Home » » Pengintegrasian Relasi dan Publikasi Dalam Promosi Museum

Pengintegrasian Relasi dan Publikasi Dalam Promosi Museum

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Sunday, September 18, 2016 | 7:56 AM

Oleh : Shela Kusumaningtyas

Siapa yang belum pernah berkunjung ke museum? Apa yang terbayangkan tatkala mendengar kata museum? Saat ini, museum hanya dikesankan sebagai sebuah bangunan kokoh yang membosankan untuk dikunjungi. Pamor dan citra museum akhir-akhir ini memang turun dibandingkan beberapa tahun lalu.

Kemunculan tempat hiburan modern menggeser kedudukan museum sebagai rujukan wisata masyarakat. Masyarakat lebih memilih mengunjungi pusat perbelanjaan di kala senggang. Liburan anak-anak pun lebih sering dihabiskan di wahana permainan yang tersedia di pusat perbelanjaan. Sungguh kondisi yang miris bila disaksikan, bangunan museum teronggok begitu saja tanpa tersentuh jejak pengunjung.

Menggenjot promosi museum menjadi hal yang sangat penting saat memasarkan pariwisata suatu provinsi. Pemerintah dan setiap pihak wajib mengupayakan berbagai cara agar museum dapat terkelola dengan baik. Museum adalah tolok ukur suatu daerah mampu mengenalkan diri ke kancah yang lebih luas. Secara lokal maupun nasional, penggencaran penataan museum sangat berguna bagi masyarakat untuk lebih mengenal museum. Museum yang rapi tentu saja dilirik masyarakat dalam ataupun luar negeri.

Sumber Gambar: wein.info
Sebelum beralih ke strategi mempromosikan museum, alangkah lebih baik apabila kita mengetahui terlebih dahulu apa tujuan promosi. Tujuan promosi itu sendiri adalah untuk memberikan informasi, menarik perhatian, dan selanjutnya memberikan pengaruh pada meningkatnya penjualan. “Promotion`s objectives are to gain attention, to teach, to remind, to persuade, and to reassure”. Tujuan Promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan, dan meyakinkan. (Schoell, 1961 : 424).

Pembenahan dan evaluasi diperlukan pihak museum sebelum mengambil langkah tepat dalam mempromosikan museum. Pihak museum dapat menggandeng kaum akademisi untuk menelaah penyebab kemerosotan minat pengunjung. Selain akademisi, masyarakat juga perlu dilibatkan untuk menangani kasus yang bila dibiarkan berlarut akan menghancurkan sejarah peradaban negara ini.

Kotler mengatakan, strategi adalah upaya museum untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan. Terdapat tiga langkah yang menentukan pembuatan strategi pemasaran museum. Ketiganya adalah segmentasi, penentuan pasar (target), dan posisi produk dalam benak konsumen. Dengan demikian, strategi pemasaran museum yang terbentuk dapat memecahkan permasalahan yang melanda museum. Harapannya, dampak dari hal itu adalah kebutuhan masyarakat seputar pengetahuan dan pengalaman mengenai museum terpuaskan. Selain itu, pariwisata provinsi dan negara akan melesat pesat.

Pemerintah dan pihak museum tentu sudah mengetahui bahwa museum adalah lembaga yang menyuguhkan jasa bagi masyarakat, sehingga pemasaran jasa digunakan sebagai strategi pemasaran. Dengan ciri khas yang dimiliki, museum mempunyai indikator tingkat pelayanan tersendiri. Hal itulah yang diintegrasikan ke dalam konsep bauran pemasaran. Konsep bauran pemasaran inilah yang nantinya mengantarkan kita pada sebuah strategi untuk mengintegrasikan relasi dan publikasi dalam promosi museum.

Yang dibutuhkan pertama kali adalah pihak museum harus merekatkan diri kepada instansi baik dari pemerintah ataupun swasta. Tujuannya adalah untuk memeroleh sokongan dana dalam perombakan wujud dan penataan museum menjadi lebih menarik. Pihak museum dapat memanfaatkan jaringan relasi yang dipunyai.

Selanjutnya, ketika kerja sama telah terjalin, maka pihak museum harus gencar mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat, baik secara online maupun offline. Bagaimanapun, masyarakat adalah kunci utama jalannya roda kehidupan sebuah museum. Komunitas-komunitas anak muda dapat digandeng untuk mewujudkan sebuah kegiatan yang memantik minat masyarakat baik dari dalam ataupun luar negeri untuk berbondong-bondong berkunjung ke museum.

Sumber Gambar: wikimedia.org
Yang tak boleh terlupa dari proses menjaring dan menjalin relasi saat mempromosikan museum adalah soal fasilitas. Fasilitas yang dimiliki museum sudah saatnya ditata dan lebih dilengkapi untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Jangan salah, pengunjung juga termasuk relasi yang harus diperhatikan dan dijaga terus. Hubungan baik terhadap pengunjung bisa dibina melalui kartu anggota yang diserahkan sebagai tanda bukti adanya kesungguhan dari pihak museum untuk memberikan yang terbaik bagi pengunjung. Selain itu, apabila museum tengah mengadakan suatu acara, pihak panitia wajib menghubungi kontak para pengunjung. Di sini terdapat maksud terselubung, yakni untuk menjadikan pengunjung semakin loyal dan cinta terhadap museum.

Bagaimana dunia bisa mengetahui keberadaan suatu museum? Publikasi, itulah jawabannya. Publikasi menjadi elemen penting yang tak boleh terlupa saat mempromosikan museum di provinsi ini. Publikasi bisa melalui saluran media yang tersedia; cetak, elektronik (digital), dan internet. Selebaran dapat dicetak dan disebarkan atau ditempel di baliho atau papan pengumuman berlokasi strategis. Beriklan di televisi dan radio juga menjadi salah satu cara yang ampuh menyiarkan keberadaan suatu museum.

Teknologi-teknologi canggih menawarkan akses menuju proses komunikasi. Kelangsungan proses komunikasi saat ini sangat mengandalkan adanya teknologi-teknologi cangih. Pentingnya teknologi canggih akan terasa apabila suatu komunikasi dihadapkan pada jarak yang membentang. Kemajuan lingkungan nampaknya mendorong masyarakat mencari kemudahan dalam berkomunikasi, hingga masyarakat menemukan kemudahan tersebut melalui teknologi-teknologi canggih.

Kecanggihan teknologi berdampak terhadap media penyebaran informasi. Selama ini, masyarakat mendapatkan informasi dari media massa konvensional seperti radio, koran, dan televisi. Seiring berkembangnya zaman dan pesatnya teknologi, maka informasi tidak hanya didapat dari media-media tersebut. Ada cara ringkas yang bisa ditempuh masyarakat untuk melepas dahaga akan informasi, masyarakat dapat memperoleh informasi dengan memanfaatkan media internet.

Istilah internet saat ini kerap didengung-dengungkan. Telinga masyarakat menjadi tak asing lagi dengan istilah tersebut. Internet merupakan kependekan dari interconnection-networking. Internet merupakan suatu kata yang merujuk kepada pengertian sistem jaringan komputer yang saling terhubung. Dan, internet menjadi penyambung museum dengan masyarakat sejagat dunia yang terbukti jitu. Semua orang kini menggunakan internet untuk bersosial media, maka pihak museum harus melihat itu sebagai peluang. Memanfaatkan internet untuk melebarkan relasi sekaligus sarana promosi. Untuk lebih meningkatkan daya jual museum, diperlukan juga logo dan slogan diiringi komitmen berbagai pihak dalam mempromosikan museum.***

Penulis adalah mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Dipenegoro (Undip) Semarang.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment