mungkin, Taufik benar-benar melihat perbedaan yang cukup kentara di antara pemuda pada generasinya dengan pemuda generasi sekarang. Jika generasi pemuda di zaman Taufik terkenal dengan semangatnya dalam pengembangan diri dan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan RI, mungkin di zaman sekarang Taufik belum menemukan greget dan semangat para pemuda seperti di masanya itu.

Terlepas dari itu semua, predikat yang diberikan oleh Taufik Ismail pada generasi pemuda sekarang harus benar-benar kita kristisi, patut kita renungkan dan kita jadikan sebagai cambuk untuk memperbaiki diri. Sehingga tepat pada hari ulang tahun yang ke-80 nya nanti, generasi pemuda Indonesia dapat memberikan hadiah istimewa, kado spesial, yakni sebuah komitmen bersama untuk mewujudkan generasi bangsa Indonesia yang kaya akan ilmu pengetahuan, tidak gagap teknologi dan memiliki kekuatan spiritualitas, intelektualitas, dan profesionalitas.

Menuju Generasi “Sejuta Buku”
membaca

Dalam makalahnya berjudul “Generasi Nol Buku : Yang Rabun Membaca, Pincang Mengarang”, Taufik Ismail mengaku, bersama dengan puluhan ribu anak SMA lain di seluruh tanah air pada 1953-1956 mereka sudah menjadi generasi nol buku, yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Nol buku, disebut Taufik karena kala itu mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan di sekolahnya masing-masing sehingga “rabun” membaca. Sementara istilah “pincang mengarang” adalah karena tidak ada latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah. Oleh karenanya, Taufik memperbandingkan sistem pembelajaran membaca dan mengarang pada peserta didik Indonesia dengan sistem yang ada pada peserta didik dari beberapa negara lain, yakni di negara berkembang dan maju dalam sebuah survei sederhana dan mendapat perbandingan yang cukup mencengangkan.

Taufik (2008) memaparkan bahwa di saat para pelajar Indonesia tidak mendapatkan tugas membaca dan mengarang di sekolah, ternyata para pelajar SMA di Amerika Serikat justru diharuskan membaca 32 buku oleh guru-guru mereka. Bahkan di negara berkembang, seperti Thailand, para pelajarnya juga diharuskan membaca setidaknya lima buku dalam satu semester. Kewajiban membaca dan mengarang, menurut Taufik, bukan hanya bertujuan untuk membuat siswa menjadi sastrawan, akan tetapi merupakan keahlian yang sangat dibutuhkan oleh siapapun di setiap profesi. Menurutnya, membaca buku sastra sangatlah penting dilakukan untuk mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum. Sementara latihan menulis berguna untuk mempersiapkan orang agar mampu menulis di bidangnya masing-masing.

Dari data yang disampaikan Taufik tersebut, kita mengetahui bahwa peserta didik Indonesia sebenarnya telah ketinggalan kereta untuk sekadar membaca dan mengarang. Maka, pada saat ini kita tentu harus benar-benar merasa prihatin atas realitas yang tengah terjadi di negeri ini. Setidaknya, tumbuh benih-benih kesadaran dari berbagai kalangan yang masih merasa punya tanggung jawab terhadap bangsa Indonesia untuk memperbaiki sistem pendidikan kita dengan cepat dan serius. Kita harus malu akan sistem pendidikan kita sekarang sebab di saat sistem pendidikan di negara-negara lain telah dapat mencetak “Generasi Sejuta Buku”, ternyata kita masih terus melahirkan “Generasi Nol Buku”. Dua generasi yang tentu saling kontradiktif.

Maka, ketika realitas yang demikian telah terjadi, adalah sebuah keharusan bagi kita semua, entah dari kalangan akademik maupun non-akademik dalam konteks ini pemerintah dan masyarakat harus menggagas dan mewujudkan sebuah gerakan sejuta buku. Artinya, seluruh lapisan, dari lapisan atas, tengah, maupun lapisan bawah terus berupaya untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang gemar akan budaya membaca dan menulis. Tentunya, dengan terwujudnya budaya tersebut maka dinamika kehidupan yang memiliki peradaban tinggi dan luhur, dengan ukuran tingginya tingkat intektualitas atau “melek huruf dan teknologi dan ilmu pengetahuan” akan tercipta. Mulai dari sekarang, kita harus mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk memiliki generasi yang cerdas. Dan ketika cita-cita tersebut terwujud maka pada saatnya nanti kita hadiahkan kepada Taufik Ismail sebagai kado dari bangsa Indonesia. Selamat Ulang Tahun, Taufik!



Yanuar Arifin, mahasiswa Pascasarjana MSI Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.




Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment