Home » » Alfreda: Alegori atau Realita?

Alfreda: Alegori atau Realita?

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, January 6, 2016 | 5:02 PM

Oleh : Jack Efendi*

“Hanya waktu yang tahu pasti. Saya hanya akan terus menulis sambil mencari dan menemukan ‘kedalaman’, sebab kepenyairan tidak pernah memiliki ‘puncak’. Penyair  yang merasa telah sampai di puncak, sebenarnya telah mati.” 
Sofyan RH. Zaid
(Mukadimah Pagar Kenabian, 2015)

1/
Menulis puisi pada saat ini seperti sebuah kebutuhan, tidak melihat latar belakang penyair ataupun profesinya. Ricoeur dalam Faruk (2012:45) mengatakan bahwa karya sastra menjadi wacana yang tidak bertuan, terpisah dari kenyataan sosial, dan tidak diarahkan pada orang atau kelompok orang tertentu yang ada dalam situasi dan kondisi produksinya. Pendapat tersebut kemudian dibantah oleh usaha Swingewood yang mencoba membangun pertalian antara karya sastra dengan dunia sosial.

Ia kemudian menggunakan teori mimesisnya Plato yang mengatakan bahwa dunia dalam karya sastra merupakan tiruan terhadap dunia kenyataan yang sebenarnya, juga merupakan tiruan terhadap dunia ide. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karya sastra yang di dalamnya merupakan rekaan dari sebuah realitas, tidak bisa lepas dari unsur-unsur yang berada di luar strukturnya.

Puisi dikatakan berstruktur karena ia adalah sebuah keseluruhan yang terbangun dari unsur-unsur yang saling berhubungan di dalamnya (Faruk, 2012:132). Teori analisis struktural memandang bahwa karya sastra berdiri otonom, merupakan satu kesatuan yang utuh, bulat, dan mencukupi dirinya sendiri. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa teori struktural murni melepaskan sajak dari penyair dan masyarakatnya.

Sumber Gambar: bogor.net
Padahal menurut Teeuw dalam Pradopo (2012:125), sebuah sajak (karya sastra) tidak hadir atau tidak dicipta dalam kekosongan budaya. Sebuah karya sastra tidak terlepas dari pengarang yang menuliskannya.  Pengarang tidak terlepas dari paham-paham, pikiran-pikiran, atau pandangan dunia pada zamannya ataupun sebelumnya. Juga tidak lepas dari kondisi sosial budayanya. Semuanya itu tercermin dalam karyanya, tercermin dalam tanda-tanda kebahasaan dan lainnya.

2/
Begitu juga Surat Kepada Alfreda yang ditulis Sofyan RH. Zaid (Sofyan), yang menghadirkan sebuah tokoh bernama “Alfreda“. Kehadiran nama “Alfreda“  membuat publik –khususnya saya- bertanya-tanya: Alegori atau realitas? Seperti lagunya Ebiet G Ade, Camelia, Surat Kepada Alfreda ini ditulis berseri oleh Sofyan; I, II dan III.

Pada Surat Kepada Alfreda I:
Alfreda, Aku menulis surat ini bukan berarti ingin kembali ke masa lalu, masa di mana kita pernah berjumpa dan jatuh cinta. Aku hanya mengenang itu semua. Membuka ingatan, album  lama bersamamu. Segala bentuk gelisah dan keterasingan dapat sejenak aku lupakan. Aku rindu menulis surat, dan aku selalu bahagia tiap kali menulisnya untukmu, apalagi di hari ulang tahunmu. Lewat surat ini, aku ingin mengenangmu. Mengenang rasa, sepiku penuh baris gigimu. Malammu penuh tebal alisku. Kita mulai kenal rindu, kerap menghitung waktu. Kadang menangis dan tersenyum sendiri. Menjadi bagian dari kegilaan yang sadar: Orang yang bisa membuat kita bahagia adalah orang yang juga bisa membuat kita berduka. Begitulah tanda kedekatan jiwa. Kita seolah lebih tua dari usia. Menjadi begitu bijak, begitu pujangga. Surat menjadi jembatan antara hati kita. Seperti dua kampung yang terhubung. Dari sanalah jejak kepenyairanku bermula.
...
(Radar Bekasi, 07 Maret 2015)

Sofyan mengungkap kegelisahan jiwanya akibat kenangan masa lalu. Sebagaimana sebuah surat yang monologis, Sofyan menulis hal-hal miris dan getir -perjumpaan, percintaan dan perpisahaan- serta beberapa sikap hidup yang terbaca secara universal.

Sementara pada Surat Kepapa Alfreda II:
Alfreda, Indonesia negara besar. Kekayaan alamnya melimpah dan tambangnya tidak akan habis sampai hari kiamat. Pakar akuntansi sekalipun tidak akan  sanggup menghitungnya, namun rakyatnya masih saja jauh panggang dari ayam. Kemiskinan dan kebodohan di mana-mana. Lantas ke mana kekayaan alam Indonesia itu? Rakyat sebagai pemilik sah republik ini hanya memiliki cerita dan fantasi akan kemakmuran sebagai hutang kemerdekaan, tanpa pernah tahu kapan akan dibayar lunas atau kredit, seperti orang-orang kampungmu yang membayar hutang pada rentenir berkedok agama itu. Semua orang tahu -dari pedagang mie ayam sampai profesor-, ini semua terjadi sebab: korupsi.
...
(Buletin Jejak, Oktober 2015)

Sofyan penyair mencoba menghadirkan Alfreda sebagai teman bicara mengenai negara Indonesia, di mana penyair tinggal. Menceritakan hubungan aku lirik dengan negaranya yang korup. Indonesia digambarkan mendekati kehancuran karena virus korupsi yang merajalela menyerang organ-organ penting tubuh negara. Dengan ini, Sofyan seperti membuktikan kalau dia serius memandang Indonesia yang sedang sakit.

Kemudian pada Surat Kepada Alfreda III:
Kampung ini masih semanis senyummu, Alfreda. Senyum yang memberiku ranum di luar musim, di tangkai kering. Tidak ada limbah di sini, polusi udara dan tumpukan sampah, seperti di kotaku. Hanya pucuk-pucuk daun bertaut, udara bertiup lembut, burung-burung berkicau saling bersahut; mengajarkan hidup.
...
(www.kabarbangsa.com, 12 November 2015)

Kali ini Sofyan mencoba membentur-bandingkan antara kampung dan kota yang dimetaforkan dengan  –senyum, wajah, cinta-  Alfreda. Bagaimana kacaunya sebuah kota dan tenangnya sebuah kampung. Meski –setelah membacanya- barangkali pembaca akan bertanya; Masih adakah kampung seperti ini?

3/
Selain Surat Kepada Alfreda I, II & II, Sofyan juga menghadirkan “Alfreda“ di sejumlah karyanya yang lain. Misalnya dalam buku Pagar Kenabian (TareSi, 2015):

sebab aku mencintaimu, Alfreda # aku dikutuk para dewa
menjadi Phoenix yang tercipta # dari matahari saat senja
melayang dari India ke Mesir # hinggap di tepi Nil mengalir
di Libanon buluku jatuh # kota Beirut menjadi gaduh
...

(Burung Phoenix, hal 09)

...
alangkah luka ini dada, Alfreda # kita berpisah di batas usia
sekawanan gagak menjemputmu seketika # saat kita terlanjur suka
dalam tawanan abadi kenangan # aku kerap disiksa ingatan
rambutmu yang pirang # juga melecutku berulang
(Sehelai Rambut Alfreda, hal 12)

Pada dua sajak di atas, Sofyan menggambarkan Alfreda sebagai sesuatu yang pahit dalam kenyataan atau perasaannya;  larangan dan perpisahan. Sofyan tidak hanya menghadirkan perasaan dirinya semata sebagai sebuah ungkapan personal, namun juga ada pertalian sejarah, tempat dan mitos yang dijadikan alat untuk mengungkap. Di sinilah letak menariknya Alfreda dalam sajak-sajak di atas.

Sumber Gambar: nila hapsari
Sofyan bukan satu-satunya penyair yang menghadirkan atau menyebut nama perempuan dalam sajaknya, ada banyak penyair lain, misalnya SCB dengan Alina, WS Rendra dengan Narti, Chairil Anwar dengan Mirah, dan sebagainya. Namun, dibanding mereka, Sofyan yang paling setia pada satu nama saja –Alfreda- yang dia sebut dalam karyanya, tidak ada nama lain. Sekali lagi saya masih bertanya: Alfreda itu alegori atau realitas?

Membaca karakter namanya, Alfreda ini seperti nama-nama Jerman yang artinya kebijaksanaan atau hikmah.  Bisa jadi Alfreda itu hanya simbol dan nama ganti, seperti konsep ketuhanan Ibnu Arabi yang menganggap perempuan sebagai pancaran keindahan Tuhan (jamaliyah) di bumi, sehingga menyebutnya sama dengan menyebut Tuhan, sebagaimana nama-nama Tuhan (Asmaul Husna).  Bisa jadi juga Alfreda itu memang sosok yang benar-benar ada dan dikenal Sofyan selama ini. Entahlah.

4/
Terlepas dari Alfreda itu alegori atau realita, yang jelas dewasa ini, di mana-mana dapat disaksikan percampuran unsur-unsur kebudayaan sebagai pola kehidupan suatu masyarakat. Keterbukaan ini menyebabkan terjadinya pergeseran tata nilai suatu masyarakat atau bangsa. Begitu juga dengan perkembangan karya sastra terus melaju mengikuti arus globalisasi dan beragam budaya masyarakat pada zamannya, sehingga gejala-gejala sosial, politik, ekonomi dan budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat diungkapkan melalui karya sastra yang otonom sekaligus egaliter.

Sastra tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Lewat sastra dapat diketahui pandangan suatu masyarakat, sastra juga mewakili kehidupan dalam arti kenyataan sosial (Rene Wellek dan Austinn Warren, 1995: 15). Sehubungan dengan pandangan tersebut, maka kaitan  antara sastra dengan masyarakat inilah, sebenarnya yang menjadi dasar timbulnya masalah apresiasi sastra itu (Nafron Hasyim, 1987: 57). Berpedoman pada apresiasi yang menjadi sandaran dalam menggauli karya sastra dengan sungguh-sungguh, sehingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan perasaan dan pikiran positif terhadap karya sastra.

Sampai di sini, tidak penting lagi: Alfreda itu alegori atau realita? Selama karya sastra terus ditulis dan Sofyan sanggup menghadirkan sisi-sisi lain kehidupan meski –dengan- menggunakan tokoh perempuan bernama Alfreda dalam karya-karyanya.

Bekasi, 07 Januari 2016
 
Biodata

Jack Efendi, Lahir di Kota yang terkenal dengan amukti Palapa 11 Februari 1982. Menyukai sastra semenjak duduk di Bangku SMP. Ketika tinggal di Mojokerto, aktif di Komunitas Pondok Kopi (kelompok penggiat sastra di wilayah selatan Mojokerto). Beberapa puisinya pernah dimuat di antologi “Ponari for President” Antologi Gempa Padang G-30 S. Antologi “Sihir Betis Ken Dedes” BMK Bandung. Selain menulis puisi, juga menulis cerpen yang pernah dimuat di Buletin “Jejak” Bekasi, Tabloid Serapo Balikpapan. Dan Antologi Sembilan cerpenis Mojokerto “Tentang Kami Para Penghuni Sorter”, Radar Bekasi, www.kabarBekasi.com, Antologi 17 Penyair Kepada Bekasi. Sekarang aktif di kelompok seniman kabupaten dan kota Bekasi “Forum Sastra Bekasi (FSB)”, Tinggal di Bekasi.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment