Home » » Menangkal Pornografi pada Anak

Menangkal Pornografi pada Anak

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, March 24, 2016 | 8:05 PM

Oleh: Yanuar Arifin*

Beberapa waktu lalu, jagad maya di Indonesia dikagetkan dengan foto “nakal” dua anak remaja yang masih duduk di bangku SMP. Foto yang berasal dari akun Facebook Ina Si Nononk sontak menjadi perhatian khalayak, sebab memamerkan konten yang tidak pantas—di mana kedua bocah tersebut berfoto selfi di sebuah kamar hotel dalam keadaan telanjang dan hanya berbalut selimut di tubuhnya. Publik tentu saja sangat prihatin terhadap ulah nakal bocah-bocah yang baru beranjak gede tersebut. Kita seakan disadarkan kembali akan bahaya latin dari pornografi, sekalipun pemerintah agaknya sudah berupaya keras untuk mengatasi persoalan ini.

Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang berperadaban dan religius tentu harus berani menabuh genderang perang terhadap pornografi—perang yang sama sudah digalakkan pemerintah terhadap narkoba dan terorisme. Pornografi yang seringkali dianggap sebagai biangkeladi dari berbagai aksi kejahatan seksual, seperti pemerkosaan, perzinahan, dan kekerasan seksual pada anak, tentu harus juga menjadi prioritas, sebab bila tidak segera ditemukan solusinya, maka masalah ini akan makin menjadi-jadi. Dampaknya tentu adalah rusaknya moral generasi bangsa di negeri ini, sehingga dengan mudah mereka akan menjual kehormatan diri mereka dan sangat mungkin menjual pula kehormatan bangsanya.

Memang, kita harus mengakui bahwa pornografi melalui internet sudah sangat sulit untuk dibatasi. Anak-anak kita yang mungkin masih SD dan SMP, dengan sangat mudah dapat mengakses konten-konten pornografi melalui gadget yang mereka miliki. Apalagi, akses internet yang gampang dan murah turut pula memudahkan anak-anak kita untuk sharing informasi berbau pornografi. Hal inilah yang seringkali terjadi pada anak-anak kita, bila akses informasi global melalui media internet tidak memperoleh pengawasan ketat dari orangtua, sekolah, dan masyarakat.
Sumber Gambar: duniakaomao.blogspot.com

Tanpa pernah kita sadari generasi bangsa di negeri ini makin kehilangan jati dirinya. Arus informasi global yang mengalir demikian deras telah berhasil menghanyutkan kita untuk meninggalkan nilai-nilai luhur ketimuran yang dulunya kita pegang dengan amat teguh. Tak pelak, keadaan ini menimbulkan dominasi kultural atau imperialisme budaya asing (Barat) atas budaya bangsa Indonesia yang luhur. Bila tidak segera dicarikan solusi, bangsa Indonesia mesti bersiap kehilangan generasi bangsa yang melek terhadap budaya bangsanya sendiri. Dan di saat bersamaan, kita akan menyaksikan generasi bangsa yang hanyut  dalam tradisi asing.

Penguatan Peran Keluarga
 
Selama ini, tanggung jawab untuk mengatasi pornografi lebih banyak diserahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan. Maraknya pornografi di kalangan remaja kita seolah-olah menjadi cermin buruk lembaga pendidikan tanah air yang dianggap tidak becus dalam menjalankan fungsinya. Padahal, bila kita mau jujur, sekolah atau lembaga pendidikan sebenarnya adalah rumah kedua bagi anak-anak kita. Pengawasan dan pendidikan anak tidaklah melulu menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, melainkan juga orangtua dan masyarakat.

Orangtua atau keluarga nampaknya harus menjadi pihak yang punya kontribusi terbesar dalam menangkal pornografi yang terjadi pada anak. Keluarga adalah first school (sekolah pertama) bagi anak. Merekalah yang punya tanggung jawab secara penuh untuk mendidik, memotivasi, mengawasi, membimbing, dan mengevaluasi tumbuh berkembangnya anak—baik dari aspek fisik, psikis, intelektual, dan spiritualnya. Keluargalah pihak yang paling bertanggung jawab bila sampai anak-anak mereka terjebak dalam perilaku-perilaku tercela, terutama terjebak dalam pornografi. Oleh sebab itu, keluarga mesti dikuatkan peran atau fungsinya.

Dilihat dari kacamata pendidikan dan agama, pornografi sebenarnya dapat ditangkal dengan pemberian pendidikan seks dan agama yang baik. Dalam pemberian pendidikan ini, tentu haruslah sudah dimulai dari lingkungan keluarga. Ini berarti orangtua atau keluarga perlu memberikan pendidikan seks dan agama sejak dini. Pendidikan seks sudah tidak perlu lagi dianggap sebagai suatu hal yang tabu untuk dibicarakan di tengah-tengah keluarga, mengingat pendidikan seks merupakan jalan utama untuk menginformasikan pada anak akan potensi bahaya dari pornografi.

Sementara itu, pendidikan agama memang harus benar-benar digalakkan. Keluarga mesti membekali anak-anak mereka dengan pendidikan agama yang cukup, sehingga mereka memiliki moralitas yang baik. Moralitas yang baik pada anak akan tercermin dari sikap mereka yang secara sadar mau menjaga diri dan kehormatannya, sekalipun mereka tidak berada dalam pengawasan siapapun. Mereka akan sadar bahwa ada norma-norma atau nilai-nilai moral yang mesti ditegakkan, sehingga mereka tidak akan mudah tergoda, apalagi terjebak dalam perilaku negatif, seperti halnya pornografi.

Perilaku menyimpang pada anak, terutama terkait dengan pornografi seperti halnya yang terjadi pada Ina Si Nononk dalam kasus yang marak dibicarakan belakangan ini, tentu tidak akan terjadi bila keluarga mampu memberikan pendidikan seks dan agama yang tepat. Tentu saja, bila anak mengetahui batasan-batasan suatu perbuatan dan memahami norma-norma agama secara baik, mereka tidak akan mau melakukan hal-hal yang melanggar batas atau norma susila. Mereka akan menjaga harga dirinya secara baik, sebab kehormatan diri mereka merupakan kehormatan dari keluarga.

Sudah saatnya keluarga bersinergi dengan sekolah, masyarakat, dan media dalam mengawal generasi bangsa di negeri ini. Kita berharap bahwa pornografi dapat ditangkal sedini mungkin, dan pada saat bersamaan upaya untuk mengatasinya terus digalakkan. Pornografi akan menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia di masa depan bila sampai tidak teratasi secara baik. Kita tentu tidak ingin bahwa bangsa Indonesia ini semakin tenggelam karena generasi bangsanya lebih banyak melakukan hal-hal porno daripada sibuk membangun negara sebagaimana para founding fathers.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana MSI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
   


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment