Home » » Sentimentalisme Calon Mayat

Sentimentalisme Calon Mayat

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Tuesday, February 16, 2016 | 7:45 PM

Cerpen : Sony Karsono

Bapak adalah hantu asing, seperti juga bayang yang kutemukan dalam cermin bila menggosok gigi waktu pagi. Aku masih gemar menghisap es krim di halaman rumah bersama ayam-ayam, ketika suatu hari Bapak menghilang di ujung gang menyandang ransel. Ia sangat tergesa, hingga lupa mengelus kepalaku, seperti yang biasa dilakukan seorang bapak dalam film atau puisi taman kanak-kanak. Aku bertanya, “Ibu, ke mana Bapak?” “Bapak cari uang,” sahut Ibu seraya menjemur kutang di jemuran. “Kelak ia datang bawa oleh-oleh untukmu.’

Tapi ia tak kunjung datang. Aku jemu menunggu di bawah pohon jambu penuh semut rang-rang tiap sore usai mandi. Yang kulihat hanya layang-layang bersabung di angkasa biru dan perlahan menjadi jingga. Ada satu layang-layang putus diseret angin sampai ke rahang jurang.

Kalau malam kian matang dan membusuk, Ibu membiusku dengan riwayat angsa, bidadari, dan denawa. Tapi tak pernah ia berkisah tentang Bapak walau, bagiku, Bapak telah terpencil ke alam dongeng, bahu-membahu dengan jin, siluman, dan jembalang. Saban bulan tukang pos mengantar surat dan bingkisan. “Dari Bapak,” kata Ibu. Selalu haru. Aku heran. Buat apa terharu di depan tanda mata. Tanda mata toh cuma ganti rugi seorang Sinterklas yang tak pernah hadir.

* * *

Lima belas tahun kemudian barulah Sinterklas itu pulang. Lama dipeluknya Ibuku di ambang pintu. Rindu? Tapi sosok Bapak hanya bikin aku merasa seperti terpanggang bara. Soalnya, aku sudah lupa cara menghadapi seorang bapak. Kalau kebetulan kami berdua terjebak di ruang tamu, maka lekas-lekas kubenamkan kepala dalam bentang koran, pura-pura membaca iklan. Paras Bapak adalah teror. Selalu menuntutku menyapa. Aku tak bisa menyapa. Dan ruang tamu mengerut sekecil kotak donat. Aku takut kulitku bersentuhan dengan kulit Bapak, yang pori-porinya tampak lebar, mengembang, mau melahap diriku bulat-bulat.

Suatu hari Bapak tersungkur. Ginjalnya rusak. Baru karena desakan Ibu yang bertubi aku mau menjenguk Bapak di rumah sakit, yang sebenarnya hanya berjarak satu kilometer dari kediaman kami. Tapi aku hanya menjenguk gombal pesing dan tabung infus tinggal separo, menggelayuti tiang ranjang seperti lambung transparan manusia plastik. Lucu juga. Tubuh Bapak sendiri sudah diusung ke kamar jenazah. Di sanalah buat pertama kali aku menatap paras Bapak. Tak kutemukan apa-apa dalam paras itu, selain kelebat wajah calon jerangkong. Kukecup kening sepuluh derajat Celsius itu. “Selamat jalan,” bisikku. Jalan ke mana?

Sejak itu kucinta kuburan. Bila matahari lelehkan sinar pada pucuk-pucuk bambu yang gemersik mencakari angin; bila kambing liar dan gembel berkaki lepra tak lagi gentayangan; bila dalam kuburan tinggal aku dan setan-setan; aku jongkok memegangi pagar makam Bapak. Makam Bapak bolong-bolong. Tanahnya sering kuambil pulang sejumput dua jumput untuk campuran kopi. Ya. Kucengkeram pagar makam itu. Sambil mengunyah kembang dan gumamkan racauan paling cengeng sedunia. Bapak tak menjawab. Aku jengkel. Ingin rasanya kubongkar makam. Menggantung rangka Bapak dalam lemari pakaian dan menjejalkan radio dalam rahangnya, supaya ia bicara, menyanyi, atau baca ramalan cuaca.

Tangan Ibu pun mendadak menggiurkan. Saban bangun pagi, tangan itu kuserbu. Kujilati endapan garam dan daki pada sela jemarinya dengan penuh selera. Ibu ngamuk. “Gendeng kamu!” katanya. Dibawanya aku ke psikiater. Monster dengan jubah putih, tampang pandir, dan omongan ngaco itu memberiku tablet antidepresan 500 mg. Dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih kuterima “cindera mata” medis itu, tapi sebelum pulang—tanpa setahunya—aku meneteskan urinku, yang kusimpan dalam botol kecil bekas minyak angin, ke dalam gelas sari jeruk di atas mejanya.

Sebagai balasan atas kelancangan Ibu, ia ganti kupaksa berfoto sinar-X. “Lihat Bu!” kataku. “Kelak tanganmu jadi rangka kayak gini. Mana bisa aku menciumnya?” Ibu tak mengerti. Ia malah pakai sarung tangan tebal dari kulit lembu. Tak apa. Aku masih bisa menciumi foto sinar-X itu sebelum sarapan. Ia kupajang pada tembok ruang makan. Sebab, ruas-ruas tulang itu cantik tiada tara.

Sedang pada dinding kamar mandi kupasakkan potret pengantin orangtuaku. Demikianlah, ketika sedang berak dan asyik merenungi potret itu, secepat kilat kutangkap makna kebahagiaan, yaitu jejak membusuk dalam bingkai potret tua. Tak ada bedanya dengan bangkai anjing di kali, menggembung penuh belatung, dikerumuni lalat-lalat. Kebahagiaan. Usus lapuk dimamah rayap-waktu. Tiba-tiba dapat kubayangkan ujud waktu. Waktu adalah tahi. Dan aku takjub. Kok mau-maunya orang pasang itu tahi di tugu taman kota, dinding kantor, bahkan pergelangan tangan.

Waktu! Kau musuhku nomor satu. Kelak kugorok batang lehermu dengan pisau baja Rp 95.000. Kutenggak vodka dan ngakak ketawa melihatmu berkelejat sekarat. Saat itu jarum arloji berputar mundur. Beling di ubin melompat ke meja jadi gelas utuh kembali. Dan Bapak bangkit dari kubur macam Lazarus lalu mereguk vodka bersamaku. Kami akan meludahi dan mengencingi tubuhmu. O waktu! Kau cuma pabrik kenang-kenangan yang, semanis apa pun, selalu menyakitkan.
Sumber Gambar: www.detik.com

* * *

SATU bulan setelah kematian Bapak, kuambil cuti dari perusahaan peti mati tempatku bekerja. Aku pergi kunjungi candi-candi, puing masa lalu, tapak-tapak kaki orang berbakat arsitektur cemerlang tapi toh sudah mati. Di peron stasion kereta api aku menginap, berbantal tas pakaian, beralas jaket kanvas. Kurekam semua detil-detil rimba stasiun. Aku sampai pada kesimpulan hidup seperti kereta hitam lewat tengah malam, mengangkut badut kecil, titisan korban kamp konsentrasi Nazi Jerman, mengacungkan lolipop dan selalu menyanyi: “Naik kereta api. Tut tut tut. Siapa hendak ikut? Menuju Gusti Maut. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naik! Keretaku tak berhenti lama.”

Jangan mencari cinta atau sahabat dalam perjalanan kereta api hitam itu. Percuma. Tapi kunyah saja kacang. Atau pesanlah koran, tisu untuk ingus, atau buku teka-teki silang bergambar orang setengah telanjang.

Tamasyaku di candi-candi sangat mengecewakan. Bau kematian sudah hilang. Yang kutemukan hanya senyum pelancong. Kaca mata bundar hitam optimis. Tawa bocah-bocah main petak-umpet yang membasahi stupa-stupa. Remaja ciuman di balik arca ganesha. Saling memiting. Saling membelit. Kubayangkan ada bom tiba-tiba meledak membungkam mereka semua.

Kenangan tak terlupakan dari tamasyaku adalah rumah sakit. Di sanalah kulewatkan sebagian besar liburku, karena asma kronisku mendadak kambuh dan tak terkendali. Rumah sakit. Mayat-induk yang mengerami ratusan telur calon mayat. Pasien-pasien itu meluncur sepanjang koridor dengan rambut awut-awutan, bibir menyeringai, tangan menjinjing kateter berisi kencing merah. Rumah sakit. Etalase tulang pecah, pipi sobek tertancap paku, nanah basi, borok berulat, daging tumor dalam ember, kuman gagah perkasa. Instalasi rawat darurat. Orang menangis, mengaduh, kelenger, loncat dari lantai empat. Mampus. Rumah sakit. Rimba angka, nama orang, nama penyakit. Rimba arsip. Rimba jarum, selang-selang, lensa-lensa, pisau-pisau. Putih di mana-mana. Lalu merah. Hitam. Adakah belantara yang lebih eksotis dari rumah sakit? Sebelum ajal, sempatkan berwisata ke sana! Menunggang mobil ambulans. Nguing! Nguing! Nguing!

Suatu pagi, saat asyik mengulum permen Nano-Nano, kulihat empat perawat melintas mendorong jenazah wanita. Angin berhembus buas, menyingkap betis dan paha sang mayat. Oh! Kaki Marilyn Monroe? Bukan! Tapi kaki putih, padat, kencang, berlumur peluh licin itu memompa birahiku. Aku kasmaran. Mata gelap. Urat-uratku menggeliat. Keringatku mengucur deras. Aku kewalahan. Tak pernah sebelumnya aku kasmaran. Inilah cintaku yang pertama. Lewat tengah malam, setelah sekian jam nelangsa menahan renjana, aku menyelinap ke kamar mayat, membongkar laci-laci kadaver. Nah! Itu dia si kaki mukjizat! Oh! Jariku mabuk meraba betis elatis itu. Saraf hidungku menggeletar ketika kuhirup embun pada lutut itu dengan mata terpejam. Oh! Getar sihir yang memancar dari pangkuannya membuat rohku memuai! O hidup! O maut! Hingga subuh aku dan mayat itu bersetubuh. O Mayat yang cantik! Kuakui, tanpa kemunafikan, aku cinta padamu.

* * *

Kecupan lembab di leherku membuyarkan lamunan.

“Apa sih yang kamu pikirkan?” bisik perempuan di sampingku, istriku.

“Aku terkenang bapakku. Aku terkenang mayat yang kuperkosa di rumah sakit empat puluh tahun lalu. Aku kangen padanya.”

“Buat apa diingat-ingat?”

Kalau hidup hanya siksa. Kalau harap selalu patah. Kalau kau terlalu licik untuk dicinta. Maka kucinta maut, Sita. Maut selalu pasti. Selalu setia. Tak jemu menunggu.

“Sita!”

“Apa, Sayang?” sahutnya dengan mata tak berkedip memandang layar bioskop. Menatap ilusi.

“Kau setia?”

“Ya.”

“Sungguh?”

“Sungguh.” Ia mengunyah popcorn.

“Terima kasih, Sita.”

Ingin kuraba tangannya. Tapi tangan itu sibuk memasukkan biji popcorn ke mulut.

“Tapi, Sita, kau ingat hukum kedua termodinamika? Kekacauan meningkat selalu bersama waktu. Kita memang pernah indah kayak gambar pemandangan dalam jigsaw puzzle. Tapi waktu pelan-pelan telah membikinnya berantakan lagi. Aku merasa…”

“Shut up! Kita ke sini bukan untuk diskusi fisika. Kau selalu ganggu kesenanganku, Johan. Muak aku! Eh, Johan. Coba lihat bulu dada Mel Gibson itu! Hmmmhh… jantannya!”

Ya, Sita. Tak seperti aku. Cuma kantong tulang loyo yang sebentar lagi modar. Karena itukah, Sita, kamu main dengan pria-pria bertenaga kuda? Aku punya fotomu bersama para gigolo itu. Di bar, pantai, hotel, dan rumah makan. Kamu pendusta, Sita.

“Sita.”

“Apa lagi?”

“Alangkah bahagia beristri seorang mayat. Setia. Tak berdusta.”

“Jangan ngoceh, Sayang!” semprotnya di telingaku. “Ini gedung bioskop. Jangan bikin malu.”

Ingin kutampar pipinya, tapi aku tak bisa menyakitinya. Tak bisa marah. Tak bisa menyalahkan. Aku cuma mengutuk diriku yang selalu gagal bikin dia senang.

“Aku tidak mengerti, Johan!” sergah Sita ketika kusetir mobil keluar lapangan parkir plaza itu. “Akhir-akhir ini sikapmu sangat tengik!”

“Itulah sulitnya kalau kau masih muda, menggoda, penuh energi. Sementara aku sudah bobrok, dungu, dan tak mampu memberi kamu rangsangan-rangsangan baru.”

“Maksudmu?”

“Sudahlah. Jangan kamu ambil hati. Cuma guyon. Ketawalah, Sita! Ketawa seperti aku. Ha! ha! ha! ha! ha!”

“Eh! Kita mau ke mana, Johan?” tanya Sita beberapa waktu kemudian ketika mobil kupacu menuju luar kota. Perasaanku luka. Perih. Gerbang tol kian jauh di belakang. Langit gelap. Tanpa bintang. Kusulut sebatang rokok. Bergumpal asap panas kusumbatkan ke dada. Mataku pedih.

Sita terus mengoceh. Bertanya. Memaki. Aku pindahkan mobil ke lajur kanan. Menghadang bus di kejauhan. Lampu depannya berkedip ganas. Dengan geraham terkatup dan mata nanar, kuhentak pedal gas dalam-dalam. Keras-keras, 120 km per jam. Mesin meraung. Aku menangis.

“Johan! Kau gila!”

“Aku sayang kau, Sita. Tapi semua itu cuma lelucon.”

Bus itu tambah dekat. Tak ada jalan menghindar. Tak ada jalan kembali. Tepat di antara moncong bus dan moncong mobilku kelihat Maut dalam ujud gadis striptease meliuk, menggeliat, mengupas busana. Ia menyanyi, dalam suara Nat King Cole, In the restless world like this is…

* * *

Sumber Tulisan: Harian Kompas, Minggu, 15 Oktober 1995.


Artikel Terkait:

1 comments :