Home » » Ketika Jihadis Beraksi, Tuhan Pun Tertawa

Ketika Jihadis Beraksi, Tuhan Pun Tertawa

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, February 22, 2016 | 10:44 PM

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

Saya membayangkan, sebuah kecamuk menerjang-nerjang di dalam kepala teroris yang bersiap meledakkan bom bunuh diri. Akal religiusitas yang tertutup dalam menyikapi kalam Ilahi dan sabda Nabi terus dimaknai secara sempit dan dijadikan kontruksi untuk menekan “perlawanan” dari dasar jiwanya. Hingga sang pengebom bunuh diri itu pertama-tama menghancurkan kinerja akalnya, lalu dengan pongah dan sombong ia meluluh lantakkan diri di tempat yang telah ditargetkan.

Dan, di saat-saat ruhnya terpental-pental ke langit dan tubuhnya tercerai berai dalam angkuhnya “perjuangan” menebar teror, Tuhan pun tertawa sebagaimana menertawai sahabat Nabi yang sangat pemberani dalam berperang; al-Bara’ bin ‘Azib. Nabi sempat menegaskan ada saat-saat Tuhan tertawa melihat umatnya bersikap. Tawa Tuhan itu kemudian digambarkan oleh Nabi hingga terpingkal-pingkal dan gerahamnya terlihat.

Debut perang pertama al-Bara’ bin ‘Azib terjadi tahun ke-20 H / 641 M  di saat menaklukkan kota Rey (sekarang menjadi ibu kota metropolitan Tehran, Iran) yang dipimpin oleh Amr bin Zaid Al-Khail At-Thai. Kota ini tergolong kota tua warisan peradaban Persia. Pemukiman pertama kali dibangun di kota ini sekitar 6000 tahun sebelum Masehi, saat itu masih bernama kota Rhaga, Ibu Kota Kerajaan Media. Al-Bara’ bin ‘Azib sempat menjadi gubernur kota Rey pada tahun 24 H / 645 M hingga kemudian ia dimutasi menjadi gubernur Kufah (salah satu kota di Iraq) sampai meninggal pada tahun 71 H / 690 M.

Suatu waktu, di saat Nabi Muhammad Saw. berkumpul dengan para sahabatnya termasuk di dalamnya ada al-Bara’ bin ‘Azib. Nabi memegang sebilah pedang yang sangat tajam, “Siapakah diantara kalian yang bisa menggunakan pedang ini sampai bengkok dalam menaklukkan musuh?” Dengan sangat yakin, percaya diri, dan tanpa keraguan secuil pun al-Bara’ bin ‘Azib maju. “Saya siap wahai Nabiku!” Kemudian Nabi memberikan pedang itu kepadanya.
Sumber Gambar: wartaperang.com

Dan tibalah waktunya berperang. Tanpa rasa takut sedikit pun al-Bara’ melangkah gontai. Ia berjalan layaknya seorang pendekar. Bahunya diangkat penuh kesombongan untuk menunjukkan kekuatannya pada musuh. Cara berjalannya seperti raksasa yang siap menghabisi siapa saja di depannya. Ia berjalan di depan Nabi. Bahkan, melihat al-Bara’ berjalan dengan gaya yang sombong itu, Nabi pun merasa geli, hingga ia bersabda: “Andai saja tidak dalam rangka berperang, niscaya saya larang al-Bara’ berjalan seperti itu.”
 
Kecamuk pertempuran berlangsung sengit. Al-Bara’ maju dengan kekuatannya yang super. Kemudian mundur beberapa langkah sebagai strategi. Puluhan orang bergelimpangan dirobohkannya. Tidak lama ia maju lagi dan melibas puluhan musuh lagi, dan begitulah seterusnya. Di saat perang usai, Nabi tidak menjumpainya. Ia memerintahkan untuk mencarinya diantara mayat-mayat yang bergelimpangan.

Ternyata, al-Bara’ bin ‘Azib telah bergelimpang di dekat mayat-mayat musuhnya. Ia tidak meninggal, hanya saja di tubuhnya terdapat 70 sayatan pedang. Saat itu, Nabi tertawa sampai terpingkal-pingkal hingga gerahamnya terlihat menyaksikan tingkah laku al-Bara’ bin ‘Azib ini. Tawa Nabi menurutnya mengekspresikan tawa Tuhan ketika melihat hamba-Nya yang gagah perkasa dan tidak sedikit pun ada ketakutan menghadapi sang maut di medan perang.

Karena ‘Azib sempat menjadi ajudan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ulama’ syi’ah Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi al-Majlisi (1027-1110 H) pernah mengungkapkan pengakuan ‘Azib dalam kitabnya yang berjudul Bihâr al-Anwâr (Jil. 7/1983 : 192), suatu waktu Sayyidina Ali bertanya kepada ‘Azib, “bagaimana anda memaknai agama ini?”

Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab dengan jujur: “Sebelum saya menjadi pengikut anda, saya adalah seorang Yahudi. Saya tidak memahami agama. Karena itu saya memandang enteng masalah ibadah. Namun tatkala saya menjadi pengikut anda, maka hakikat imanlah yang kemudian bertahta dalam diri saya. Saya pun merasakan adanya nilai dan bobot ibadah dalam diri saya.”

Sumber Gambar: tribunnews.com
***

Asal mula terorisme berakar dari kaum Zeolot pada abad pertama. Sekelompok kaum Yahudi ini berusaha habis-habisan terlepas dari cengkeraman kekuasaan Romawi. Mereka bergerak dengan cara menyamar di keramaian Festival Yerussalem, kemudian melakukan aksi brutal dengan menyalip dari belakang dengan menggunakan belati---para sejarahwan mengenal mereka dengan kaum Sikari---orang yang bersenjata belati.

Kerangka berpikir kaum Zeolot ini setia memilih mati dari pada menyerah kepada Romawi. Tindakan tersebut dibuktikan dengan aksi Sikari dan bunuh diri sekitar 960 orang---tersisa dua orang wanita dan lima orang anak---ketika Legiun X Romawi, Gubernur Flavius Silva merebut kembali Mazada. Teror yang mengancam semua orang tersebut benar-benar membuat gemetar dan menebar ketakutan.

Semenjak itu, terus berkembang gerakan teror di penjuru dunia; teror kaum khawarij yang dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang kemudian berhasil membunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad, Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib juga dibunuh oleh perilaku teror Yazid bin Muawiyah.
Sementara di Eropa, revolusi Perancis telah menebarkan ketakutan pada sejumlah orang, ketika “Kerajaan Teror” berkuasa pada tahun 1793-1794. Dalam jangka waktu satu tahun, sekitar 16.000-40.000 orang telah dibunuh. Zaman itu telah memunculkan kelompok radikal dengan nama Maximlien Robiespierre.
Kemudian berlanjut pada teror zaman Adolf Hitler yang berusaha menghabisi kaum Yahudi di belahan bumi ini. Kamp konsentrasi yang telah melumpuhkan jutaan manusia benar-benar telah mengancam.

Terorisme berkembang terus berlanjut, mulai al-Qaidah, Islamic State (IS), Boko Haram, dan entah apa pun namanya. Mereka terus menyebar ketakutan kepada semua orang di seluruh dunia. Teror dilakukan mulai dengan cara sembunyi-sembunyi untuk meledakkan bom bunuh diri sampai yang terang-terangan dengan cara membawa senapan, baku tembak layaknya menantang kematian.

Mereka membangun jaringan ke seluruh dunia. Tidak ada ideologi pasti yang mereka pegang, garis perjuangannya perlahan-lahan kabur antara alasan agama, politik, ekonomi, dan persoalan-persoalan psikis para pelaku teror. Semakin hari gerakan terorisme pun kian absurd.

Tentu, melihat para teroris serius menebar ketakutan dan orang-orang di seluruh dunia benar-benar merasa cemas dan takut, saat itulah  Tuhan tertawa.***



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment