Home » » Tips Sakti Membesarkan dan Memanjangkan Titit

Tips Sakti Membesarkan dan Memanjangkan Titit

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Saturday, June 20, 2015 | 3:01 PM

Oleh : Edi AH Iyubenu 

PERINGATAN: Baca sampai tuntas sebelum mempraktikkan. Jika dilanggar, risiko tanggung sendiri.

gedung tititit
Sumber Gambar : infospesial.net
Tentu, pertama, saya mengerti bahwa persoalan ukuran titit sama sekali bukanlah penentu kualitas silat-silat seksualitas. Seluruh seksolog telah menjelaskannya secara ilmiah. (Baca juga: Dedek Gemes Umrah Adalah Pilihan Terbaik Untuk Disandingkan Ke Pelaminan)

Tentu pula, kedua, saya memahami bahwa segala bentuk perjuangan kaum Adam (Yudhistira) untuk membesarkan dan memanjangkan tititnya adalah perjuangan ideologis-mitologis. Sama persis dengan kau ingin menyucikan diri sebelum Ramadhan dengan cara padusan, lalu beramai-ramai pergi ke sendang, embung, sungai, hingga pantai, dan berakhir dengan plirak-plirik lawan jenis; bokong siapa yang paling gemesin dalam keadaan basah?; dada siapa yang paling gemesin dalam keadaan basah?; dll. Padusan yang aslinya edukatif, berakhir dalam sebuah gua mitos akibat penggelinciran “the sacred”-nya (meminjam istilah Mircea Eliade).(Baca juga: Mens Sana In Titit Sano)

Sekali lagi, saya nyatakan bahwa keinginan membesarkan dan memanjangkan titit sepenuhnya adalah aktivitas mitologis. (Baca juga: Gagasan Tentang Komisi Dedek Gemes)

Sebagian kaum Adam merasa begitu bangga bila tititnya memiliki postur dan tekstur yang “lebih” dibanding lazimnya. Muncullah perasaan jumawa, wah, super, bahkan batman, sebagai penjelasan psikologis kenapa hal-hal demikian masih saja diperjuangkan oleh sebagian lelaki. Perasaan mitos yang dipercayai.

Bila ditilik dari fungsinya sebagai “alat pipis” yang makrifat atau nakirah, maka mau sebesar apa pun, jelas titit selalu memikul job desk yang sama saja. Mau segede punya kuda atau sekecil puntung Marlboro, job desk-nya sama saja. Ya pipis itu tadi. Dalam dua varian airnya.

Tetapi, marilah berikan saja ruang bagi mereka yang terus menggemesi titit besar dan panjang. Biarkanlah urusan membesarkan dan memanjangkan titit ini juga dipenuhi haknya di alam demokrasi ini. (Baca juga: Dedek-Dedek Gemes Turki)

Baik, sebelum saya kasih tipsnya, mohon simak hal-hal berikut dengan seksama. Jangan lewatkan. Jika Anda tak patuh, lalu mempraktikkan, dan ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan, misal tiba-tiba mengkerut setahun, saya tak bertanggung jawab. Saya lepas tangan. Term and condition-nya berlaku.

Jadi begini.

Anda harus selalu insaf, bahwa seksualitas hanyalah satu item dari item-item kompleks kehidupan ini. Orang yang hiperseks sekalipun, tetapi tidak diimbangi olahraga dan asupan yang memadai, aktivitas seksualnya takkan bagus. Begitu juga orang yang tuna pasangan, kendati ahli ngegym dan doyan sushi, pintar pula, penulis sekalipun, tetaplah takkan kuasa meraih hidup yang membahagiakan. Lha mau bahagia gimana, wong pasangan tititnya masih selalu sabun atau lotion. Parah lagi, pasangan tititnya adalah titit pula.(Baca juga: Menggemeskan Dedek Gemes)

Lupakan itu.

Ilustrasi relasi seksualitas dan kehidupan kayak Anda dandan sejam untuk jalan-jalan ke mal, lalu dengan pede masuk ke counter Guess, lantas menenteng sebuah tas yang dipilih nyaris sejam dan menyerahkannya ke kasir, ternyata Anda lupa bawa dompet. Semenyedihkan itu memang nasib orang yang gagal melengkapi item-item kehidupannya dengan baik, termasuk item seksualitas ini. Mau pintar, kaya, tampan, penulis lagi, tapi tuna asmara, begitulah nasibnya memalangi. Ah, sudahlah, lupakan lagi bagian ini.
pisang tititit
Sumber Gambar: liputan6.com

Tersebab hidup ini so complicated, Anda harus meradar dengan baik semua item yang menjadi pembentuk jati diri Anda, lalu membangunnya setahap demi setahap, menguatkannya, memegahkannya. Melalui proses yang tentu sangat panjang ini, pada gilirannya Anda akan menjadi manusia yang keren. Asyik. (Baca juga: Dedek Roro Fitria, Mbok Ayo Umrah Saja)

Di hadapan Anda, alam raya senantiasa memberikan kemurahan hati pada kita melalui pelajaran-pelajaran hidup yang menjenterah setiap hari, baik dari diri sendiri maupun orang lain.

Dom, pemeran utama Fats and Furious, misal, sampai pada kesimpulan begini dalam memaknai hidup: “Semua orang memang akan meninggalkan rumah menuju jalanan. Tetapi pada akhirnya mereka akan kembali ke rumah, sebab rumah adalah kehidupan yang sesungguhnya.”

Lain Dom, lain Siska yang dokter itu, yang juara cerpen Kampus Fiksi Emas 2. Kala ia terdampar di negeri orang, di hadapan menu-menu Eropa yang serba salad, roti, dan keju, ia sangat merindukan martabak. Lalu ia menyusun resep martabak dengan jitu sembari menggumam, “To go is to home.

Lalu silakan Anda cermati gagasan bisnis Ranald Kashali. Kian ke sini, konsep-konsepnya kian kental berbalut nilai-nilai spiritualitas. Kashali kini jelas beda dengan Kashali 15 tahun lalu. Puluhan tahun lalu ia sevisi sama Safir Senduk, misal, tetapi kini ia tampak sangat mewarisi watak niaga Ustman bin Affan. (Baca juga: Nasionalisme Goyang Dribel Duo Srigala)

Boleh pula Anda cermati Mario Teguh. Beliau kini selalu melandaskan “itu-itu”-nya pada Kamahakuasaan Ilahi. Mau urusan karir, bisnis, entrepreneurship, hingga jomblo, “itu-itu”-nya merujuk pada kenisbian manusia di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Mario dulu jelas tak seteguh Mario kini.

Kurang bukti yang lebih bom ya?

Baik, satu lagi. Para anak muda dan mahasiswa yang umur-umur ababil niscaya cenderung familiar dengan nama Nietzsche. Setiap mengutip Nietzsche, berasa tonjo inteleknya. Filsuf banget. Nietzsche, si pencetus “Tuhan telah Mati” itu, kau tahu, di karya-karya akhirnya, sebutlah Sabda Zarathustra, sudah kayak Mahatma Gandhi. Begitu wise, rendah jiwa, menempiaskan cara pandang yang universe. Soal universe Nietzsche itu berpangkal pada spiritualitas yang lazim kita kenal kini atau tidak, tentu itu akan panjang sekali perdebatannya. Yang pasti, ke-universe-an Nietzsche merefleksikan pergeseran filosofis dari nihilis menuju “berisi”. Sebuah diamteri filosofis yang tak sepele, tentu.

Catatan-catatan itu membuktikan dengan terang bahwa semua manusia pada fase panjang perjalanan hidupnya niscaya akan “bersentuhan” dengan “Yang Supra”, “Yang Primordial”, a.ka. Tuhan. Relasi intim manusia-Tuhan inilah yang akan selalu melingkupi kualitas item-item esensial kehidupan kita.

Buktikanlah bila masih ragu, sehebat apa pun Anda, baik materi atau kognisi, bila abai pada “sentuhan Tuhan”, pada detik dan menit tertentu Anda akan terjungkal pada lembah kelam “disorientasi hidup”. Rasa tiada berguna, mau apa lagi, untuk apa, harus bagaimana, demi apa, dan sebagainya. Dan, adakah hidup yang lebih menyedihkan dibanding hidup yang tak tahu harus dibawa ke mana?

Baik, sampai di sini, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan untukmu: “Masihkah merasa penting menyibukkan diri dengan urusan memperbesar dan memperpanjang titit, padahal kau telah tahu bahwa seksualitas hanyalah secuil item di antara kompleksitas hidupmu?”

Jika masih bilang penting sekali di sini, sungguh Anda hasyuh bener! Tetapi tenang, masih ada yang lebih hasyuh lagi kok, yakni kaum wanita yang masih sibuk mementingkan masalah titit panjang dan besar ini. Jomblo lagi….(Baca juga: Jomblo Adalah Yang-Yangan Yang Tertunda)

Sumpah, sangat kebangeten! Jelas-jelas titit bukan wilayahnya, lha kok masiiihhh menyibukkan diri ikut-ikutan membaca tulisan ini. Cewek macam apa kamu?

Namun baiklah. Tak usah khawatir. Saya tetap menghormati Anda yang pekok total demikian. Di bawah ini, saya akan memberikan tips sakti memperbesar dan memanjangkan tititmu.
Tolong hapal cepat ya, hanya satu kalimat pendek kok:

“KAU KIRA BESARNYA TITITMU MENENTUKAN BERAT AMAL BAIKMU DI AKHIRAT, HEH?! KALAU MEMANG DEMIKIAN, ENAK BENER ORANG ARAB DAN EROPA ITU! DASAR BEGO….!!! JOMBLO LAGI….”Maaf, empat kalimat ternyata.

Jogja, 20 Juni 2015  


Edi AH Iyubenu,  CEO Divapress dan Rektor #KampusFiksi Yogyakarta. Kandidat Doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Artikel Terkait:

1 comments :

  1. ah.. suka! suka saya sama bahasan dan pembahasannya. menyentuh yang paling 'dianggap' tabu untuk meoihat ke hal yang lebih spesifik. bukan soal titit saja kok ,,,
    ini lebih dari itu. apik lek

    ReplyDelete