Home » » Mengenang Bung Karno

Mengenang Bung Karno

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, January 27, 2016 | 5:06 PM

Oleh : D. Zawawi Imron

Bulan Juni adalah bulan yang sangat berarti bagi Bung Karno atau Ir. Soekarno. Kenapa ? Karena ia dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1901 dan meninggal 21 Juni 1970. Menurut Ensiklopedi Indonesia, jasanya paling besar, ia telah mempersatukan bangsa Indonesia dan mengutuhkan wilayah RI dari Sabang sampai Merauke.

Meskipun ia pemimpin, mungkin ia punya juga kesalahan. Misalnya, pada era orde lama ia pernah menahan beberapa teman-teman seperjuangannya. Tapi baiklah kita meniru Mr. Mohammad Roem, yang juga pernah ditahan di zaman pemerintahan Bung Karno. Pak Roem pernah ditanya wartawan setelah keluar dari tahanan, apakah ia tidak benci Bung Karno.  Mohammad Roem yang pernah mengomandai delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda yang terkenal dengan “Perundingan Roem Royen” itu menjawab, “Saya tidak ada waktu untuk membenci Bung Karno”.

Sumber Gambar: umm.ac.id
Sebuah sikap pribadi yang begitu arif dalam memaafkan orang yang kebetulan pernah menjadi pemimpin bangsa ini. Dalam kesempatan memperingati “Haul Bung Karno” tahun ini, alangkah terpujinya kalau kita juga bersikap arif, dengan mengenang jasa-jasanya yang besar bagi bangsa dan Republik ini, di samping melupakan kesalahannya. “Mikul dhuwur mendhem jero”, kata orang Jawa. Bahkan, afdol lagi kalau kita berdoa : “Damai dan bahagialah Bung Karno di alam kubur”!

Yang menarik dari Bung Karno, ia bukan hanya tokoh politik dan negarawan yang pernah menjadi Presiden RI. Lebih dari itu, ia adalah budayawan yang memikirkan kemajuan bangsa ini, meskipun gagasan-gagasannya berbeda dengan Sutan Takdir Alisyahbana, Sutan Syahrir dan intelektual lainnya. Yang jelas apa yang dikemukakan Bung Karno otentik. Hal itu bisa dicermati dalam kumpulan tulisannya, misalnya dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”.

Pikiran-pikiran Bung Karno banyak ditulis dengan bahasa yang indah. Ia sangat pandai menguntai kalimat, sehingga kalimat itu bukan sekadar memberi pengertian, tapi juga memberikan kesegaran bagi perasaan, karena kata-kata yang disusunnya ada yang berupa metafora dengan gaya bahasa yang lincah. Demikian pula pada pidato-pidatonya, ia sadar betul pentingnya bahasa yang indah dan mampu mengetuk tali temali rasa.

Ketika merumuskan “gotong royong”, misalnya, dalam pidatonya yang berjudul “Lahirnya Pancasila”, pada tanggal 1 Juni 1945 ia berucap :

“Gotong- royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama ! Itulah gotong-royong.

Prinsip gotong-royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia”.

Kutipan di atas meskipun memberikan rumusan yang gamblang, namun kata-katanya disusun dalan untaian bahasa yang indah dan penuh vitalitas. Susunan bahasanya seperti mengandung spirit. Ruh.

Selain itu, Bung Karno punya apresiasi sastra yang bagus. Ia pernah menyitir sajak Chairil Anwar, Longfellow, Dante Alegheri dan lain-lain. Di samping ia pengagum dan peminat seni yang cukup serius. Koleksi lukisannya sampai ratusan jumlahnya, yang semuanya mendapat perawatan yang baik. (lihat buku “Koleksi Lukisan Presiden Soekarno”).

Gagasan Bung Karno tentang bangsa ini, antara lain “berdiri di atas kaki sendiri” (berdikari). Kalau kita renungkan, apakah salah kalau suatu bangsa berupaya keras menata kehidupan budaya yang sehat, kuat, dan tegak dengan kemampuan yang berupa kemandirian? Tidak tergantung pada belas kasihan bangsa lain?. Barangkali dari kemandirian itulah “kehormatan” akan memancar menjadi aura sebagai bangsa yang berdaulat dan berharkat.***



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment