Home » » Mempertanyakan Kelamin Sastra Kontemporer

Mempertanyakan Kelamin Sastra Kontemporer

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, September 28, 2015 | 12:22 AM

Oleh : Maghfur MR

Bukankah sastra itu indah dan bermanfaat (deuce et utile)? Bukankah sastra melahirkan pengalaman katarsis? Dua hal tersebut sangat laik disuguhkan untuk mempertanyakan kelamin sastra kontemporer sekarang ini. Karya sastra angkatan 2000-an dikenal cyber sastra. To day, sastra yang bertebaran di dunia cyber atau internet lebih marem disebut as-cot, asal nyocot. Instan. Padahal Mie Instan pun masih perlu dimasak. Kesan ini yang sering muncul saat membaca karya sastra akhir-akhir ini.

Sudah jamak diketahui, bahwa sastra kontemporer merupakan karya sastra yang tumbuh sekitar tahun 70-an. Sastra ini bersifat eksprimental, memiliki ciri–ciri yang melanggar konvensi-konvensi sastra yang biasa berlaku pada masa sebelumnya. Sastra kontemporer tidak mementingkan kulit luar (bentuk) melainkan kontennya. Di antara tokohnya, Sutardji Calzoum Bachri. Hal ini muncul sebagai reaksi terhadap sastra konvensional yang dianngap beku. Adakah sastra kontemporer sekarang ini masih mempunyai orientasi seperti awal munculnya?
Sumber Gambar: sisyaali.wordpress.com

Coba kita simak mantra Sutardji yang cukup panjang, sajak “Jadi”. Tidak setiap derita-jadi duka/Tidak setiap sepi-jadi duri/Tidak setiap tanda-jadi makna/Tidak setiap tanya-jadi ragu/Tidak setiap seru-jadi mau/Tidak setiap tangan-jadi pegang/Tidak setiap kabar-jadi tahu/Tidak setiap luka-jadi kaca/Memandang Kau/Pada wajahku. Ia melepaskan diri dari konvensional sastra yang berlaku di saat itu. Ia lebih memilih kehendak makna sajak mantra.

Gebrakan sastra kontemporer diikuti oleh sastrawan selanjutnya sampai sekarang. Namun menjadi miris ketika sastra hanya berarti al-fan li al-fan (seni untuk seni). Karena ia tidak bisa merespon fakta sosial yang tengah dialami oleh bangsa ini. Nah, tampaknya sastra kontemporer sekang ini tidak lagi membawakan dimensi sosial-budaya. Sastra kontemporer saat ini kehilangan kelaminnya sebagai keindahan, kemanfaatan, dan katarsis. Karena berganti kelamin, nge-pop, cabe-cabean, dan terong-terongan. Padahal menurut Sumaryono dan Saini, sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran kongkrit yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa.

Karya sastra sekarang ini yang banyak mewarnai media massa, baik yang ‘cetak’ ataupun yang di ‘internet’ mayoritas sastra yang nge-pop, dst. “Makna puisinya?” Tidak tahu juga, jawab penulisnya dalam suatu kajian sastra (tidak perlu menyebut merk). Demikian bingungkah sastra Indonesia pada dewasa ini? Kelamin sastra kontemporer ini tidak lagi berdiri tegak dengan membawa bendera katarsis.

Sastra yang terlahir di media sekarang sangat sepi dari pengalaman kerohanian. Sastra berjalan atas tuntunan kehendak media massa yang kapitalis. Belum lagi adanya unsur intrik politik yang memerkosa sastra Indonesia hari ini. Ini tak lain sebagai representasi globalisasi yang semakin tampak pada millenium ini. Dunia yang serba instan, sastra pun ikut instan. Ini kita lihat pada karya sastra sekarang yang mengalami pudarnya makna hakiki. Yang seharusnya indah, bermanfaat, dan katarsis. Bagaimana tidak? Jika karya hanya as-cot. Padahal tidak ada yang bener-bener instan, termasuk Mei Instan pun.

Dewasa ini, sastra sebagai kendaraan untuk meraup keuntungan semata. Semakin lama semakin gelap makna. Padahal sastra kontemporer seharusnya mengarah pada kreativitas yang berkualitas. Damono mengungkapkan, bahwa sastra menampilkan kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dengan keistimewaan tersebut, kemajuan sastra akan terbang melesat menuju puncak kegemilangan. Sebagaimana yang dilakukan sastrawan terkemuka, Muhammad Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, Ibnu Arabi, Pablo Neruda, Jean-Paul Sartre, Mohandas Karamchand Gandhi, Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Sutardji, dll.  Tapi kapan?

Kelamin sastra sekarang ini terputus. Wajib bangkit. Tugas ini bukan hanya bagi sastrawan melainkan juga media yang mempublikasikan karya seni. Kelamin sastra yang berkualitas harus menembus dinding rahim peradaban. Tegaknya kelamin  sastra adalah tegaknya bangsa pula. Kelamin sastra yang elok akan mengetengahkan manfaat, sehingga menjadi katarsis yang bisa mengantarkan pada rumah ketenangan. Inilah upaya pencarian kelamin sastra kontemporer yang disorientasi. Kelamin itu harus bangkit!

*) Penulis adalah staf peneliti ICRS UGM dan bergiat di LSKY (Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta).



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment