Home » » KKN UIN Suka: Indahnya Nilai Silaturrahmi

KKN UIN Suka: Indahnya Nilai Silaturrahmi

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Saturday, June 27, 2015 | 9:49 AM

Laporan Wartawan Kabar Bangsa: Khairi Esa Anwar

KABARBANGSA.COM--Nomporejo-Panas bara matahari mencakar ubun-ubun, menjadi saksi petualangan yang nyaris tanpa beban bagi Alil dan Khai. Mereka berkunjung ke lokasi KKN di tiga dusun: Pandowan, Sorogenen I, Sorogenen II, yang masih satu dusun dengan mereka (red: Barongan). Udara kemarau ditambah angin yang menderu, menerbangkan debu-debu pesawahan yang kering kerontang. Apalagi bulan puasa yang penuh rayuan hawa nafsu akan membawa siapapun ke arah yang penuh tipu muslihat. Tak sekalipun membuat tekad mereka untuk bersilaturahmi ke sahabat-sahabat yang sama-sama berjuang. (Baca juga: KKN UIN Suka; Bulan Sabit di Barongan)

Budaya silaturahmi yang sudah menjadi tradisi turun-temurun telah menjadi warna yang tak asing di seluruh tempat. Seolah, ada yang hilang jika tidak melakukan hal tersebut. Seolah ada rasa yang hambar, jika silaturahmi tidak dibasiskan dalam kehidupan. Begitulah mereka yang bertarung dengan ganasnya matahari di bulan suci ini. Mereka hanya melihat sesuatu yang hakiki dibalik silaturahmi, bukan malah sebaliknya mengharap sesuatu pada silaturahmi.

Di antara jajar rumah pedukuhan yang tak begitu dekat, mereka menyusuri jalan yang kadang terjal dan rata. Dengan kesungguhan hati dan kemantapan niat untuk melajukan silaturahmi sebagai aspek dalam kehidupan yang perlu dijaga dan perlu dilestarikan. Deru motor dan mobil yang berpapasan, mengentutkan asap knalpot yang sengat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Wiji Tukul: Hanya ada satu kata: Lawan! Begitulah kira-kira yang menjadi dasar utama jargon mereka, yaitu: Hanya ada satu niatan: Silaturahmi!

Obsesi besar yang dibangun dengan niatan tulus akan memberikan dampak besar bagi kehidupan, utamanya silaturahmi yang bisa memanjangkan umur, melancarkan rizqi, serta hal lainnya. Berkenaan dengan demikian, mereka terus melayarkan niat yang semula benar-benar tulus tanpa ada pamrih keduniawian. Rangkulan satu sama lain telah membangkitkan kesadaran dalam diri mereka agar tetap menjaga keutuhan persaudaraan di antara umat manusia. Kesadaran inilah akan menjadi gerbang utama umat manusia, sebagai umat Tuhan untuk menjaga nilai ukhuwwah dengan sesama umat.

Sampai di pedukuhan, sambutan hangat meluncur senyum dari bibir sahabat-sahabat mereka. Sebagai sinyal bagi mereka disambut dengan baik, meski tanpa suguhan apapun. Suguhan senyum merupakan orkestra yang menjadi musik di hati agar selalu sejuk. Mungkin, potret mereka perlu dijadikan pelajaran agar kita semua tetap menjaga silaturahmi sepanjang hayat. Mlaku-mlaku dab! Ayo silaturahmi mas bro! (KEA)


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment