Home » » Folk History Untuk Wuni

Folk History Untuk Wuni

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Saturday, February 20, 2016 | 10:13 PM

Judul Buku : Wuni
Penulis           : Ersta Andantino
Halaman        : 332 Halaman
Penerbit         : Javanica
Peresensi       : Arif Gumantia


“Ya, begitulah hidup. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi esok. Kita berdua menaiki kereta yang sama. Ke tujuan yang sama pula. Tapi kita sedang sama-sama menghadapi persoalan yang tak pernah kita duga-duga. Aku barusan mendengar di iPodku lagu John Mayer, Stop this train. Tahu nggak? Tiba-tiba aku merasa capek. Pengen berhenti. Tapi kita tak boleh capek dan berhenti kan?” (Hal 139). Penggalan dialog dalam Novel inilah barangkali salah satu pesan yang hendak di sampaikan dalam Novel Wuni karya Ersta Andantino ini. Novel dengan sebagian besar ceritanya berdasarkan Legenda Jawa.

Menulis Novel dengan garis besar cerita yang dikisahkan berasal dari legenda  diperlukan kepiawaian dalam teknik menulis cerita  dan kecermatan  dalam menyampaikan gagasan . Kalau novelis kurang cermat maka akan terjadi banya distorsi, karena di dalamnya kental dengan unsur seperti mitos dalam pengertian  menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya,  unsur kekuatan magis yang sulit untuk dibuktikan secara ilmiah, dan unsur dunia gaib. Jalinan unsur-unsur ini memang bisa menyergap dan menghipnotis pembaca untuk membacanya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, hingga pembaca  tetap setia dan tak sabar untuk segera menyelesaikan bacaannya. Tetapi bisa juga menjadi bumerang yang membuat pembacanya tidak meneruskan bacaannya karena novel tersebut menjadi novel tentang klenik yang membosankan.

Seperti kita ketahui Legenda (bahasa Latin: legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklore.


Dan  Ersta Andantino, Novelis kelahiran Nganjuk, Jawa Timur,  mencoba menulis Novel dengan judul Wuni,  menggabungkan realitas alam nyata dan alam gaib yang berjalin kelindan dengan tradisi-tradisi yang ada di Pulau Jawa secara turun temurun.  KIsah Novel ini dimulai saat sang tokoh Jaka Teruna harus pulang ke desa Wuni, klaten, Jawa Tengah  untuk mendapatkan Warisan harta benda yang melimpah secara tak terduga, karena mempunyai Tanda lahir Noda Putih seperti gambar jantung yang ditumbuhi bulu putih tipis dan halus.

Dalam istilah bahasa jawa disebut Toh. ( Hal. 33 ) karena menurut surat wasiat dari almarhum Mbah kakungnya ( Kakek laki-laki) hanya anak yang terlahir dengan tanda lahir tersebutlah yang bisa membersihkan harta benda.

kekayaan leluhur Jaka tersebut tidak di dapatkan seluruhnya dengan cara-cara yang baik. Salah satunya adalah kakeknya yang bernama Soentoro, membuat perjanjen (perjanjian) dengan makhluk gaib, Jin, untuk mendapat kekayaan, dengan cara menyerahkan salah satu istrinya yang bernama Sumi kawin dengan jin, Genderuwo. (Hal 43). Dalam kisah tersebut istri Soentoro ada 3, Sumi, Darmi , dan Suminah. Sedang Jaka adalah cucu dari Darmi. Untuk itulah Harta kekayaan tersebut harus dibersihkan agar tidak menimbulkan mala petaka bagi semua keturunannya. Dan takdir telah menggariskan bahwa hanya Jaka yang bisa membersihkannya.

Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan sebagai bentuk apresiasi setelah membaca Novel ini, yang pertama adalah narasi-narasi Prosaisnya sebagian besar berisi idiom, metafora, dan perlambang dari kebudayaan Jawa, dengan adanya catatan kaki yang sangat membantu pembacanya yang tidak mengerti bahasa jawa. Beberapa dialognya digunakan oleh penulisnya untuk menceritakan setting suasana, tempat kejadian peristiwa dan kharakter para tokohnya, sehingga membuat kontruksi cerita yang tidak membosankan. Narasi-narasi tersebut bersintesa dengan kenyataan sejarah, penggalan biografi tokoh-tokohnya, dan kisah fiksi hingga menghasilkan perpaduan dalam kesatuan novelistis.

Yang kedua adalah tema utama atau gagasan yang hendak disampaikan oleh penulisnya yaitu tentang jalan hidup manusia, takdir yang dipanggulnya, dan nasib yang penuh dengan jalinan asing dan rahasia. Gagasan ini disampaikan bukan secara gamblang dan menggurui, tetapi dengan berbagai perlambang yang tersirat dan terkadang dalam dialog antar tokohnya. Sesekali diselingi dengan kisah pewayangan yang di dalamnya banyak pesan-pesan bijak yang kontemplatif seperti dalam lakon Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Diyu. (Hal 287).

Dan yang ketiga adalah gaya bercerita dan plot ceritanya yang mengalir linier dan mempunyai perpaduan yang kuat dengan latar kisahnya, meskipun   Ada beberapa flash back di kisahnya. Perpaduan yang kuat ini membuat pembaca bisa mengimajinasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat sekaligus suasana magis yang melingkupinya. Di beberapa kisahnya terkadang menyergap kesadaraan kita karena kekuatan dari cerita yang dikisahkanya, seperti saat jaka harus bertarung dengan berbagai kekuatan hitam yang berasal dari makhluk gaib. (Hal. 319)

Secara keseluruhan novel ini menarik untuk kita baca dan kita renungkan  sebagai bagian dari refleksi tentang hakikat hidup.  Catatan kritis atas novel ini adalah penulis terlalu menonjolkan sisi penceritaan sehingga eksplorasi tentang sisi negative dari sebuah budaya belum tergarap secara optimal, seperti feodalisme dan konstruksi patriarki, agar novel tidak terjebak pada sekedar kisah yang mengharu biru, tetapi juga bisa memenuhi unsur-unsur sastrawi.

Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment