Home » » Keluarga dan Deradikalisasi Anak

Keluarga dan Deradikalisasi Anak

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, June 29, 2016 | 9:57 AM

Oleh : Abdul Waid

Mengapa banyak anak Indonesia dewasa ini yang terlibat dalam gerakan terorisme? Bukankah di Indonesia telah banyak lembaga pendidikan penangkal paham radikalisme? Di mana letak kesalahan pendidikan di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di benak penulis setiap kali mendengar ada anak Indonesia yang terlibat dalam gerakan terorisme seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang telah beberapa kali melakukan aksi di tanah air seperti teror bom Thamrin beberapa bulan yang lalu.

Barangkali seorang pakar pendidikan sekaligus sosiolog yang cukup populer di Barat bernama Frank Musgrove bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dalam bukunya yang terbaru berjudul The Family, Education And Society (2012), Musgrove mengatakan, mentalitas seorang anak baik radikal, ekstrem, moderat, sangat bergantung pada pendidikan di tengah keluarga.

Artinya, pola pikir yang mendasari sikap dan tindakan seseorang; ekstrem, radikal atau moderat, pada hakekatnya bisa dibentuk melalui peran keluarga. Pasalnya, pemahaman seorang anak terhadap segala sesuatu—termasuk dalam hal dogma-dogma agama—terbentuk atas dasar pendidikan dan peran keluarga.

Sumber Gambar: photobucket.com
Jika keluarga berhasil memerankan perannya terhadap pendidikan anak, maka anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan keluarga. Sebaliknya, jika keluarga gagal, maka yang akan terjadi adalah disorientasi pertumbuhan karakter dan kepribadian anak.

Pada saat anak tumbuh menjadi seorang teroris, misalnya, orang tua akan terkejut karena kepribadian anak tidak sesuai dengan jati diri dan harapan keluarga. Inilah contoh bentuk kegagalan peran keluarga dalam pendidikan anak.

Sikap Keluarga

Ada dua kemungkinan mengapa selama ini seorang anak tumbuh menjadi seorang teroris. Pertama, pihak keluarga selama ini memang bersikap acuh terhadap hal-hal pokok dalam kehidupan anak dan kepribadian anak. Misalnya, keluarga bersikap acuh terhadap pemahaman agama anak, mentalitas anak, naluri anak, dan lain sebagainya. Karena keluarga bersikap acuh, maka anak sama sekali tidak mendapatkan suri tauladan atau contoh dari keluarga sehingga anak lebih banyak diwarnai oleh lingkungan di luar keluarga tanpa kontrol dan sepengetahuan keluarga.

Kedua, pihak keluarga terlalu percaya pada lembaga pendidikan di luar keluarga seperti sekolah, tempat kursus, atau pun oraganisasi yang digeluti anak. Kesalahan terbesar sebuah keluarga adalah menganggap bahwa perkembangan seorang anak dalam segala aspek kehidupannya cukup dipasrahkan pada lembaga pendidikan formal tanpa memberikan peran keluarga sedikit pun.

Padahal, ketika keluarga melepas seorang anak dan memasrahkan perkembangannya secara total kepada pendidikan formal di luar lingkungan keluarga, maka risiko yang bisa diterima adalah kehidupan anak yang tumbuh secara “liar”. Dalam konteks ini, Emilia Dowling mengatakan dalam bukunya The Family And The School: A Joint Systems Approach To Problems With Children (2003) bahwa orang tua yang terlalu memasrahkan anaknya pada pendidikan sekolah dan sama sekali lepas tangan dari perkembangannya, sama halnya dengan membunuh karakter anaknya sendiri.

Ini menandakan bahwa bagaimana pun kondisinya, apa pun alasannya, keluarga harus memainkan perannya secara total dalam pendidikan anak. Dengan kata lain, keberhasilan tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh peran keluarga.

Upaya Deradikalisasi

Sigmund Freud (1856-1939) berpendapat bahwa masa-masa kecil kehidupan seorang anak adalah masa terbentuknya struktur kepribadian dan karakter. Sedangkan Daniel Goleman (1946) berpendapat bahwa masa-masa kecil kehidupan seorang anak adalah masa keemasan bagi perkembangan kecerdasan emosional dan spiritual seorang anak. Ini menandakan bahwa peran pendidikan di tengah keluarga sangat vital dalam pembentukan struktur dasar kepribadian anak.

Atas dasar itu, di sinilah keluarga bisa mengambil perannya sebagai upaya deradikalisasi anak agar tumbuh menjadi manusia yang cinta damai, cinta perbedaan, cinta sesama manusia dan alam sekitarnya, serta cinta tanah air (nasionalisme). Deradikalisasi anak akan berhasil jika keluarga (orang tua) memberi contoh kepada anak sejak dini. Apa yang dicontohkan keluarga akan ditiru oleh anak dan dalam jangka waktu panjang akan menjadi karakter kepribadian anak.

Contohnya, sejak kecil keluarga memberi pendidikan dan pemahaman pada anak bahwa teror yang menghilangkan nyawa orang lain atas dasar apa pun adalah perbuatan dosa dan dilarang oleh agama apa pun dan norma hukum apa pun. Juga, surga tidak bisa diraih kecuali dengan menebar cinta kasih kepada sesama. Pendidikan semacam ini akan lebih efektif jika orang tua tidak hanya menasehati, tetapi juga mengimplementasikannnya secara konkret dan terus menerus sehingga akan ditiru oleh anak.

Jika sejak dini keluarga memberi doktrin semacam itu kepada anak, maka anak-anak Indonesia tidak akan tumbuh menjadi teroris. Melalui penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak, Indonesia akan aman dan damai serta bebas dari teror radikalisme.

Penulis adalah Dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen


Artikel Terkait:

3 comments :

  1. Terima kaish banyak utk percerahannya.
    Bagaimanapun juga, kepribadian, mentalitas, dan sikap anak, berpengaruh dg pendidikan pada keluarga utamanya. Lingkungan yg mendominasi. Kalo pada keluarga, anak tak mndapatkan. Ya terpakasa, Lingkungan yg membntuk mereka.
    Naudzubillahh...

    ReplyDelete
  2. We can cash all varieties of checks. Need your coins checked? We can serve you what you are looking like It is in reality easy to locate us at your nearest locations. Our workplace is opened 24/7. So, you could find us all time.
    check casher Philadelphia

    ReplyDelete