Home » » Pertobatan Seorang Pembaca

Pertobatan Seorang Pembaca

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, April 14, 2016 | 11:23 PM

Oleh : Sofyan RH. Zaid

“Teguh pada prinsip, setia pada proses, tidak tergesa-gesa, tapi juga sadar untuk tidak terlambat.”

Dulu, saya sangat kecewa ketika membaca sajak yang buruk dan sangat girang ketika membaca sajak yang baik. Bagi saya, sajak yang baik itu vitamin bagi otak dan hati, atau semacam tempat wisata, atau juga sebuah momen pengalaman yang indah. Sementara sajak yang buruk adalah virus, atau semacam hantu, atau juga sebuah mimpi buruk, di mana saya ingin cepat bangun dan berakhir.

Belakangan saya mulai bertobat. Bagi saya, sajak buruk atau baik sama saja selama ditulis dengan serius dan fokus yang tinggi. Ketika membaca sajak, saya tidak lagi berharap sajak yang saya baca bagus, atau takut sajak yang saya baca itu buruk. Saya kira, Borges benar, bahwa membaca lebih penting dari pada menulis, sebab tanpa pembacaan, peradaban literasi akan menuju zaman kegelapan lagi.

Saya seperti mendapat cahaya pencerahan dalam kegelapan yang berlapis, bahwa setiap orang yang menulis sajak adalah orang yang berbeda, berbeda dalam hal selera, standar dan alat bahasa yang digunakan. Keberbedaan tersebut secara otomatis juga melahirkan sajak dan nilai yang berbeda. Itu sebabnya saya tak bisa lagi membaca dan menilai sajak yang saya baca dari satu kacamata saja: baik atau buruk.

Barangkali di sini peran penting dan latar belakang lahirnya ilmu kritik sastra.Ada banyak pendekatan dan teori landasan yang bisa digunakan untuk menilai sebuah sajak. Sebagaimana keyakinan Aveling, bahwa adanya kritik sastra sebagai lilin yang menerangi keberadaan karya sastra, bukan api yang menghanguskan.

Sumber Gambar: wisatalokaleksotis.com
Dalam ilmu kritik sastra, etika pertama seorang kritikus adalah punya perasaan dan pikiran yang adil dalam menilai: menunjukkan sisi lemah dan lebih sebuah karya berdasarkan pendekatan yang digunakan dan jauh dari pujian serta cacian yang bersifat pribadi. Etika selanjutnya adalah ketekunan yang berpijak pada kesabaran dan ketelatenan.

Lantas bagaimana dengan orang yang menilai sebuah sajak tanpa pendekatan? Tidak masalah, itu namanya apresiator. Semacam komentar seorang pembaca atau penikmat. Seorang apresiator tidak butuh disiplin ilmu kritik sastra dalam menilai sebuah karya, tapi apresiator juga tetap punya etika yang harus diperhatikan. Misalnya, tidak menghakimi sebuah karya secara membabi buta. Ingat Van Kan, seseorang tidak bisa menjadi hakim tanpa ilmu hukum.

Selanjutnya, tidak selalu  menggunakan selera pribadi untuk menyukai atau tidak menyukai sebuah karya. Pada level ini, kritikus dan apresiator bisa berjalan berdampingan. Bahkan, Bradley percaya bahwa apresiator bisa lebih penting dari kritikus ketika dia mampu membuat pendekatan lain di luar disiplin ilmu kritik yang sudah baku, dan itu menarik.

Jadi, dalam pertobatan saya, jika saya tidak bisa menjadi kritikus, saya juga tidak mau menjadi apresiator yang egois, sebab saya takut, jika ternyata sajak baik dan sajak buruk yang sedang saya baca, sama-sama ditulis dengan darah, cinta atau nama Tuhan oleh penyairnya. Itu sebabnya, sayayakin, bahwa sajak buruk dan baik sama saja, selama ditulis dengan serius dan fokus yang tinggi.

Lalu seperti apa sajak yang ditulis dengan serius dan fokus yang tinggi? Saya kira, sajak-sajak dalam buku Kepak Sajak (Sajak-sajak Pilihan Lumbung Sajak FSB, TareSI Publisher, 2016) ini bisa menjadi salah satu contohnya.

Jakarta, 06 April 2016



Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment