Home » » Filosofi Jenggot Dalam Agama-Agama di Dunia

Filosofi Jenggot Dalam Agama-Agama di Dunia

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Friday, October 13, 2017 | 11:12 PM

Oleh : Nikodemus Yudho Sulistyo

Sepuluh tahun terakhir ini, isu dan tema menengenai terorisme global masih sangat mengemuka, kejadian demi kejadian di beragam belahan dunia menjadi fenomenal, mengejutkan, memperihatinkan, dan bahkan menjadi bahan perdebatan negara, kelompok masayarakat dan agama serta komunitas etnis pula.  Yang menjadi perhatian saya secara pribadi, adalah muncul dan berkembangnya stereotip yang berbau SARA dan paranoia.

Kita ketahui bersama bahwa segelintir orang, kelompok, atau negara cenderung memojokkan agama Islam dan muslim sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas serangkaian tindakan anarkis dan terorisme global. Bahkan di Indonesia sendiri, dimana umat Islam merupakan mayoritas dan merupakan negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia, masih mengkhawatirkan tindakan ormas-ormas berbasis agama Islam dan gerakan Islam radikal. Tidak hanya itu, tidak sedikit bahkan yang memandang ngeri dan paranoid dengan gaya berbusana dan penampilan tertentu dari umat muslim sebagai identitas mereka. Yang saya maksud di sini adalah penampilan para pria umat muslim dengan jenggot. Nah, hal ini lah yang ingin saya bahas di dalam tulisan saya kali ini.

Saya sendiri bukanlah pemeluk agama Islam, namun telah lama saya bertanya-tanya mengenai paranoia masyarakat [Indonesia maupun dunia] mengenai penampilan pria berjenggot [lebih khusus biasanya dengan celana congklang (diatas mata kaki)] kadang tidak berdasar dan tidak masuk akal. Bukankah jenggot hal-hal adalah alami bagi kaum Adam, layaknya kumis atau jambang? Seakan jenggot selalu pasti merujuk pada kesan ‘teroris’ atau kelompok Islam radikal.
Sumber Gambar: eramuslim.com

Banyak kasus di dunia nyata, di berbagai belahan dunia, diskriminasi ‘jenggot’ ini menjadi masalah yang serius, meskipun kadang terkesan konyol. Sebagai contoh yang sangat sederhana, pada tahun 2009, seorang petinju Inggris bernama Mohammed Patel yang beragama Islam dan memelihara jenggot dilarang bertanding. Panitia pertandingan tinju di Bolton Lads and Girl’s Club Annual Boxing Night melarang Patel untuk bertanding, kecuali ia bersedia membersihkan jenggotnya. Asosiasi tinju amatir Inggris hanya menyebutkan alasan mereka bahwa petinju harus cukur bersih demi alasan kesehatan dan keamanan. Tetapi banyak yang mencurigai bahwa ini ada hubungannya dengan sentimen keagamaan. Peraturan ini juga lucu menurut saya, karena silahkan lihat foto petinju juara dunia dari Filipina, Manny ‘Pacman’ Pacqiao yang pada tiga atau empat pertandingan terakhirnya sengaja memanjangkan jenggot dan kumisnya. Atau Antonio Margarito yang sempat menjadi lawan tandingnya. Atau, karena mereka berdua kebetulan beragama katolik, sehingga tidak ada larangan demikian?

Akhirnya saya memutuskan untuk mengadakan sedikit penelitian kecil mengenai ‘jenggot’ ini. Berhubung saya bukan penganut ajaran Islam dan bukan pula ahli agama, saya akan cenderung membahasnya secara filosofis, mulai dari hukum dan peraturan dan simbolnya.

Secara umum, paling tidak ada tiga agama besar yang memang memiliki aturan khusus mengenai jenggot ini, Islam, Yahudi, dan Sikh. Dari informasi yang saya dapatkan [mohon maaf kurang tepat, silahkan mengoreksinya], menumbuhkan jenggot pada pria bersifat sunnah karena berdasarkan hadits Nabi Muhammad [meskipun beragam pandangan dari ulama-ulama yang menyebutkan bahwa memelihara jengot adalah wajib hukumnya]. Yang memang membedakan pemeliharaaan jenggot pada umat Islam adalah bahwa Nabi Muhammad bersabda dari Ibnu Umar r.a., “Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot kalian panjang, dan potong tipislah kumis kalian!” (HR. Bukhori: 5892), serta masih banyak dalil-dalil lain dari hadits yang menunjukkan bahwa kaum pria muslim harus memanjangkan jenggot dan mencukur kumis, jadi tidak memanjangkan kumis, dan jenggot. Hanya jenggot.
Sumber Gambar: abunabilziyad.blogspot.com

Ada beberapa alasan mengenai aturan ini. Pertama, untuk membedakan kaum muslim dengan kaum Yahudi dan Nasrani pada masa itu yang juga memelihara jenggot [dan kumis, serta jambang]). Alasan kedua, jenggot merupakan perhiasan laki-laki, dengan jenggot Allah membedakan antara laki-laki dan perempuan dan termasuk tanda-tanda kesempurnaan. Dalam hal ini, jenggot dimaksudkan sebagai tanda ‘ke-macho-an’ kaum pria. Ini alasan yang sangat masuk akal. Laki-laki memang memiliki hormon rambut-rambut dan bulu di wajah [facial hair] yang sejak dari jaman dahulu telah digunakan sebagai sarana menunjukkan ketampanan, kedewasaan, dan pesona laki-laki di mata kaum Hawa. Meskipun masa sekarang terjadi pergeseran mengenai ‘selera’ kaum wanita terhadap pria ‘berbulu’ [mungkin termasuk budaya ‘pria metroseksual’ dan ‘pria cantik’ ala Korean boybands], jenggot masih dianggap pesona oleh banyak wanita di berbagai belahan dunia.

Pria-pria Kaukasia [Kulit putih Eropa, Amerika, Australia] adalah pria-pria dengan hormon bulu-bulu dan rambut di wajah yang subur. Selain alasan biologis dan geografis [silahkan cek secara kedokteran atau biologi mengenai mengapa orang Eropa memiliki bulu yang tebal dibanding orang Asia. Karena saya tidak akan membahasnya disini], seperti saya sebutkan diatas, jenggot dan bulu-bulu di wajah memang menjadi sarana pesona kaum Adam.

Di agama Yahudi, bila anda perhatikan para Rabi-nya, ternyata juga memanjangkan jenggot, jambang, kumis dan bahkan rambut di di bagian samping wajah mereka. Menurut Kabbalah Yahudi, jenggot dan jambang tidak boleh dicukur dan harus dibiarkan tumbuh dengan bebas. Ini sebagai identitas kaum Yahudi. Secara sederhana, dengan adanya jenggot, ini mewakili jembatan antara pikiran dan hati, pikiran dan perbuatan, teori dan praktik, niat baik dan tindakan baik. Karena dengan memelihara jenggot, membuka aliran ide dan filosofi pikiran kaum Yahudi dalam gaya hidup keseharian mereka. Sebagai identitas, jenggot membuat kaum Yahudi mengingat Tuhan dan melaksanakan ajarannya. Kalau kita cek lebih jauh mengenai aturan kaum Yahudi mengenai jenggot ini, kita akan menemukan aturan, hukum dan penjelasan yang begitu rumit. Ini mungkin sebabnya pada masa Nabi Muhammad, beliau memerintahkan umatnya untuk membedakan cara berjenggot dengan mencukur kumis dan memanjangkan jenggot.

Agama Sikh adalah sebuah agama terbesar ke-15 di dunia yang dianut oleh orang-orang India [mayoritas di Punjab, walau juga tersebar di dunia], yang kurang lebih didirikan pada abad ke-15. Bila melihat secara penampilan fisik, kadang kita bisa saja beranggapan bahwa kaum Sikh adalah muslim. Ini pernah terjadi di Amerika Serikat, dimana kaum Sikh berdemonstrasi, karena mereka mengalami gangguan fisik sebagai korban dari sentimen pada agama Islam oleh masyarakat Amerika. Ini dikarenakan bahwa memang kaum Sikh mirip dengan Islam, dimana mereka harus memanjangkan jenggot [bahkan jambang, kumis dan rambut], serta memiliki beberapa elemen dari Hindu dan Islam dalam ajaran mereka. Pria Sikh yang telah menerima Amrit, harus memakai ‘Lima K’ setiap saat sebagai perintah sepuluh Guru besar Sikh dalam ajaran mereka. Yaitu Kesh: rambut yang tidak dicukur [termasuk jenggot, jambang dan kumis], Kangha: sisir kayu, Kara: gelang logam, Kachera: bahan pakaian khusus, dan Kirpan: sebuah pedang kecil.
Sumber Gambar: makeshroh.com

Pada Kesh, pria Sikh tidak boleh memotong semua rambut di kepala dan wajah mereka, serta harus menggunakan turban, atau penutup kepala. Ini menandakan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Sebenarnya hampir serupa dengan Islam dan Yahudi. Nah, di dataran Eropa, sebelum masuknya Nasrani, orang-orang Yunani dan Romawi kuno juga sudah mengenal dewa-dewa yang secara fisik juga menumbuhkan jenggot. Lihat saja dewa tertinggi Yunani, Zeus.

Meskipun tidak ada aturan dalam ajaran Kristiani, namun, sudah dipastikan Yesus Kristus dalam pengambarannya juga memelihara jenggot, jambang dan kumis. Ini saya pikir hanya karena pada masa itu, hampir semua pria memelihara jenggot. Mungkin karena memang hormon, alasan geograis, dan fashion. Bukankah Yesus memang terlihat tampan dalam setiap gambar atau lukisannya dengan jenggot? Ha ha
Dalam kitab Perjanjian Lama Kristiani atau ajaran Judeo-Christian, Nabi Musa malah jelas-jelas mengatakan: ‘Thou shalt wear facial hair.’

Dalam beberapa gereja Protestan, secara fisik Allah malah digambarkan sebagai orang tua dengan jenggot putih. Begitu pula para pendeta dan biarawan gereja Katolik Ortodoks Yunani dan Rusia yang tetap bertahan untuk berjenggot, bahkan beberapa sangat panjang. Tidak sampai disitu saja, kita pergi ke Asia Timur, dimana ajaran Taoisme dan Konfusianisme atau Konghucu yang berasal dari daratan China menyebar ke Korea, Jepang dan Asia Tenggara. Sang Laotzu atau Laozi, atau yang dikenal sebagai pendiri agama-filsafat China Taoisme, ternyata juga berjanggut. Bahkan beliau telah memiliki janggut yang sangat panjang dan berwarna putih sedari ia dilahirkan [menurut ajaran Tao, Laozi dilahirkan sudah dalam fisik tua]. Begitu pula para pendeta ajaran Tao yang sudah pasti harus memanjangkan jenggot mereka. Sudah pasti begitu pula dengan Confucius [Kong Fuzi, Kung-fu-tzu] pendiri ajaran agama-filsafat Konghucu, yang juga memiliki jenggot panjang yang putih.

Penjelasan mengenai jenggot ini dapat kita temukan dalam ajaran Tao, yang disampaikan oleh Laozi sendiri. Ini berdasarkan ajaran dan pandangan penganut Taoisme mengenai cara mereka memandang tubuh manusia.
Tao memandang tubuh manusia dengan tiga istilah, ti ‘tubuh/badan’ menandakan tubuh secar fisik, xing ‘bentuk’ merujuk kepada tubuh sebagai tempat roh, dan shen ‘orang/pribadi’, yang menandai keseluruhan manusia termasuk aspek-aspek non materil, seperti pikiran, perasaan, sifat dan peran sosial. Jadi setiap bagian tubuh manusia adalah dunia kosmos yang mewakili semesta alam. Jenggot sendiri, sama seperti rambut, adalah bagian tumbuh yang tumbuh secara alami.
Sumber Gambar: wanfugong.weebly.com

‘Mata kiri Dao [kurang lebih memiliki konsep serupa dengan Tuhan dalam ajaran monoteis lainnya] menjadi matahari; mata kanannya adalah bulan; kepalanya, Gunung Kunlun; jenggotnya, planet dan konstelasi; tulang-tulangnya, naga-naga ….”

Dewa-dewa Tao pun [the immortals] juga digambarkan memiliki jenggot yang sangat panjang. Maklum, mereka adalah mahluk abadi yang memiliki waktu sangat panjang untuk memanjangkan jenggot.
Bila kita ke sebuah kuil Tao/Konghucu atau kuil Buddha Tridarma, atau pekong tionghoa, misalnya di altar utama Hok Tek Bio, kita akan menemukan berjajar tiga patung dewa-dewi: Hok Tek Ceng Sin [dewa bumi), Kwan Sheng Te Kun (panglima perang) dan Kwan She In (dewi welas asih atau dewi penolong), dimana kita akan melihat bahwa Hok Tek Ceng Sin dan Kwan Sheng Te Kun juga memiliki jenggot yan panjang, sangat panjang malah.

Tidak sampai disitu, mari kita lihat pada agama Buddha. Secara umum, kita mengetahui bahwa para biarawan Buddha diharuskan mencukur rambut di kepala dan wajah mereka, bahkan bagi para biarawati-pun harus plontos. Ini secara sederhana menjelaskan bahwa mereka harus bersih sehingga dapat berkonsentrasi pada ajaran dan meditasi mereka tanpa terganggu fokusnya oleh rambut-rambut di kepala dan wajah mereka. Padahal para orang suci Zen dan Bodhidharma, serta Sakyamuni Buddha [Sidharta Gautama] sendiri tidak botak. Mereka memiliki rambut yang sangat panjang dan digelung. Di Jepang, para biarawan Zen dan Ch’an, seperti Master Dogen, memiliki jenggot yang panjang. Termasuk para Bodhisatva Buddha dalam ajaran Buddha Mahayana [Kwan Sheng Te Kun adalah panglima perang dalam ajaran Tao, karakter percontohan etika dalam ajaran Konghucu, dan Bodhisatva Satyakalama dalam ajaran Mahayana Buddha].

Kita belum mengetahui dan membahas ajaran-ajaran agama lain, semisal Baha’i, Hindu, atau lainnya di dunia ini. Tidak menutup kemungkinan, ada penjelasan mengenai jenggot ini. Jadi dalam banyak ajaran agama dan kepercayaan di dunia ini, jenggot bukanlah hal yang aneh. Secara filosofis, saya dapat menyimpulkan, bahwa dalam banyak ajaran agama dan kepercayaan, jenggot yang panjang bisa dianggap sebagai bentuk alamiah dari seorang laki-laki, bentuk kesempurnaan ciptaan Tuhan. Pada ajaran di Asia, memiliki jenggot yang panjang bisa digambarkan sebagai orang yang bijaksana, berisi, berilmu, berpengalaman dan berpengetahuan yang luas.
Sumber Gambar: wikipedia.org

Saya tidak akan membahas mengenai alasan biologis dan geografis, misalnya jenggot sebagai pelindung dingin bagi orang-orang Eropa atau alasan lainnya mengapa orang India dan Timur Tengah cenderung ‘berbulu’ lebat dibanding orang Asia Timur dan Tenggara misalnya. Namun, alasan lain yang masih berlaku sampai sekarang secara filosofis adalah bahwa jenggot adalah perhiasan laki-laki, sama seperti rambut pada perempuan. Pesona laki-laki pada jenggot membuat kaum Hawa tertarik. Dengan berjenggot, kesan ‘macho’ atau jantan laki-laki kan lebih terasa. Misalnya saja pada jaman modern seperti sekarang ini, jenggot menjadi ‘fashion’ banyak musisi yang memainkan musik metal, musik yang dianggap keras dan ‘jantan’ mewakili kaum pria. Sebut saja James Hetfield, dedengkot trash/heavy metal asal Amerika, vokalis dan gitaris band Metallica.

Sebagai penutupan, saya hanya ingin menyampaikan bahwa stereotip bukanlah sebuah pola pikir yang baik. Dimana ini membuat pola pikir kita semakin sempit dan cenderung tertutup. Pada akhirnya, kita hanya terjebak pada sikap anti, fanatik, dan bahkan paranoid. Bukankah ini merugikan kita sendiri? Tulisan saya sama sekali tidak ditujukan untuk mendeskriditkan atau memperolok ajaran agama apapun, membela dan menyerang agama lainnya, atau menghina ‘jenggot’ itu sendiri. Malah sebaliknya, ini adalah salah satu usaha saya untuk mencoba memahami dengan bijak dan terbuka persoalan pola pikir kita yang sangat sempit mengenai stereotip ini. Hati-hati mungkin perlu, namun analisis dan pemahaman adalah yang terpenting. Semoga jenggot tidak lagi sama dengan teroris. Semoga jenggot tidak lagi sama dengan paranoia. Sama seperti tato tidak sama dengan preman dan penjahat.

Akhirnya, ‘filosofi jenggot’ semoga memang menjadi sebuah filosofi, yang tidak sekedar dipikirkan, namun juga dirasa. Yah, paling tidak dipertimbangkan lah untuk sekedar membuka pikiran dan wawasan. Semoga kita tidak lagi gampang menghakimi dan sedemikian mudah paranoid dan selalu khawatir pada ‘jenggot’.


* Penulis adalah seorang dosen Bahasa Inggris, saya juga menyebut saya seorang musisi dan analis dan penyimak gejala sosial, sebagai akibatnya, blog ini berisi sampah pemikiran, pendapat, dan karya-karya saya dari beragam tema. Saya menulis dari musik, pemikiran filsafat/filosofi, sosial budaya, dan karya sastra.


Sumber Tulisan: nikodemosoul.wordpress.comhttps://nikodemusoul.wordpress.com/2012/07/26/filosofi-jenggot/


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment