Home » » Senja Yang Memikat Di Tanah Toraja; Sebuah Catatan Perjalanan Seorang Peneliti

Senja Yang Memikat Di Tanah Toraja; Sebuah Catatan Perjalanan Seorang Peneliti

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, September 14, 2015 | 12:25 AM

Oleh : A. Sudirman

Setelah melakukan perjalan panjang dan berkelok dari Kab. Luwu, sore itu kami tiba di Toraja Utara, angin sepoi menyambut kedatangan kami, menggugurkan daun-daun yang sudah kuning serta membelai lembut sekujur tubuh dan dinginnya terasa hingga ke tulang-tulang.

Beberapa ekor burung terbang hinggap di dedahanan, sesekali bernyanyi riang, satu sama lain saling bersahutan, selain itu ada tiga ekor anjing berlari mendekat ke rombongan seolah ingin berkenalan dan bersahabat dengan kami, meskipun rombongan tak menghiraukan kedatangan tiga ekor anjing tersebut, anjing-anjing itu tidak lantas marah, menggonggong apalagi menggit, ia hanya datang lalu mengamati kemudian kembali ke tempat semula dan beristirahat.
Sumber Gambar: dok. A. Sudirman

Setelah semua barang dimasukkan kami serombongan mencoba bersantai di bawah bangunan yang bentuknya mirip dengan perahu. Iya mirip dengan perahu, itulah Tongkonan rumah adat di tana Toraja. Setelah saya perhatikan ada 2 tongkonan ukuran besar terletak disebelah selatan dan ada 6 tongkonan agak kecil terletak di sebelah utara dan tongkonan-tongkonan itu menghadap ke arah utara dan keselatan. Pada tongkonan yang besar saya dapati 33 tanduk kerbau dan satunya lagi 34 tanduk yang tengahnya di cat putih dan disusun rapi.

Pada bagian atas saya juga mendapati ukiran begambar dua ayam jantan yang berhadapa-hadapan. Disaat saya masih sibuk memperhatikan bangunan rumah pusaka ini, tiba-tiba seseorang kakek datang menghampiri dan mengajak bersalaman, dan kakek tersebut adalah pemilik rumah tongkonan yang kebetulan sedang saya amati, namanya Andarias Sampererung, usianya 83 tahun, pensiunan Angkatan Darat.

Menurut beliau untuk membangun satu rumah tongkonan memerlukan biaya yang sangat besar hingga mencapai 500 juta rupiah dan membutuhkan waktu yang cukup lama karena bentuknya yang cukup rumit. Bahkan untuk mengukir saja, satu rumah tongkonan yang sudah jadi membutuhkan waktu 1 bulan dengan biaya sekitar 40 jutaan.

Tongkonan biasanya dibanguan secara berpasang-pasangan, orang Toraja  menyebutnya suami  istri. Si Suami biasanya terletak di sebelah utara dan ukurannya lebih kecil karena dimanfaatkan untuk lumbung padi. Sedangkan Si Istri letaknya di bagian selatan dengan ukuran bangunan lebih besar karena dimanfaatkan untuk tempat tinggal.

Sumber Gambar: dok. A. Sudirman
Di depan tokonan yang terletak di bagian selatan terdapat tanduk-tanduk kerbau yang tersusun rapi, sebagai pengabadian pesta rambu solo. Pesta rambu solo adalah pesta upacara kematian, jadi semakin banyak tanduk kerbau yang dipasang menunjukkan semakin tingginya kemampuan keluarga tersebut dalam mengadakan pesta upacara kematian.

Dua gambar ukiran ayam jantan yang saling baku hadap adalah lambang perdamaian, yang pada mulanya jika di kalangan masyarakat Toraja terjadi perselisihan, dan setelah dilakukan musyawarah namun tak kunjung menemukan titik temu atau titik damai, maka masing-masing pihak yang berselisih harus menyiapkan ayam jago sesuai adat yang berlaku.

Kemudian ayam tersebut diadu dan disaksikan ramai-ramai. Nah, ketika ada salah satu ayam yang  kalah maka mau atau tidak mau, harus dengan lapang dada pihak tersebut harus menerima dikatakan sebagai pihak yang bersalah dan setelah itu tidak ada lagi perselisihan di kalangan mereka. Namun selama masih bisa dilakukan dengan musyawarah, maka tetap diutamakan penyelesaian masalah dengan duduk bersama.

Masih menurut Andarias Sampererung, bagi masyarakat Toraja yang masih memegang teguh adat istiadatnya. Pesta kematian adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh anak cucu dari yang meninggal, sebab jika belum di lakukan pesta upacara kematian, orang yang sudah meninggal itu belum dikatakan benar-benar meninggal dan belum bisa dipindahkan ke tempat persemayaman permanen. Dan sesuai adat di Toraja, orang yang meninggal tapi belum dilakukan pesta rambu solo maka orang tersebut dianggapnya masih hidup namun dalam keadaan sakit. Iya layaknya orang sakit, Si Jenazah masih diberi makanan dan minuman kesukaannya setiap hari, jika ia merokok maka di sampingnya juga akan tetap disediakan beberapa batang rokok kesukaan Si Jenazah selama hidupnya.

Sumber Gambar: dok. A. Sudirman
Pesta kematian membutuhkan biaya yang sangat besar, dimana keluarga besar yang meninggal harus menyiapkan beberapa ekor kerbau yang harganya sangat fantastis, berkisar antara 50 juta hingga miliaran rupiah. Harga kerbau tergantung dari warna dan bentuk tanduknya, jika warnanya putih kisaran harganya 50 hingga 100 juta rupiah, sedangkan jika warnanya hitam bisa mecapai 250 juta rupiah dan jika belang maka harganya lebih mahal lagi karena bisa mewakili beberapa kerbau sekaligus, apalagi jika kerbau tersebut memiliki tanduk lurus ke samping maka harganya akan melangit, sedangkan kerbau dengan tanduk melengkung tidak terlalu mahal.

Tidak cukup hanya kerbau, namun keluarga besar juga harus menyiapkan beberapa ekor babi untuk pelaksanaan pesta upacara kematian. Persiapan pesta juga membutuhkan waktu yang cukup lama, karena harus menyiapkan beberapa tongkonan yang di bawahnya disipakan tempat duduk untuk para keluarga maupun tamu.

Dan setelah semua siap maka pada waktu yang ditentukan kerbau dan babi dipotong kemudian dimasak lalu dihidangkan bersama nasi kepada para tamu dengan niatan bersedekah. Lamanya pesta upacara kematianpun berpariatif tergantung dari tingkat kemampuannya, ada yang cukup tiga hari namun ada pula yang mengadakan pesta hingga tujuh hari. Pesta ini sebenarnya adalah pemindahan jenazah dari rumah ke tempat persemayaman permanen, yakni rumah khusus yang disediakn untuk jenazah, satu rumah bisa menampung beberapa jenazah selama masih ada hubungan keluarga, karena bentuk dalamnya rumah tersebut adalah rak-rak seperti kamar jenazah.
Sumber Gambar: dok. A. Sudirman

Pada dasarnya pesta upacara kematian akan dilakukan sesuai dengan kemampuan dari anak cucu dari yang meninggal dan bisa juga dilakukan secara patungan dari keluarga-keluarga yang masih hidup. Tidak ada ketentuan batasan waktu seseorang dilakukan pesta rambu solo mulai dari ia wafat sampai dilakukannya pesta, batasannya adalah sampai keluarga tersebut mampu mengadakan pesta upacara.

Dan pesta upacara ini juga bisa dilakukan secara sekaligus, seperti yang dilakukan oleh keluarga Bapak Andarias Sampererung beberapa tahun lalu, saat sedang melakukan persiapan pesta  upacara kematian tehadap salah satu keluarganya, namun secara tiba-tiba cucunya yang berada di Sorong juga meninggal. Maka cucu yang meninggal di Sorong Papu Barat tersebut segera dipulangkan dan dilakukan pesta upacara kematian sekaligus dengan keluarga yang sudah meninggal sebelumnya.

Sore terus beranjak menjadi petang, lampu-lampu di tongkonan sudah menyala, angin bertiup makin kencang dan tubuh makin kedinginan. saya meminta sebatang rokok pada seorang kawan dan menyalakannya, namun tak juga bisa mengusir hawa dingin. Setelah sebatang rokok habis  kami mengajak pak Andarias Sampererung berfoto bersama sebagai-kenang-kenangan.

Kami sangat bersyukur karena bisa mendapatkan Bassecamp, sebab pada kunjungan pertama ke Tana Toraja, sekitar juli tahun 2013 lalu, kami tidak mendapatkan bassecamp, tersebab diwaktu yang bersamaan ada acara rambu solo menyambut 100 tahun injil masuk Toraja dan juga ada beberapa warga yang TELAH dan SEDANG serta AKAN mengadakan pesta upacara kematian. Terpaksa kami menyewa penginapan selama kurang lebih satu minggu.Kali ini kami sungguh bersyukur bisa bermalam di rumah Kakek Andarias Sampererung. Terimakasih Kek, semoga selalalu panjang umur ya, Kek. Amiin.

Toraja Utara, 12 September 2015




Artikel Terkait:

1 comments :