Home » » Bila Istrimu Memusuhi Ibumu, Kamu Pilih Yang Mana?

Bila Istrimu Memusuhi Ibumu, Kamu Pilih Yang Mana?

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Tuesday, December 1, 2015 | 8:23 AM

Oleh : Wulan Darmanto

Pertanyaan ini sebenarnya saya tujukan kepada para suami. Sebuah pertanyaan menyakitkan dan musykil untuk dijawab. Dalam posisi yang setara, mana yang akan kau pilih; Ibu yang telah melahirkanmu, atau istri yang menemani harimu, juga ibu dari anak-anakmu?

Sejak menulis catatan “Menantu vs Ibu Mertua” inbox saya dibanjiri diskusi-diskusi hangat dengan sejumlah menantu wanita. Tentu sedari awal saya menegaskan, bahwa kapasitas saya bukan konsultan perkawinan, apalagi ustadzah. Namun jika ada kawan yang ingin berbagi, tentulah diri ini ingin menjadi orang yang bermanfaat. Meski hanya menyediakan sepasang telinga.

Ada seorang menantu muda, yang gamang saat bercerita “Gaji suami saya sepenuhnya diserahkan ke ibu mertua. Nanti ibunya lah yang mengelola keuangan rumahtangga kami. Mungkin bisa disebut rumahtangga bersama. Karena kami masih tinggal serumah..”

Aduh..iba hati saya pada ibu muda ini. Tinggal serumah dengan mertua saja sudah membawa konsekuensi. Yang celakanya, banyak tidak enaknya. Nah ini masih ditambah dengan ketidakleluasaan akses terhadap pengaturan keuangan keluarga.

Alih-alih salut pada suami yang sebegitu bakti pada ibunya, saya malah gemas dengan suami model ini.\

Ingin sekali saya ajak dia bicara. Bung, benar Anda wajib menempatkan bakti Anda pada ibu. Tapi Anda juga harus ingat, bahwa setelah menikah Anda menjadi pribadi baru yang mengambil alih tanggung jawab atas pribadi lainnya. Anda membentuk keluarga baru. Yang itu berarti, istri Anda lah partner utama Anda dalam membangun hidup baru ini. Bukan ibu.

Tapi bukankah bakti lelaki memang tetap diutamakan pada ibu?

Benar. Tapi tidak dengan cara menyerahkan keuangan keluarga kepada ibu Anda, dan menomorduakan istri.
Ibu dari seorang anak lelaki, dulu pun pernah muda. Pernah menjadi pasangan baru yang punya cita-cita. Punya kehidupan yang ingin tidak diusik oleh ibu atau pun mertuanya. Maka setelah si anak bujangnya berumahtangga, sebaiknya ibu flashback ke kehidupan masa mudanya dulu. Kira-kira bagaimana rasanya jika ia tidak menjadi ratu di rumahtangganya sendiri.

Maka seorang ibu yang bijaksana, seharusnya tidak memasuki ranah domestik si anak lelaki. Apalagi menjadi pengatur keuangan di dalam rumahtangga mereka. Biarkan si anak membangun keluarga barunya, dengan mandiri, tanpa campur tangan pihak lain. Sebagaimana dulu si ibu, membangun rumahtangga bersama suaminya.

Tapi kan tidak semua pasangan baru langsung mapan secara ekonomi; bisa beli atau mengontrak rumah sendiri yang terpisah dari orangtua?

Di sinilah benar-benar dibutuhkan kebijaksanaan ibu, yang dengan sadar melepas anaknya berumahtangga. Sebagai ibu sekaligus mertua, jika si anak terpaksa masih harus tinggal dengan mereka, sebisa mungkin jangan mencampuri urusan anak. Baik dalam hal menata rumah, cara mengasuh anak, apalagi mengelola keuangan. Sebab dalam banyak kasus, ibu yang terlalu mengatur rumahtangga anaknya akan menimbulkan konflik di dalam rumahtangga si anak itu.

Jika ibu masih sulit untuk “tidak berkomentar” terhadap kebiasaan menantu yang di luar kebiasaannya, peran suami lah yang sangat dibutuhkan untuk menjembatani keinginan ibu, dan kebutuhan istri.

Jangan bandingkan istri dengan ibu. Dan ajarilah istri berbakti kepada ibu Anda, dengan cara berbakti pula kepada orangtuanya. Istri yang baik pasti akan berbuat hal yang sama pada mertuanya.

Saya ingat diskusi lainnya di inbox FB, yang cukup membuat saya haru. Ibu muda dua anak yang curhat betapa si suami memaknai bakti pada ibu dengan sebegitu tegas. Ia berikan perhatian penuh pada ibunya, yang untuk beberapa hal mengabaikan kebutuhan istri. Dan sayangnya bakti ini terasa timpang ketika orangtua istri tidak mendapat perhatian yang sama.

“Saya kan tidak bekerja, Bu. Jadi darimana saya bisa memberi uang atau hadiah buat orangtua saya? Tiap saya ajak diskusi soal ini suami selalu marah, dan akhirnya kami bertengkar..” kata ibu itu pada saya.

“Bapak ibu saya sebenarnya tidak minta macam-macam. Tapi apa iya setelah menikah saya terus hanya boleh bakti pada suami, dan melupakan orangtua saya? Saya ingin suami juga perhatian pada orangtua saya. Sebagaimana saya dituntut untuk perhatian bahkan banyak mengalah pada orangtuanya..”

Kabar terakhir yang saya dapat, si ibu akhirnya berniat mendatangi konsultan perkawinan. Karena masalah ini benar-benar menemui jalan buntu. Dan rumahtangga mereka di ujung perpecahan. Karena masalah timpangnya perhatian.

“Saya sudah berulangkali minta cerai. Rumah tangga saya sendiri sebenarnya baik-baik saja. Suami sayang dan tanggung jawab pada anaknya. Tapi kalau sudah menyentuh soal ibunya, dia bisa jadi pribadi yang berbeda..”

Bakti.. oh beratnya kalimat ikutan dari bakti ini. Saya juga ibu dari anak-anak lelaki, yang kelak pasti akan menghadirkan menantu dalam kehidupan saya dan suami. Saya benar-benar berdoa agar ketika saat itu tiba, saya kuasa melepas anak saya lahir dan batin guna membangun rumah tangganya sendiri.

Lalu wujud bakti itu sendiri seperti apa?

Saya kok memaknai bakti lebih kepada unsur “memuliakan”. Perhatian pada orangtua, merawat mereka di saat senja, memuliakan orangtua dengan cara mendengar nasehat serta tidak bicara kasar pada mereka. Beda maknanya dengan membiarkan orangtua menjadi penguasa atas keluarga barunya. Sementara rumus keluarga sehat dan bahagia, salah satunya adalah bebas dari intervensi untuk mengatur rumahtangga sendiri.

Jadi pilih mana, istri atau ibu?

Keduanya tetap jadi pilihan. Benar bakti suami adalah pada ibunya. Tapi jangan pernah lupa bahwa ia adalah orang yang harus bertanggung jawab pada istri dan keluarga barunya.

Untuk para suami, milikilah rumahtanggamu sendiri. Aturlah keuangan dengan pasangan, bukan dengan ibu. Rajutlah cita-cita dengan istri, dan biarkan ibu hanya mendengar kabar bahagia nanti di ujung cerita. Mencintai istri dan menghargainya sebagai partner hidup, bukan berarti menghilangkan bakti pada ibu. Memberatkan yang satu, tidak harus melukai yang lainnya.

Jangan pernah tempatkan istri dan ibu dalam posisi rival guna memperebutkan perhatianmu. Ibu memang sosok yang melahirkanmu. Tapi jangan pernah lupa, istrimu adalah orang yang bertaruh dengan nyawa saat melahirkan anak-anakmu..

Wulan Darmanto, Alumnus Universitas Sebelas Maret.









Sumber :
https://www.facebook.com/wulan.darmanto/posts/10205541162108591



Artikel Terkait:

3 comments :

  1. Bagi saya ini adalah tulisan yang kurang betuk dan tanpa dasar. Posisi seorang ibu tetaplah lebih utama dari seorang istri, memang kewajiban suami adalah menafkahi istrinya tapi ingatlah bahwa surga itu ada dibawah telapak kaki ibu. Istri adalah milik suaminya dan suami adalah milik ibunya.

    ReplyDelete
  2. Kau adalah pemimpin baginya, bukan guru, hakim atau majikan. Sebab kau pun tidak mau diperlukan sebagai seorang murid, sebagai orang yang bersalah atau bahkan sebagai seorang pembantu, bukan? https://www.itsme.id/istrimu-adalah-bagian-dari-dirimu/

    ReplyDelete
  3. Kebanyakan prakteknya mertua (orang tua) laki-laki yang banyak memusuhi menantu perempuannya. Omongan suka diputarbalik.. suka menghasut anak laki2nya.. yg ga ada diada adain. Udah kayak sampah menantunya.. kalau diambil duitnya.. ditendang orangnya.. kalau ga ada duit si menantu disalah salahin.. anak lakinya disuruh cerain bininya.. a'udzubillaah...

    ReplyDelete