Home » » Puasa Sosial

Puasa Sosial

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, June 17, 2015 | 10:34 PM

Oleh : @damar_kembang

ramadhan
Sumber Gambar: layyinakita.wordpress.com
Bulan Ramadhan adalah bulan Rahmat yang akan memberikan pencerahan bagi kehidupan umat manusia di muka bumi. Manusia diperintahkan untuk berpuasa, menahan dari makan dan minum, bersetubuh di siang hari, melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar, baik keji bagi dirinya sendiri maupun keji terhadap orang lain. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (2) 182, 184, 185 dan 187.
 
Puasa bukan sekedar perintah agama yang bersifat personal, tetapi juga amal (aktualisasi) yang bersifat sosial. Ketika lapar, umat manusia bisa merasakan derita kemiskinan: betapa kaum miskin kota yang hidupnya pas-pasan, sehari makan sehari perutnya membusung keroncongan, dapat dirasakan di saat kita berpuasa.

Internalisasi semacam itu akan menumbuhkan sisi kemanusiaan kita sebagaimana yang diungkapkan oleh Adam Smith dalam The Theory of the Moral Sentiments, bagaimana semestinya setiap orang harus bersikap sebagai pribadi yang berusaha memaksimalkan kepentingannya sendiri dan bagaimana individu semestinya bersikap sebagai anggota masyarakat yang baik agar tercipta keharmonisan dalam masyarakat.

Keharmonisan dalam tubuh masyarakat akan tercapai dengan baik ketika individu dan kelompok masyarakat dapat merenungkan tiga hal. Pertama, menyadari bahwa manusia tak bisa hidup sendiri. Manusia pasti membutuhkan manusia lain, bila yang satu sakit, manusia yang lainnya yang merawat. Bila si A lapar, si B dapat membantunya. Kedua, mengurangi sisi kriminalitas dan arogansi dalam tubuh masyarakat.

Masyarakat kita belakangan ini banyak dihantui oleh persoalan-persoalan kriminalitas yang tentu saja dilatar belakangi oleh mencekamnya kondisi sosial ekonomi di negeri ini. Seorang yang berpuasa akan dapat menahan diri dengan baik tersebab puasa pada hakikatnya adalah kontrol diri (self control).

Ketiga, meningkatkan kepekaan terhadap orang lain. Bila saudara-saudara kita banyak yang membutuhkan uluran tangan, membutuhkan bantuan, bagaimana kita sebagai individu yang bermasyarakat dapat membantu semampunya, baik secara tenaga maupun materi. Kurangilah persaingan yang tidak sehat untuk saling unggul, saling intrik, saling menindas diantara umat manusia, apalagi upaya-upaya licik untuk menjatuhkan orang lain.

Kehidupan hanya sekali, seorang yang mulia diantara kita adalah mereka yang memiliki jasa besar untuk menjadikan masyarakat kita lebih berdaya, menginspirasi masyarakat untuk lebih produktif dan memiliki eros kerja yang baik. Manusia dikenang karena jasa-jasanya, amal perbuatannya, kiprah baiknya dalam masyarakat.

***

Prof. Dr. M. Quraisy Shihab (2006) mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penyemangat, umat manusia mengisi kembali baterai jiwa yang lemah, mengisinya dengan totalitas ibadah secara personal dan mengisi kegiatan-kegiatan sosial yang mencerahkan manusia lain, mengembangkan nilai-nilai sosial dalam setiap individu, perdamaian , kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas dan semangat hidup yang lebih tinggi.

Siapa yang menjalani puasanya dengan sungguh-sungguh dengan permenungan yang kuat, ia tidak hanya akan mendapatkan lapar dan haus, melainkan implikasi kongkrit akan dirasakan mereka dalam konteks sosial. Seorang pemimpin yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan berhenti menindas rakyatnya, seorang hakim yang berpuasa dengan permenungan yang kuat, ia akan menjadi penengah yang adil.

Pada intinya, berpuasa juga merenung yakni melakukan refleksi esoteris dan kesadaran eksoteris sehingga bulan Ramadhan menjadi wahana atau manifestasi dari proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Pada bulan Ramadhan manusia menandai ciri-ciri kehidupan Muslim sejati atau kaffah sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasulnya.

Bila manusia mengaktualisasikan puasanya dengan baik, sebagaimana yang disabdakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, mereka akan mendapatkan dua kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan ketika berbuka. Secara formal, berbuka puasa terdapat dua pandangan (1) berbuka ketika maghrib sudah tiba, mereka dapat menikmati makanan bersama keluarga. Kalau pada bulan-bulan sebelumnya, jarang menikmati makan bersama keluarga karena terlalu sibuk oleh berbagai pekerjaan, maka di bulan Ramadhan manusia akan menikmatinya. (2) berbuka ketika umat Islam sudah keluar dari bulan Ramadhan yakni memasuki hari raya Idul Fitri.
burung kicau
Sumber Gambar: simomot.wordpress.com

Kedua, kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Allah Swt, menyediakan pintu khusus bagi orang yang melaksanakan puasanya dengan baik, dapat mentransformasikan ke dalam wilayah sosial dan memberikan pencerahan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Bagi mereka yang dapat mencerahkan, surga Allah tak hanya dirasakan di akhirat, melainkan di dunia ini, dalam kehidupan sosial ini mereka akan merasakan suasana surgawi karena dipenuhi dengan kehidupan damai, aman dan sentausa.

Oleh karena itu, marilah puasa Ramadhan ini kita jadikan sebagai lapangan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai puasa dalam konteks sosial, sehingga implikasi puasa bukan hanya dirasakan oleh masing-masing orang secara personal, tetapi manisnya puasa juga menjadi suasana dan cahaya puasa menjadi penerang jalan hidup masyarakat menuju perbaikan, baik sistem ekonomi, politik, pendidikan dan budaya.

Berpuasa pada hakikatnya sedang berlomba-lomba menciptakan jasa bersama, membangun eksistensi diri dan masyarakat, membangun cara berpikir kritis, solutif dan peka terhadap orang lain. Berpuasa adalah upaya menahan diri untuk menyakiti orang lain, apalagi menindas. Bila di negeri ini, setelah pelaksanaan puasa Ramadhan masih banyak penggusuran dan perilaku korupsi, berarti puasa yang mereka lakukan tak lebih hanya formalitas belaka.

Pada bulan Ramadhan kali ini, kita persiapkan diri kita sebaik mungkin agar puasa kita tidak gagal lagi, agar bangunan-bangunan spiritual yang kita tata selama bertahun-tahun membawa dampak efektif-kontributif terhadap masa depan masyarakat kita, untuk mengakhiri tulisan ini, mari kita nikmati puisi KH. A. Musthafa Bisri yang berjudul Nasihat Ramadhan Untuk Musthafa:

Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan
Ramadlan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi
atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang
menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa,
Ramadlah adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya
untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya
kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu
serahkanlah semata-mata padaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah
untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri
untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu.
Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.

Berpuasalah.
Suci
kan
dirimu.

Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang
mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu
atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan
sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu
hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu
untuk memuasi Ridla
Puasakan tanganmu
untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu
untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu
untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu
untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu
untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu
untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu
untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu
untuk menekan Sujud
Puasakan kakkmu
untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu
untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu
untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu
untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu
untuk menghayati Hidup.

Tidak.
Puasakan
hasratmu
hanya untuk
Hadlirat
Nya
!

Mustofa,
Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian
keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari
comberan hatimu?

Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.
Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu
yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini
seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.

Rembang, Sya’ban 1413



@damar_kembang, Pimred www.kabarbangsa.com



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment