Home » » Puisi Pagar, Pertemuan Estetis Dan Semangat Pembaharuan

Puisi Pagar, Pertemuan Estetis Dan Semangat Pembaharuan

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Sunday, June 7, 2015 | 7:09 PM

Oleh : Indra Kusuma*

Judul Buku         : Pagar Kenabian
Penulis               : Sofyan RH. Zaid
Penerbit             : TareSI Publisher
Tebal                  : x + 56 hal
ISBN                  : 978-602-72075-0-9           
Cetakan Pertama : Januari 2015


Pengantar


Buku Pagar Kenabian ini merupakan buku puisi tunggal pertama Sofyan RH. Zaid setelah 14 tahun proses kreatifnya dalam puisi. Buku ini seperti sebuah altar -atau juga sebuah cafe- di mana filsafat, cinta, lokalitas, dan tasawuf bertemu secara estetis. Empat unsur di atas seakan berbaur dan melebur menjadi satu kesatuan dalam puisi-puisi yang diungkap oleh penyairnya dengan gaya ‘romantis-religius’. Buku ini berbeda dari kebanyakan buku puisi indonesia yang telah terbit sebelumnya. Sebab buku ini tidak hanya menawarkan puisi -sebagai buku kumpulan puisi-, tetapi juga pembaharuan dan saripati berbagai disiplin ilmu yang ditulis secara puitis tanpa kehilangan fungsinya; “puisi sebagai salah satu karya sastra yang membebaskan,” kata Adonis. (Baca juga: Sastra Sebagai Juru Selamat)

Sofyan sebagai penyair telah menemukan ‘bentuk baru’ puisinya dengan tanda pagar (#) pada tiap lariknya sebagai penanda rima dan karakternya. Bentuk puisi berpagar seperti ini adalah ‘sesuatu yang baru’ dalam puisi (berbahasa) indonesia. Penemuan puisi berpagar ini diakui dalam Mukadimah-nya sebagai bagian dari to discovery yang terinspirasi dari nadhaman arab sewaktu nyantri di sebuah pondok pesantren.

Isi Buku

Secara umum buku ini berisi puisi-puisi yang sebagian besar telah dimuat di sejumlah media yang disusun kembali oleh penyairnya secara serius ke dalam empat bagian (bab):

I.    Sabda Kebenaran.

Pada bab pertama ini berisi puisi-puisi dengan judul: Nabi Kangen, Kawin Batin, Butterfly Effect, Filsafat Agama, Burung Phoenix, Kampung Kebenaran, Sehelai Rambut Alfreda, Langit Terbakar, Halaqah Pulosirih, dan Kampung Bandan. Bila dicermati semua puisi dalam bab ini mengandung muatan yang lebih dominan warna filsafatnya, baik filsafat barat dan timur. Puisi-puisinya seperti menjelaskan filsafat tersirat dan tersurat secara puitis. Sofyan seakan mengerti ucapan Subagio Sastrowardoyo, bahwa puisi dan filsafat tidak bisa dipisahkan. Puisi bisa jadi filsafat yang dipuitiskan. Misalnya bait pada puisi Halaqah Polosirih: 

di bawah bintang pandawa # angin mempertemukan kita
Plato dan Suhrawardi berloncatan # dari kubang langit peradaban
barat dan timur bertemu # Iqbal dan Goethe bertamu
Sadra membangun istana # berbatas lembah cahaya
Galileo jatuh dari bulan # Ghazali bergantung di awan

II.    Sabda Kesunyian.

Lalu bab selanjutnya berisi puisi-puisi dengan judul: Lembah Sembah, Luar Batang, Serat Kesunyian, Casanova, Perempuan Bekasi, Filosofia Al-Fatihah, Kupu-kupu Sepi, Risalah Rahasia, Kamar Penyair, dan Sederhana. Pada bab inilah puisi-puisi cinta –entah vertikal atau horisontal- terkumpul. Puisi-puisi cinta yang tidak hanya sekadar mendayu, tetapi penuh muatan nilai yang sublim. Dengan kata lain, Sofyan tidak termasuk dalam candaan Ajip Rosidi, bahwa orang yang jatuh cinta bisa menjadi seorang pujangga dan menulis puisi cinta. Sofyan melalui puisi-puisinya menghadirkan cinta tidak sebatas sebagai rasa semata, melainkan juga sejarah, gagasan dan pernyataan. Misalnya bait pada puisi Lembah Sembah: 
kesunyian
Sumber Gambar: dipantara.wordpress.com

berulang aku hancurkan ingatan # tetap saja bangkit berjalan
mencarimu ke lembah # hingga batas sembah
: kau tahu aku penyair # selalu hidup dalam getir
tunduk pada kenyataan # takluk pada perasaan

III.    Sabda Kebijaksanaan.

Kemudian masuk bab ketiga yang berisi puisi-puisi dengan judul: Sebagai Penyair, Anak Pulau Anak Rantau, Rindu Ibu Rindu Pulang, Gilieyang, Gilieyang II, Puncak Kebijaksanaan, Syathahat, Tanah Para Jawara, Ratib Rindu, dan Kepada. Pada bab ini warna lokalitas begitu kental diangkat Sofyan. Unsur dan nilai lokalitas yang hadir tidak apa adanya. Sofyan sanggup menimbang ulang dan memberinya pandangan baru, sehingga lokalitas dalam puisi-puisinya menjadi nilai universal yang bisa masuk pada setiap kelokalan dan terkadang terjadi apa yang disebut C.A. van Peursen dalam Strategi Kebudayaan (1976) sebagai persilangan budaya yang merupakan inti dari nilai kelokalan. Misalnya pada bait puisi Tanah Para Jawara:

inilah tanah para jawara # burung bersarang di kepala
masjid berloncatan dari bibir # batu bergetar dalam takdir
runtuh tembok istana # di Banten Lama
: langit dan akal # jaraknya hanya sejengkal

di tanah ini juga # aku cium harum Madura
IV.    Sabda Keselamatan.

Sebagai bab penutup berisi puisi-puisi dengan judul: Sang Penempuh, Suluk Laut, Fajar Bermata Bulan, Budak Keabadian, Glodok – Bekasi, Ziarah, Rumah Keselamatan, Suluk Salak, Malaikat Timur dan Barat, dan Semoga. Nah, di bab terakhir ini, puisi-puisi Sofyan terbaca sangat religius, lagi-lagi barangkali sebagai upaya penyairnya menyatukan dan mengakhiri bab dengan puisi-puisi religius yang lebih kepada nilai-nilai spiritual dari berbagai agama. Selain itu, apa yang ditulis Y. Sumandiyo Hadi dalam Seni dalam Ritual Agama (2006); agama membutuhkan seni sastra untuk menyampaikan ajaran dan ritaulnya, bisa jadi benar. Agama dan sastra dua hal yang saling terkait. Namun bisa juga Sofyan sedang menyampaikn atau menyembunyikan pengalaman keagamaannya (spiritual expirience) ke dalam bentuk puisi seperti tradisi kesufian. Misalnya pada puisi Suluk Laut:

engkau laut dalam diriku # ombak setia mendeburkan rindu
bulan bintang berenang # semesta berdiri sembahyang
malaikat mengepakkan sayap # menuliskan kitab ratap
kapal dari lain benua # berlayar dan melabuhkan doa



PenutupBuku ini hadir setelah 95 tahun usia perpusian indonesia, ketika dihitung dari 1920 mengacu pada Dami N. Toda dalam Tahap Perkembangan Estetik Perpuisian Indonesia. Buku ini layak dibaca, dikaji dan diteliti sebagai ‘bentuk’ baru perpuisian Indonesia dengan tanda pagar, pengaturan rima dan perhitungan jumlah kata serta suku kata pada tiap puisinya, misalnya pada puisi bertajuk; Serat Kesunyian, Puncak Kebijaksanaan, Ratib Rindu, Kepada dan Suluk Salak. 5 sajak dalam buku ini jika diperhatikan, terdiri dari 24 suku kata tiap lariknya dari awal sampai akhir puisi. Puisi-puisi dalam buku ini luar biasa, meski secara ‘isi’ perlu dikaji lebih mendalam untuk melihat lebih jauh apakah puisi-puisi dalam buku ini sanggup keluar dari wawasan estetik perpuisian indonesia dan menciptakan wawasan estetik baru. Tetapi inilah karya sastra, tidak ada yang benar-benar ada sendiri atau berdiri sendiri. Meminjam Istilah Sutardji Calzoum Bachri; menulis di atas tulisan orang lain. Namun setidak-tidaknya buku -puisi berpagar- ini menjadi alternatif penting -dan titik awal semangat pembaharuan-  di tengah kejenuhan perpuisian indonesia dewasa ini yang bebas dan nyaris seragam.

Ketika selesai membaca buku Pagar Kenabian ini, saya ingin mengulanginya kembali dan kembali. Dari larik ke larik, bait ke bait, judul ke judul, puisi-puisi dalam buku ini membuat saya terdiam dan menarik napas panjang. Seperti ada ‘kenikmatan aneh dan lain’ menderas dalam diri, meski pun tidak sepenuhnya saya mengerti puisi-puisinya. Maka sampai di sini saya pun sepakat dengan Levi-Strauss strukturalis Prancis itu, bahwa terkadang untuk mengerti sebuah teks (puisi) kita membutuhkan teks lain di luar puisi itu sendiri sebagai refrensi.

Bekasi, 06 Februari 2015


Indra Kusuma, penikmat sastra dan mahasiswa akhir Falsafah Agama, Universitas Paramadina Jakarta.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment