Home » » Bekerja dengan Rasa Cinta

Bekerja dengan Rasa Cinta

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Thursday, May 19, 2016 | 5:54 PM

Judul     : I Hate Love My Job
Penulis     : Winarti
Penerbit   : Quanta (Elex Media Komputindo)
Cetakan   : Pertama, 2016
Tebal       : 150 halaman
ISBN      : 978-602-02-8085-1
Peresensi : Wahyudi Kaha

Kerja memiliki makna dan peranan penting dalam sejarah hidup manusia. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), seorang filsuf Jerman, berpendapat bahwa pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktualisasikan dirinya. Artinya bahwa, pada tahap selanjutnya, bekerja menjadi bagian dari seni dan upaya manusia mendefinikan diri dan kemanusiannya.

Franz Magnis Suseno dalam bukunya Kota dan Kerja, menyebut adanya tiga fungsi dalam kerja. Yaitu fungsi reproduksi material, fungsi integrasi sosial, dan fungsi pengembangan diri. Dengan bekerja manusia dapat menghasilkan sekaligus memenuhi kebutuhan material hidupnya. Dengan bekerja manusia mendapatkan status dan pengakuan kemanfaatan di mata masyarakat. Dan dengan bekerja manusia secara kreatif senantiasa berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Bagaimana Manusia Bekerja?

Cara kerja manusia berbeda cara kerja mesin. Secara fisik dan psikologis, manusia tidak dapat meniru cara kerja mesin yang tidak mengenal lelah dan jenuh. Namun demikian, manusia memiliki potensi alamiah berupa hati dan akal yang tidak dipunyai mesin. Kendati mesin dapat bekerja dengan cepat dan ‘tangguh’, tetapi ia memiliki batas fungsi. Mesin pencuci, misalnya, terbatas fungsinya sebagai juru cuci. Mesin pencuci tidak bisa beralih fungsi mengurusi beras untuk kemudian menanaknya menjadi nasi.

Manusia, dengan kekayaan potensi yang ada dalam dirinya, terbebas dari batasan fungsi. Seorang manusia bahkan bisa mempunya beragam profesi. Manusia bisa jadi juru cuci dan juru masak sekaligus dalam rentang waktu yang relatif berdekatan. Itu sebabnya manusia dikenal sebagai makluk dinamis. Stagnasi (seperti mesin) hanya akan mendekatkan manusia pada rasa bosan. Ia senantiasa bergerak untuk mencari dan menemukan.

Menurut Reza A.A Wattimena (2011), bekerja memiliki dimensi psikologis yang mendalam, yang membantu seseorang menemukan siapa dirinya. Dengan bekerja seseorang akan selamat dari krisis identitas. Sebab pekerjaan membantu seseorang merumuskan identitas dirinya. Tidak hanya itu, ketentraman hati juga bisa digapai seseorang lewat bekerja. Ada proses dan usaha yang bernilai tinggi di sana. Nilai yang dimaksud tentu saja tidak melulu bisa disepadankan dengan uang semata.

Dari Hati untuk Berbagi

Disadari atau tidak, bekerja dibutuhkan oleh seseorang sebagai sarana pemenuhan kebutuhan. Baik kebutuhan material maupun kebutuhan spiritual. Pemenuhan kebutuhan material mengantarkan seseorang pada kebahagiaan. Sedangkan pemenuhan kebutuhan spiritul mendekatkan seseorang pada kepuasan. Bukankan kebahagiaan dan kepuasan merupakan dua hal yang selalu didambakan setiap orang?

Selanjutnya mungkin orang akan bertanya: bagaimana cara menggapai kebahagiaan dan kepuasan sekaligus lewat bekerja? Padahal rutinitas bekerja acap kali membuat sesorang jenuh dan melelahkan. Tidak berlebihan bila buku I Love My Job ini saya sebut hadir sebagai jawabannya. Buku yang berisi 25 kisah Islami ini menyajikan pada pembaca tentang seni mengelola hati dan pikiran saat bekerja.

Lewat buku ini, Winarti sang penulis yang pernah bekerja pada bagian Sumber Daya Manusia serta Penelitian dan Pengembangan, mengajak pembaca tamasya dan merunangkan kembali hakikat dan tujuan kita bekerja. Bahwa bekerja semestinya tidak melulu diamini sebagai pemenuhan kebutuhan, melainkan juga sebagai sarana ibadah dan pengabdian.

Bekerja adalah juga ikhtiar berbagi kebaikan kepada siapa saja yang membutuhkan. Dengan begitu, bekerja tidak akan lagi menjadi beban. Sesuai janji Allah dalam QS. Ar-Rahman: 60 “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)”. Kisah Supri si “Buruh Tani Serbabisa” yang dihadirkan penulis dalam buku ini bisa menjadi cerminan tentang berbagi tanpa pamrih. Betapa Allah kelak membalas ketulusan hati Supri dengan kejutan manis yang tidak pernah diduga sebelumnya (halaman 14-20).

Melalui kisah Dini kita belajar tentang keikhlasan, kedewasaan berpikir, ketabahan, dan bekerja dengan hati. Dini yang bersedia belajar dari kegagalannya “Ngulek Sambal”. Dan Dini yang tidak mudah menyerah oleh kegagalan. Kritikan Arif, suaminya, atas ulekan sambal Dini yang kasar tak membuat kerdil hatinya. Malah Dini menganggapnya sebagai tantangan. Maka Dini belajar cara ngulek sambal pada nenek. Dari neneklah Dini akhirnya mendapatkan rahasia sukses ngulek sambal. Yaitu mengulek dengan hati, dengan penuh cinta dan penghayatan (halaman 104-109).

Buku inspiratif ini tidak bisa dilewatkan begitu saja dari daftar buku bacaan kita. Winarti piawai menata bahasa, mengelola konflik serta menyelipkan pesan-pesan cinta di setiap kisah yang dibawakannya. Pembaca tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami jalinan kisah di dalamya. Apalagi kisah-kisah yang disajikan adalah kejadian yang sering kita alami sehari-hari. Seperti kisah Tukang Bakso, Tukang Tambal Ban, Penjual Batagor, Pekerja Kantoran, Ibu Rumah Tangga, Tukang Sayur dan lain sebagainya. Yang dibutuhkan pembaca untuk menghayati buku ini adalah rasa cinta. Itu saja.[*]

Wahyudi Kaha, pembaca buku. Bergiat di Lingkaran Metalogi Yogyakarta.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment