Home » » Aliran Sesat, Islam, dan Orang Hilang

Aliran Sesat, Islam, dan Orang Hilang

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, January 14, 2016 | 8:14 PM

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

Secara khusus, halaman depan beberapa media banyak yang menurunkan berita sejumlah orang hilang, yang menurut sosiolog UGM, Suprapto, ditafsirkan ada gejala rekruitmen yang dilakukan ormas tertentu. Sejumlah orang yang sempat dikabarkan hilang dan ditengarai masuk dalam rekruitmen tersebut, diantaranya; dokter Rica Tri Handayani (28) yang datang dari Lampung ke Yogyakarta, Diah Ayu Yulianingsi (28) warga Ngemplak, Ahmad Kevin Aprilio (16) warga Mlati Sleman, serta Kukuh Pambudi.

Beredar di media sosial bahwa sejumlah orang hilang tersebut dikaitkan dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) turun gunung dalam rangka mengamati dan mengeluarkan fatwa bahwa Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) termasuk aliran sesat yang mirip dengan al-Qiyadah al-Islamiyah, pimpinan Ahmad Mushadeq. Organisasi ini sempat hidup dan memiliki banyak anggota di Yogyakarta, khususnya di kampus-kampus berkecenderungan eksak, yang pada akhirnya sejumlah anggotanya melarikan diri dan Ahmad Mushaddeq selaku pimpinan ditangkap polisi.

Embrio Organisasi
 
Gafatar hanya menjadi salah satu aliran yang cepat mengakar di negeri ini. Pergerakannya sangat cepat, terstruktur, dan orang-orang yang direkrut termasuk orang-orang yang terdidik. Sebelumnya banyak sekali aliran-aliran yang membawa ajaran-ajaran Islam yang menyimpang dari prinsip rukun Islam dan rukun Iman.
Sumber Gambar: terbitsport.com

Organisasi yang menjadi embrio lahirnya aliran-aliran baru yang “menyimpang” tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Secara sosiologis, setidaknya ada tiga metode untuk mengetahui.  Pertama, sebuah aliran baru dapat tumbuh dan bergerak melalui aktor. Kita bisa menyelidiki, aktor tersebut bekerja atas kehendak diri sendiri atau digerakkan oleh sebuah interest (kepentingan).

Gafatar yang dibintangi oleh aktor Mahful M Tumanurung, memiliki ideologi menolak neoliberalisme dan merasa kecewa atas pemerintahan yang berkembang karena tidak sesuai dengan ideologi yang mereka bangun. Pada mulanya, aktor-aktor tersebut melakukan bakti sosial untuk mendapatkan simpati dari masyarakat.

Mahful Muis Tumanurung sebagai representasi dari organisasi ini pernah menjadi anggota jamaah al-Qiyadah al-Islamiyah. Ajaran-ajarannya pun agak mirip dengan ajaran-ajaran Mushaddeq, misal puasa, zakat, shalat itu tidak penting. Ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. keturunan Fir’un, dan seterusnya. Aktor-aktor ini bekerja sebagai sempalan dari al-Qiyadah yang memiliki kemungkinan, secara pendanaan dan strategi juga bersumber dari sumur yang sama.

Kedua, pola rekruitmen. Dapat dilihat dengan jelas, pola rekruitmen yang dilakukan oleh Gafatar memiliki kemiripan dengan pola yang dilakukan oleh al-Qiyadah. Mereka menyasar wilayah-wilayah yang cenderung berjubel dengan dunia eksak, baik kalangan rumah sakit, kampus-kampus eksak; jurusan sains dan teknologi, teknik, kedokteran, matematika, fisika, dan seterusnya.

Orang-orang yang direkrut kemudian diajak mengikuti kemah, dicuci otak, diberi pemahaman-pemahaman baru sesuai dengan ideologi mereka. Kemah ke-3 dilaksanakan pada tahun 2015 kemarin. Para pimpinan Gafatar menyampaikan kepada para anggotanya, bahwa pulau Jawa sebentar lagi akan tenggelam dan akan hancur, itulah sebabnya mereka harus segera hijrah ke Indonesia timur---secara tidak langsung, di pengasingan itulah mereka dapat leluasa menginternalisasi ajaran-ajaran mereka kepada para anggota baru.

Ketiga, komposisi ajaran merupakan gabungan dari ajaran Yahudi, Kristen, dan Islam. Mereka tidak mengakui ajaran-ajaran yang muncul dari Barat maupun Timur, yang menurut mereka telah gagal. Tetapi jalan yang ingin ditempuh Gafatar adalah jalan kebenaran (ihdinas shiratal mustaqim), sebagaimana petikan pidato Mahful pada tahun 2011, sebagai berikut:

“Harus diakui, bahwa kondisi kehidupan bangsa hari ini merupakan buah dari segala ajaran dan pemahaman yang disemaikan pada kesadaran anak-anak bangsa yang telah terkontaminasi oleh virus-virus ajaran dan budaya impor (Barat, Timur, dan Timur Tengah) yang semuanya berdasar pada nilai-nilai materialisme dan pragmatisme, sehingga merusak kesadaran ideologi generasi bangsa ini,”
“Kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun secara sosial (bangsa), sangat tergantung pada peredaran ruang dan waktu yang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan hukum universal di atas prinsip “pergantian dan pergiliran” antara hidup dan mati, kebangkitan dan kehancuran, kejayaan dan kebangkrutan, atau dalam bahasa kitabiyah dikatakan, “antara berkat dan kutuk”.


Dengan demikian, penting kiranya semua orang waspada dari pengaruh-pengaruh ajaran ini, karena hanya akan memecah belah bangsa atas berbagai macam golongan yang saling membenci.***


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment