Home » » Kontroversi Hadiah Nobel Bobdylan

Kontroversi Hadiah Nobel Bobdylan

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Monday, October 24, 2016 | 11:54 PM

Oleh : Arif Gumantia

Setiap perhelatan pemberian penghargaan hadiah sastra yang dilakukan tiap tahun oleh Komite Nobel  Swedia (the Swedish Academy)  selalu menimbulkan kontroversi. Selalu ada perdebatan Pro dan kontra. Hal ini wajar saja, mengingat setiap penilaian terhadap karya sastra tentu akan menimbulkan beragam tafsir, tergantung parameter yang digunakan dalam menilai dan menafsirkan karya tersebut.

Demikian juga hadiah nobel sastra tahun 2016 yang diberikan pada penyanyi dan penulis lirik lagu  dari Amerika Serikat, yaitu Bob Dylan. Bob Dylan menyingkirkan semua nominasi-nominasi yang dimunculkan media-media, seperti  Haruki  Murakami, novelis asal Jepang,  penulis asal Irlandia, John Banville, penulis Kenya Ngugi wa Thiong’o, penulis AS Joyce Carol Oates, penulis Suriah Adonis, dan penulis Spanyol Javier Marías.

Baca juga: McDonaldisasi Sastra

Pro-kontra pertama muncul karena media-media eropa menyatakan bahwa Bob Dylan adalah penulis lirik lagu pertama yang mendapatkan hadiah nobel, padahal Rabindranath Tagore dari India, pemenang nobel sastra tahun 1913 juga penulis lirik lagu, setidaknya dia menciptakan 3 lagu himne.  Bob Dylan mendapatkan hadiah nobel karena lirik-lirik lagunya , sedangkan Rabindranath Tagore mendapatkan nobel karena sajak-sajaknya yang segar dan indah, menurut saya keduanya sama-sama mempunyai kecerdasan dan pemikiran puitik. Karena Rabindranat Tagore juga penulis lirik lagu, maka saya lebih setuju dengan pendapat bahwa Bob Dylan bukanlah penulis lirik lagu pertama yang mendapatkan nobel, tetapi yang pertama adalah Rabindranat Tagore.

Bob Dylan sungguh legendaris dan  fenomenal. Ia menjadi inspirasi bahkan bagi The Beatles, Gun n Roses, dan sejumlah besar penyanyi hebat dalam waktu yang panjang, termasuk Iwan Fals. Lagu-lagunya banyak dilantunkan oleh penyanyi berkaliber, termasuk Avril dan Adelle.

Sehingga Komite Nobel  (The Swedish Academy) memberikan Hadiah Nobel pada Bob Dylan, karena “Menciptakan ekspresi  puitik baru dalam tradisi lagu-lagu di Amerika”.  Yang juga perlu kita ingat adalah anugerah Nobel ini selalu diberikan pada orang-orang yang concern terhadap perjuangan terhadap kemanusiaan dan perdamaian, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, diplomasi-diplomasi untuk perdamaian, dan karya sastra. Lirik-lirik lagu Bob Dylan pun sebagian besar berisi gagasan-gagasan kemanusiaan dan perdamaian. Daripada kita nyinyirin Bob Dylan (istilah yang lagi tenar di media sosial) lebih baik kita elaborasi  alasan Komite Nobel  tersebut.

Baca juga: Imre Kertesz; Saksi Mata Dari Budapest

Sumber Gambar: dustyoldfairgrounds.com
Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi. Tak bisa kita pungkiri, bahwa saat-saat ini terutama dengan maraknya media sosial, kebanyakan orang beranggapan bahwa puisi memiliki image yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata  aneh yang tak dimengerti, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, hingga beranggapan bahwa Puisi tidak ada hubungannya dengan kehidupan. Hal demikian itu tentu anggapan yang salah karena adanya kesalahpahaman.

“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi  tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri. dan bagaimana mencari  jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan atau penting.

Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya.

Baca juga: Banjir Dalam Mitologi Dunia

Metafor adalah kreativitas pertama dalam puisi, untuk mengomunikasikan kebaruan-kabaruan  itu, masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi   penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, mempengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka. Karena relevan dengan kehidupan, maka metaphor-metafor yang diciptakan haruslah dekat dengan kehidupan dan tidak  menjauhkan dari kehidupan, seperti anggapan salah kaprah yang selama ini terjadi, semakin rumit metafor maka semakin bagus puisi tersebut.

Parameter pertama yang kita pakai yaitu Puisi adalah selalu releven dengan kehidupan bahkan signifikan, tentu lirik-lirik lagu Bob Dylan masuk dalam kategori itu, karena Bob Dylan telah menciptakan lirik-lirik lagu dengan topik seperti kondisi sosial masyarakat, kemanusiaan, keterasingan manusia, seruan perdamaian, agama, politik dan cinta, topic-topik yang relevan dengan kehidupan. Bisa kita baca pada lirik-lirik lagunya seperti : Knockin’ on Heaven’s Door, Blowin’ in the Wind, The Times They are changin’, Mr Tambourine Man, Like a Rolling Stone, All along the watchtower, gotta serve somebody, full moon and empty arm, make you feel my love, Highway 61 revisited, dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Bola dan Puisi Dari Rosario

Karya-karya tersebut diciptakan mulai tahun 1962, seperti yang bisa dibaca di biografinya, awal berkarir sebagai penyanyi, Bob Dylan adalah penyanyi lagu rakyat (Folksinger). Barangkali lirik-lirik lagu inilah yang menurut komite nobel mempunyai ekspresi puitik baru, dibandingkan lirik-lirik lagu-lagu amerika sebelum tahun 1960an.

Sumber Gambar: morrisonhotelgallery.com
Parameter kedua adalah  metafor-metafor yang diciptakan Bob Dylan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) me·ta·fo·ra /métafora/ didefinisikan sebagai "pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.[1], misal tulang punggung dalam kalimat "pemuda adalah tulang punggung negara".Metafora adalah majas (gaya bahasa) yg membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan. Dengan kalimat yang singkat,  metafora adalah mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.  Mari kita elaborasi apakah metaphor-metafor yang diciptakan Bob Dylan merupakan perbandingan analogis yang mudah dipahami, bisa merepresentasikan gagasan yang ingin disampaikan, mendekatkan dengan kehidupan, dan tentu saja mempunyai unsur estetika (keindahan bahasa).

Kita ambil contoh lirik lagu Knockin’ on Heaven’s Door: 

Mama, take this badge off of me
I can't use it anymore.
It's gettin' dark, too dark to see
I feel I'm knockin' on heaven's door.
Knock, knock, knockin' on heaven's door


Mama, put my guns in the ground
I can't shoot them anymore.
That long black cloud is comin' down
I feel I'm knockin' on heaven's door.


Lagu Knockin On Heaven's Door  merupakan Semangat anti perang yang ditunjukkannya dengan mengkritik kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang memerangi Vietnam. Dylan berkeyakinan perang Vietnam adalah kesia-siaan. Sebagai keprihatinannya terhadap perang Vietnam, ia lantunkan lagu ini,. Dari pilihan metafor-metaformya dalam yang dipakai Bob Dylan yaitu : “pistol, awan hitam,  pintu surga, pistol sebagai perbandingan analogis terhadap perang, awan hitam sebagai penderitaan, sedang mengetuk pintu surge sebagai ungkapan kematian, menuju hidup abadi bersamaNYA, terlihat ada  keterkaitan yang ironis, antara perang yang sia-sia, penderitaan  dan sedang mengetuk pintu surga”, barangkali Dylan ingin menyampaikan setiap prajurit yang perang akan mengalami penderitaan, tetapi karena melaksanakan perintah Negara dan takdir yang dijalaninya, maka prajurit-prajurit tersebut sedang mengetuk pintu surga, sebuah pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, untuk menyampaikan gagasan yang ingin disampaikan jelas terlihat mudah dipahami, relevan dengan kehidupan, dan juga indah.

Sumber Gambar: babelxxi.com
Satu lagu lagi, Blowin’ in the wind:

How many roads must a man walk down,before you call him a man?
How many seas must a white dove fly,
before she sleeps in the sand?
And how many times must a cannon ball fly,
before they’re forever banned?


The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.
How many years can a mountain exist,
before it is washed to the sea?
How many years can some people exist,
before they’re allowed to be free?
And how many times can a man turn his head,and pretend that he just doesn’t see?


The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.
How many times must a man look up,
before he sees the sky?
And how many ears must one man have,
before he can hear people cry ?And how many deaths will it take till we know,
that too many people have died?


The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.
The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.


Berapa jauh ditempuh pengembaraan
Sebelum sebutan lelaki dapat ditetapkan
ya, dan berapa jumlah lautan dicapai
sebelum merpati dapat istirahat di pantai
ya, dan berapa kali diterbangkan peluru meriam
sehingga akhirnya semua bisa dibungkam


jawabnya temanku, ada dalam angin berembusan
jawabnya ada dalam angin berembusan
berapa kali orang harus tengadah
sebelum dia dapat menatap langit
ya, dan berapa telinga harus dipasangkan
agar dia mampu mendengar ratap dan tangisan
ya, dan berapa banyak manusia dibunuhi
hingga dia sadar begitu banyak orang mati?
jawabnya temanku, ada dalam angin berembusan
jawabnya ada dalam angin berembusan


(terjemahan Taufik Ismail)

Metafor-metafor yang digunakan Bob Dylan ini umtuk menceritakan pertanyaan-pertanyaan semua orang tentang apa makna manusia, apa maknanya menjadi manusia, dan bagaimana  meraih makna hidupnya? Sebuah pemikiran yang dalam tentang kemanusiaan. Tentang tugas manusia agar bisa memanusiakan manusia.  Dengan mengambil metafor-metafor yang ada di alam seperti : lautan, merpati, gunung, telinga, langit, dan angin yang berhembus. Metafor yang dekat dengan kehidupan, mudah dipahami untuk menceritakan gagasannya, dan tentu indah.

Masih banyak yang bisa kita eksplore dari lirik-lirik lagu lainnya. Meskipun lirik-lirik tersebut dilepaskan dari musiknya, menurut saya lirik tersebut tetap menjadi puisi, dan mempunyai pemikiran dan kecerdasan puitik.
Parameter yang ketiga adalah apakah lirik-lirik lagu tersebut akhirnya mempengaruhi musisi-musisi amerika pada generasi tahun 1970an, 1980an, sampai sekarang? Menurut saya jawabannya adalah iya, karena banyak grup-grup Rock amerika menggunakan ekspresi puitik di lirik-lirik lagunya seperti Grand funk railroad, Metallica, Megadeth, Guns n Roses, Poison, Bon Jovi sampai generasi sekarang seperti avril lavigne. Barangkali dari ketiga parameter inilah yang membuat Akademi Swedia memberi penghargaan
dari apa yang saya sampaikan di atas, bisa saya tarik benang merah bahwa apa yang dipakai alas an oleh komite nobel sudah lah tepat, bahwa Bob Dylan menciptakan ekspresi puitik baru di dalam lirik-lirik lagunya. Tentu sah-sah saja ada yang tidak setuju dan berbeda dengan pendapat saya ini, hal ini justru akan menjadi dialektika yang menarik dalam khazanah sastra kita.

Arif Gumantia, Ketua Majelis Sastra Madiun, Jawa Timur


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment