Home » » Saya, Bindara Abdul Hamid Banuaju, dan Rama Ahmad Muchlish Amrin

Saya, Bindara Abdul Hamid Banuaju, dan Rama Ahmad Muchlish Amrin

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Tuesday, June 9, 2015 | 10:00 PM

Oleh : Pangeran Mahwi Air Tawar

main kartu
Sumber Gambar: cahayaart.blogspot.com
Ketika sang penerjemah dan programer ulung, Bindara Abdul Hamid Banuaju, bersama penyair dan orator berbakat, Rama Ahmad Muchlish Amrin, datang ke rumah; meminta saya mengisi kolom tetap di kabarbangsa.com yang dikelolanya, tanpa berpikir panjang saya terima dengan hati penuh suka cita.

Kesanggupan saya atas tawaran yang menggembirakan dari dua sahabat, yang sekaligus saya anggap seperti saudara sendiri itu dikarenakan saya tetap ingin menjalin silaturahmi, terlebih, dalam waktu yang tak membutuhkan hitungan bulan ini saya akan pindah ke sebuah kota yang rasa-rasanya kami akan semakin jarang bermuka-muka.

Tak ada pengalaman yang istimewa di antara saya; Bindara Abdul Hamid Banuaju, dan Rama Ahmad Muchlish Amrin, dari persahabatan dan sekaligus persaudaraan yang patut kami banggakan atau, disesali ketika nanti di antara kami harus "berpisah". Selama ini kami hanya bertukar kabar tentang kesehatan keluarga, bermuka-muka tanpa tendesi apa-apa, dan saling membantu bila di antara kami membutuhkan.

Namun begitu, bukan berarti di antara kami tak pernah "bermusuhan", saya dengan penyair Rama Ahmad Muchlish Amrin, misalnya. Sebelas tahun silam ketika kami masih sama-sama berstatus santri di Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari, asuhan almaghfirullahu, Kiai Haji Zainal Arifin Thoha, kami sama-sama bejanji, nanti, pada tahun 2010, kami akan sama-sama menerbitkan buku kumpulan puisi.

Sebelas tahun telah berlalu, perjanjian yang kami sepakati di lapangan Minggiran itu tak kunjung berwujud. Entahlah. Mungkin terlampau berlebihan bila harus saya sampaikan bahwa puisi kami "belum sempurna" untuk diterbitkan, ya, meski sebagian besar puisi-puisi kami sudah dimuat di belbagai media nasional, namun bagi kami, puisi yang di muat media bukanlah ukuran bahwa karya itu bagus. Dan kami tak ingin berlebay-ria merayakan puisi yang di muat, atau ketika kebetulan diundang pada sebuah event sastra. Karena-- setidak-tidaknya-- bagi kami, sebuah event atau pemuatan, dan bahkan penerbitan antologi bukanlah ukuran atas kualitas karya itu sendiri yang patut dibanggakan; "berjingkrak-jingkrak seakan si penyair telah melampaui jenjang bahasa, estetika, gagasan, dan kemudian merasa dirinya berada di atas angin sehingga abai dengan realitas di sekitarnya.

Pembaca yang budiman dan berakal budi, maafkan atas kelancangan saya yang dengan sewenang-wenang memaksa pembaca untuk mengetahui kehidupan kami. Tapi bagaimana dengan saudara saya, Bindara Abdul Hamid Banuaju? Ia bagi kami seperti oase di tengah-tengah kegersangan batin. Hidupnya yang santun dan terbuka membuat kami belajar lebih banyak arti hidup, arti persahabatan dan persaudaraan.





Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment