Home » » KKN UIN Suka: Bulan Sabit di Barongan

KKN UIN Suka: Bulan Sabit di Barongan

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Friday, June 26, 2015 | 9:33 AM

Laporan Wartawan www.kabarbangsa.com: Khairi Esa Anwar

KABARBANGSA.COM---Kulonprogo---Bulan yang menggantung di atas Desa Barongan, Nomporejo, Galur, Kulonprogo menjadi saksi atas kedatangan warga baru dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Warga KKN (Kuliah Kerja Nyata) mendapat sambutan yang meriah dari warga Barongan. Apalagi dari Kadus Bpk. Sukarjo, telah memberikan warna yang berbeda pada mahasiswa KKN angkatan ke-86.

Kesiur angin dari pohon kelapa membawa udara segar alam ala Barongan. Tanah retak kemarau menerbangkan debu yang menyapa wajah kusam, karena mereka terbiasa dengan warna kampus. KKN telah membawa angin baru pada mereka yang diketuai Siti Maria Ulfa Fitria (red:dipanggil Vee). Dengan beranggotakan 9 orang, diantaranya: Lina, Maharani, Ade, Alil, Bagas, Yusse, Kumala, dan Khai.
 
Mereka harus membiasakan udara kampung yang serba pragmatis, tidak seperti kampus dengan udara sengat teori. Mereka harus mengetahui ruang sempit kebutuhan masyarakat baik dalam bidang keagamaan, bimbingan dari ketertinggalan dalam segi apapun. Mereka bertarung dengan kenyataan yang nyata, bukan sebuah spekulasi seperti di ruang kampus. Sejatinya, mereka harus benar-benar memaklumatkan diri sebagai warga yang serba pragmatis.

Inilah saatnya bagi mereka untuk belajar menjadi warga yang mandiri sekaligus saling bekerja sama dalam segala hal. Kerja keras untuk menjadi warga yang terbaik untuk warga yang telah menyambut mereka dan juga diri mereka menimba ilmu kemasyarakatan. Upaya ini dilakukan oleh kampus agar mereka terbiasa, jika pulang ke rumah masing-masing. Karena tantangan mereka adalah merubah hal yang tabu menjadi suatu nilai yang karismatik untuk masa depan kampong mereka.

Bulan sabit yang menggantung di Barongan, awal sejarah yang menantang mereka untuk mengasah diri harus peka kepada segala perubahan di masyarakat. Menuju masyarakat madani sebagai dambaan mereka sebagaimana bacaan di dalam buku. Selaras dengan tujuan mulia untuk hidup menjadi pengabdi masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Kahlil Gibran: satu jam dicurahkan untuk mengejar Keindahan dan Cinta, sama nilainya dengan satu abad penuh kemuliaan, yang diberikan oleh yang lemah pada ketakutan kepada yang kuat. Lalu, penyair Libanon melanjutkanny: inilah gelanggang kehidupan sepanjang masa, dicatat di bumi selama berabad-abad, dijalani dalam keasingan selama bertahun-tahun, dinyanyikan sebagai lagu pujian selama berhari-hari, ditinggikan hanya selama satu jam, tapi satu jam ini disayangi Keabadian layaknya permata. (KEA)   


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment