Home » » NU dan Jihad Lingkungan Hidup

NU dan Jihad Lingkungan Hidup

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, June 8, 2015 | 11:39 PM

Oleh : Muhammadun AS*
jihad
Sumber Gambar: psikotikafif.blogspot.com

Dalam laman youtube beberapa bulan lalu, KH A Mustofa Bisri, Rais Aam PBNU menyerukan kepada bangsa ini untuk menjaga lingkungan hidup secara menyeluruh. Gus Mus mengajak pemerintah dan semua warga untuk membangun planning yang tepat, juga disertai dengan kebijaksanaan. Kalau sesuatu itu merusak lingkungan, ya tidak boleh. Semua harus saling berkoordinasi dan menyampaikan kepada pihak-pihak terkait. Kalau ada penambang liar (tanpa izin) yang merusak lingkungan, harus segera dibereskan.

Seruan Gus Mus ini juga dikukuhkan dalam Istighosah Akbar pada Jum’at, 27 Maret 2015, di Pesantren Raudlotut Tholibin Rembang Jawa Tengah. Istighosah merupakan doa bersama berharap pertolongan kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia dan alam semesta. Istighosah Akbar disini dimaksudkan untuk keselamatan pegunungan Kendeng dan sumber daya alam Indonesia. Acara ini mendapatkan dukungan penuh dari Forum Nahdliyyin untuk Kedaulatan Alam (FNKSDA).

Sebagai Rais Aam PBNU, suara Gus Mus tentu saja menghadirkan motivasi besar para pejuang lingkungan hidup. Semua komponen NU sendiri, baik struktural maupun kultural, bisa secara masif bergerak bersama Gus Mus yang budayawan ini untuk mengawal masa depan lingkungan hidup yang makin tergerus. Ragam bencana sudah menjadi saksi bahwa arah jihad lingkungan harus terus disuarakan dan diperjuangan dengan sepenuhnya. Bagi Gus Mus, perjuangan secara lahir dilakukan, tapi tidak boleh melupakan berdoa secara batiniah. Dua-duanya harus dikerjakan, jangan ikhtiar lahir saja kemudian melupakan ikhtiar batin.

Muktamar 1994

Jihad menjaga dan melestarikan lingkungan hidup sebenarnya sudah disuarakan NU dalam keputusan Muktamar ke-29, di Cipasung Tasikmalaya tahun 1994. Dalam Muktamar itu diputuskan bahwa pencemaran lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dlarar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat).

Muktamar yang digelar di pesantren asuhan KH Ilyas Ruhiyat (Rais Aam PBNU, 1992-1999) ini merupakan bukti keteguhan NU yang berani lantang berjihad menjaga lingkungan hidup. Keputusan Muktamar ini bukan saja menetapkan hukum haram, tetapi juga mengategorikan sebagai kriminal, alias masuk juga dalam ranah hukum positif. Dengan begitu, merusak lingkungan bukan saja mendapatkan stempel “haram” dari agama, tetapi harus mendapatkan “hukuman” yang setimpal dari negara.

Pada 23 Juli 2007, PBNU juga kembali menegaskan melalui Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan Hidup (GNHLN) yang memutuskan bahwa pemerintah dan rakyat wajib bersikap dan bertindak secara nyata dalam melenyapkan usaha-usaha perusakan hutan, lingkungan hidup dan kawasan pemukiman, memberangus penyakit sosial kemasyarakatan, demi keutuhan NKRI. Secara khusus, PBNU mengajar warga NU dan rakyat Indonesia jihad melestarikan lingkungan (jihad bi’ah) dengan tetap berpedoman pada kaidah tasawuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar ma’ruf nahi munkar. Semua ini sebagai bentuk cinta tanah air dan menjaga jati diri bangsa tercinta.
NU
Sumber Gambar:mtsnutemayang.blogspot.com

Teladan nyata sebenarnya sudah dipraktikkan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dalam menjaga lingkungan hidup. Dalam sejarahnya hidupnya, Kiai Hasyim sangat gemar bercocok tanam serta menganjurkan warga NU dan masyarakat untuk bercocok tanam. Bagi Kiai Hasyim, cocok tanam adalah pekerjaan yang sangat mulia. Walaupun tidak secara verbal bicara lingkungan hidup, tetapi gerakan nyata Kiai Hasyim sangat jelas sebagai wujud komitmennya dalam menjaga lingkungan hidup sekaligus sebagai lahan penghidupan warga. Dengan bercocok tanam, Kiai Hasyim dan para santrinya bisa mandiri, bisa membantu sesama, sekaligus menjaga kelestarian alam.
  
Keteladanan yang sama dijalankan KH. Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU 1999-2014. Dikenal sebagai kiai yang teguh menjaga prinsip dan progresif memberdayakan masyarakat, Kiai Sahal sangat peduli dengan lingkungan. Bagi Kiai Sahal (1988), keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup – bahkan seluruh aspek kehidupan manusia- merupakan kunci kesejahteraan. Kenyataan di mana-mana menunjukkan lingkungan hidup mulai tergeser dari keseimbangannya. Ini akibat dari kecenderungan untuk cepat mencapai kepuasan lahiriah, tanpa mempertimbangkan disiplin sosial, dan tanpa memperhitungkan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan yang akan menyulitkan generasi berikutnya.

Bagi Kiai Sahal, pesantren harus hadir secara nyata bagi kelestarian lingkungan hidup. Karena hidup bersama dengan denyut nadi masyarakat, pesantren tak boleh abai dengan kondisi lingkungannya. Pesantren harus bertanggungjawab dengan meningkatkan pribadinya untuk memusatkan dirinya pada pewarisan bumi (alam) dalam rangka ibadah yang sempurna.

Hidup Sederhana

Perjuangan pertama-tama yang harus dilakukan dalam jihad melestarikan lingkungan, bagi Gus Mus, adalah hidup sederhana. Hidup berlebih-lebihan adalah pangkal utama kerusakan, termasuk dalam lingkungan hidup. Ini ditujukan buat semuanya, ya warga NU, para pejabat, termasuk ibu-ibu Rembang yang berjuang menjaga pegunungan Kendeng Rembang sampai demonstrasi di depan Rektoran UGM, 20 Maret lalu, karena ada peneliti UGM yang bersaksi dalam sidang Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, bahwa kawasan kars di Kendeng layak ditambang.

Jihad melestarikan lingkungan, yang pertama-tama dijalankan dengan hidup sederhana, harus disuarakan dalam momentum Muktamar ke-33 di Jombang, 1-15 Agustus mendatang. Jihad lingkungan hidup ini sangat terkait dengan kesejahteraan warga, sebagaimana dinyatakan Kiai Sahal Mahfudh.


https://www.google.co.id/search?tbm=isch&q=muhammadun+as&ei=D4l2Va6jC4ae8QWW7IOABg#imgrc=g_8GqrJpMmsEVM%253A%3BaTgAKhLiCABy8M%3Bhttp%253A%252F%252Fimages.solopos.com%252F2012%252F09%252F2809-Muhammadun-AS.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.solopos.com%252F2012%252F09%252F28%252Fgagasan-gur-dur-dan-kosmopolitanisme-peradaban-islam-333810%3B235%3B312
Muhammadun As, Pimpinan Redaksi BANGKIT, Majalah NU DIY. 



Artikel Terkait:

1 comments :

  1. Mari peduli terhadap lingkungan sekitar.
    Bagi Anda yang ingin mendukung lingkungnan sekitar dapat membeli dus makanan kami di http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete