Home » » Politik Tanpa Moral

Politik Tanpa Moral

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Saturday, January 30, 2016 | 1:36 AM

Oleh : A. Yusrianto Elga
 
"Praktek politik pada kenyataannya adalah homo homini lupus. Kalau dilepas sama sekali tanpa moral yang merupakan ajaran inti setiap agama, dunia politik hanya akan dipenuhi ‘serigala-serigala’". (Syafiie Maarif).

Politik bukan semata merebut kekuasaan sekaligus mempertahankannya. Politik bukan sekadar menciptakan kekuatan sekaligus merumuskan sejumlah agenda yang prospektif bagi kehidupan warga negara. Lebih dari itu, politik adalah dunia di mana komitmen ditancapkan, semacam kesanggupan yang tulus dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan publik.

Karena itu, sejatinya tak ada politikus yang berpikir tentang “seberapa banyak keuntungan yang dapat diperoleh” karena komitmen yang tertancap di dalam sikap dan tindakannya tak lain adalah kepentingan rakyat, kepentingan masyarakat banyak. Ada landasan moral yang membuat mereka berani mempertaruhkan segala-galanya demi cita-cita bersama.

Dulu, ketika Bung Karno masih hidup, banyak politikus yang membekali dirinya dengan bangunan nilai-nilai moralitas. Sehingga, peran-peran mereka sangat tampak, komitmen mereka begitu tinggi, dan kepedulian mereka kepada rakyat sangat besar. Karena kuatnya bangunan moral yang menjadi landasan, pantangan bagi mereka melakukan tindakan-tindakan memalukan. Jangankan berbuat korup dan mengkhianatai rakyat, tindakan-tindakan “sepele” yang bertentangan dengan moralitas tidak mereka lakukan.
Sumber Gambar: sayangi.com

Tapi, kini kita dengan mudah melihat betapa banyak politikus-politikus yang roboh bangunan moralitasnya. Banyak kita saksikan tindak-tanduk politikus yang memalukan. Di televisi-televisi yang tayang setiap saat antara politikus yang satu dengan lainnya saling hina, saling fitnah, dan ujung-ujungnya – meminjam istilahnya Bung Karno – saling gontok-gontokan.

Syafi’ie Maarif pernah geram dengan kenyataan politik yang terjadi di negeri ini. Dalam suatu kesempatan dia mengatakan, “Praktek politik pada kenyataannya adalah homo homini lupus. Kalau dilepas sama sekali tanpa moral yang merupakan ajaran inti setiap agama, dunia politik hanya akan dipenuhi ‘serigala-serigala’”.

Syafi’ie Maarif – barangkali juga semua rakyat di negeri ini – begitu miris melihat kenyataan politik yang selalu mementaskan pertarungan-pertarungan mengerikan. Tentu saja Syafi’ie Maarif tidak bermaksud agama harus “ikut-campur” dalam urusan politik. Tapi, tokoh Muhammadiyah itu sejatinya hanya ingin “menyentil” telinga para politikus yang tidak menjadikan nilai-nilai moralitas sebagai landasan perjuangan.

Setiap saat kita selalu disuguhi pemandangan politik yang sangat membosankan. Di satu sisi “persaudaraan sesama bangsa” di gembar-gemborkan. Dan, di sisi yang lain, mereka terjebak dengan egonya masing-masing. Sehingga, tidak heran jika dalam perkembangannya mereka menjelma sebagai aktor-aktor politik yang narsis, yang tidak mengerti bagaimana bangsa ini harus diperjuangkan, dan tidak memahami pula kerja-kerja konkret yang mesti diprioritaskan.

Perjuangan mereka ibarat busur panah yang dilepaskan tidak tepat sasaran. Jauh meleset. Merugikan sekaligus membahayakan. Merugikan karena banyak agenda politik yang tidak mampu mencerahkan rakyat. Membahayakan karena rakyatlah ujung-ujungnya yang menjadi korban.

Begitulah praktik politik yang dijalankan tanpa prinsip, semacam komitmen yang tipis dan bahkan mendua. Dalam buku Principle Centered Leadership yang ditulis Stephen R. Covey, Mahatma Gandhi menyebut tentang ”tujuh dosa” yang menghancurkan manusia. Dosa-dosa itu berkaitan dengan kondisi sosial dan politik. Ketujuh dosa itu ialah kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa suara hati, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moralitas atau etika, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, agama tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip.

Politik tanpa prinsip masuk dalam kategori dosa sosial yang menghancurkan. Tidak hanya bagi pelakunya, tapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain. Politik tanpa prinsip adalah politik yang tidak dilandasi bangunan moralitas yang kuat, bangunan nilai-nilai kemanusiaan yang menyejukkan.

Politik tanpa prinsip adalah kenyataan yang tengah – dan mungkin akan terus – kita hadapi saat ini. Bung Karno dengan tegas mengajarkan tentang prinsip politik yang berbasis moral, tapi banyak politikus saat ini yang justru menghancurkannya dengan praktik-praktik busuk seperti kasus korupsi dan pemasangan hak-hak rakyat. Bung Hatta mengajarkan prinsip politik yang berbasis moralitas, tapi kini betapa banyak politikus-politikus yang justru menghancurkannya dengan perilaku tamak. Bung Sjahrir mengajarkan prinsip politik yang berbasis etika dan moralitas, tapi kini tidak sedikit politikus yang justru menghancurkannya dengan semangat individualisme dan ketamakan.***


 A. Yusrianto Elga, Pengajar etika politik di PP. Mahasiswa Hasyim Asy'ari Yogyakarta.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment