Home » » Mengintip Makna dari Celah Pagar Kenabian

Mengintip Makna dari Celah Pagar Kenabian

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Tuesday, September 26, 2017 | 1:11 AM

(Pagar Kenabian: Manifestasi Sastra Pesantren Kontemporer)

Oleh : Iis Sugiarti*

Membaca buku kumpulan puisi “Pagar Kenabian” karya Sofyan RH. Zaid kita akan disuguhi puisi-puisi yang secara estetik mempunyai keunikan tersendiri dan terbilang keluar dari konvensi perpuisian yang telah ada. Mengapa demikian? mari kita lihat bentuk fisik puisi “Ziarah”, berikut:

ZIARAH

dari kubur ke kubur # diri hancur dan lebur
bunga kenanga gugur # kicau burung melipur
:aku siapa? # kau siapa?
siapa nama? # siapa sukma

aku dihempas daun # seperti butiran embun
tersungkur ke nisan # air mata berserakan
rintih menulis dosa # usia yang luka
baris demi baris # ingatan jadi giris
;ada yang tak terungkap # sebab tak sanggup mengucap

dari kubur ke kubur # badan pun tanah kapur

2013

Secara eksplisit telah tampak dalam puisi tersebut terdapat perbedaan secara fisik dengan puisi-puisi kontemporer lainnya. Yakni adanya tanda pagar di tengah-tengah kalimat sebagai pembatas dan penggunaan rima yang sama antara sebelum dan sesudah tanda pagar. Hal tersebut membangun kekuatan estetik yang unik dan enak dibaca. Sofyan menyebutnya “Puisi Nadham dalam Tanda Kutip”.

Baca Juga: 
* Jangan Pernah Menyakiti Penyair
* Pagar Kenabian: Sebuah Suara Dari Pesantren

Sumber Gambar: pixabay.com
Nadham atau ‘nazam’ menurut KBBI adalah puisi yang berasal dari Parsi, terdiri atas dua belas larik, berima dua-dua atau empat-empat, isinya perihal hamba sahaya istana yang setia dan budiman. Di dalam mukodimah Pagar Kenabian Sofyan, menyebutkan bahwa nadham subur berkembang di pesantren dan memiliki fungsi penting dalam kurikulum pesantren. Dalam hal ini adalah penggunaan kitab-kitab yang berbentuk nadham sebagai bahan ajar untuk santri.

Beberapa waktu lalu Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto mengadakan Lomba Cipta Esai Nasional yakni Pesantren Menulis 3, dengan mengangkat tema “Membangkitkan Sastra Pesantren”. Yang kemudian lahirlah buku antologi esai dengan judul “Revitalisasi Sastra Pesantren”. Setelah saya baca, saya berkesimpulan bahwa sebagian besar penulis menyampaikan bahwa nadham adalah akar dari kesusastraan sastra pesantren di Indonesia. Yakni karya-karya para ulama yang ditulis dalam bentuk nadham, seperti Nadham Al-Fiyah, Nadham ‘Imrithi, Burdah, Diba’, Al Barzanji, dsb. Kebiasaan santri membaca nadham-nadham tersebutlah yang memberikan spirit santri dalam bersastra. Seperti yang dikatakan oleh A’yat Khalili (Moh. Roqib, Dkk: 2016) dalam esainya menyebutkan,

Segala materi dan pelajaran (di pesantren) sampai ke norma-norma selalu menyimpan sentuhan nilai sastrawi, apalagi pada kitab-kitab yang dikaji, berisi syiiran, burdah, nadhaman sebagai suatu formasi dan materi pembiasaan bersyair, bershalawat,  menyanyi/melagukan/memuji, memaknai, menerjemah, memahami, dan menuliskan. Mengenai proses perkembangan tersebut berekesesuaian dengan pengetahuan yang ditemukan, dibaca, dan diterima santri dari berbagai sisi-sisi kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, nilai-nilai estetis (sastrawi) telah bersama santri sejak mengenal pesantren.

Baca Juga:
* Mengokohkan Keberagaman Lewat Nasionalisme
* Cak Nur, Islam, dan Sekularisasi

Hal tersebut mengindikasikan bahwa kitab-kitab yang ditulis dalam bentuk Nadham atau Syiir telah mempengaruhi geliat sastra di pesantren, yang kemudian muncul istilah Sastra Pesantren dengan berbagai macam sudut pandang.

Menurut Swingewood (Faruk, 2014) setiap penulis bekerja dalam suatu tradisi, suatu kebudayaan sastra yang diwarisi, dan karyanya sendiri akan menunjukkan dengan berbagai cara pengaruh dari latar belakang tersebut. Jika Penayir Sofyan RH Zaid menuliskan puisi nadham seperti yang terdapat dalam buku Pagar Kenabian, maka tidaklah mengherankan, karena secara historis beliau berlatar belakang santri di Pesantren Annuqayah Madura, yang telah terbiasa melafalkan nadham, dan mendalami ilmu agama serta tasawuf. Dengan lahirnya Pagar Kenabian maka Penyair Sofyan RH Zaid telah melakukan proses reflektif terkait pemahaman bagaimana ia menyerap suatu tradisi dan darinya mengembangkan suara otentiknya sendiri, gagasan dan pandangannya sendiri mengenai manusia, Tuhan dan alam melalui puisi pagarnya atau yang disebutnya puisi nadham.

Bagi yang awam dengan istilah nadham mungkin ini akan terasa aneh, bisa diterima-terima saja, atau menggugat penggunaan tanda pagar yang tidak lazim digunakan dalam konvensi penulisan puisi ataupun karya tulis lainnya. Sedangkan untuk kalangan pesantren, pertama bagi yang paham benar terkait dengan tata cara penulisan nadham dengan ilmu ‘Arudh-nya maka akan mempermasalakan pelabelan nama nadham dalam puisi Sofyan, karena puisi-puisi yang dituliskan Sofyan tidak menggunakan kaidah ilmu’Arudh. Puisinya cenderung bebas tidak terikat secara makna, baris dan suku kata, hanya dibatasi dengan pagar dan rima yang sama sebelum dan sesudah tanda pagar.

Baca Juga:
* Melirik Tasawuf
* Rasa-Rasa Puisi

Seperti bantahan Raedhu Basha dalam esainya yang pada intinya Puisi Sofyan tidaklah tepat jika dilabeli sebagai Puisi Nadham karena tidak menggunakan kaidah ilmu ‘Arudh. Sekalipun Raedhu mengakui dalam esainya yang termaktub di buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Raedhu mencontohkan Sofyan RH Zaid sebagai salah satu penyair yang menulis puisi khas santri, yakni melakukan percobaan tanda pagar (#) menirukan bait nadham. Kedua, akan mengapresiasi karya tersebut sebagai puisi modifikasi dari puisi nadham klasik menjadi sebuah karya sastra pesantren kontemporer yang relevan dengan kebudayaan kesusastraan hari ini di Indonesia. Maka dari itu kata pelabelan Nadham pada puisi Sofyan janganlah diartikan dengan mentah-mentah. Karena puisi dengan model tersebut, adalah Puisi Nadham dalam Tanda Kutip, seperti yang disebutkan Sofyan dalam mukodimah buku Pagar Kenabian.

Meski mendapat berbagai macam kritikan oleh penulis-penulis lain terhadap gaya penulisan Sofyan yang secara konvensi berbeda dari puisi-puisi yang biasanya. Namun karya tersebut patut dipresiasi dan saya rasa penting dibahas sebagai salah satu genre baru dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Selain itu, dengan hadirnya Pagar Kenabian Karya Penyair Sofyan RH Zaid telah membawa angin segar bagi geliat sastra pesantren kontemporer.

Dari Sabda Kebenaran hingga Sabda Keselamatan

Apa yang menjadi alasan Sofyan memberi judul bukunya “Pagar Kenabian”?. Tentunya dalam hal ini Sofyan tidak serta merta menamakan demikian tanpa ada maksud atau folosofi tertentu. Meski saya belum tahu alasan penyair memilih nama tersebut, saya akan mencoba mengartikan menurut persepsi saya. Pagar adalah  sesuatu yang digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan, tanah, rumah, kebun, dsb. Simbolnya adalah (#). Kata “nabi” mendapat awalan ke- dan akhiran kan- menjadi “kenabian”, maka “kenabian” lebih merujuk pada sifat yang berkenaan dengan nabi. Misalnya jujur, amanah, komunikatif, cerdas, dan pesan-pesan yang sifatnya prinsipiil maupun yang universal.

Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa Pagar Kenabian menurut saya adalah bagaimana kita manusia mencapai tujuan yang satu (dalam hal ini Rumah Tuhan) adalah dengan cara melampaui pagar yang menjadi batas antara yang kelam dan yang terang. Kelam disini merujuk kepada persifatan manusia yang materialistik, sedangkan yang terang adalah manusia yang telah terlimpahkan kebijaksanaan.

Baca Juga:
* Member Nikah Sirri Aris Wahyudi
* Bahaya Narasi Besar Nikahsirri.com

Bagaimana cara melampaui pagar tersebut?, yakni dengan menginternalisasikan sifat kenabian ke dalam diri kita dan direalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi khairu ummah seperti yang diungkapkan dalam kajian Filsafat Profetik. Sehingga selamat menuju Rumah Tuhan.

Di dalam buku kumpulan puisi “Pagar Kenabian”, terdapat empat sabda, yakni Sabda Kebenaran, Sabda Kesunyian, Sabda Kebijaksanaan dan Sabda Keselamatan. Membaca sabda-sabda tersebut secara berurutan seperti mata rantai yang tak terputus. Keempatnya harus dilalui sebagai jalan menuju keselamatan.

Martin Heidigger mengatakan bahwa puisi sejati merupakan fondasi atau asas bagi kebenaran (Stiftung der Wahrheit). Dalam hal ini, Sofyan telah berusaha dengan segenap jiwa dan batinnya dalam menyerap sari pati atau telah mengalami sublimasi dari pengetahuannya tentang filsafat, dimana filsafat merupakan kegiatan pencarian dan petualangan tanpa henti mengenai makna kebenaran dan kebijaksanaan dalam pentas kehidupan, baik tentang Tuhan Sang Pencipta, eksistensi dan tujuan hidup manusia, maupun realitas alam semesta (Zaprulkhan, 2016). Mari kita cermati puisi berikut:

KAMPUNG KEBENARAN

bercumbu di sumbu waktu # antara nafsu dan rindu
kemesraan menjadi api # meremangi bentala diri
gairah meledak menyebar # kita terkapar sadar
(Marx mengibarkan bendera # dari puncak menara
: kalian hanya mencintai dunia # tanpa tahu cara merubahnya)

kita berjalan menuju senja # melintasi siang yang bara
tubuh berubah warna # perlahan jadi kirana
melukis lapis awan # seperti darah keabadian
(Kant di atas bukit # mengacungkan jari ke langit
: mata tak akan sampai # tanpa akal yang melambai

kita berpendar pencar # memoles ufuk bergetar
burung pulang ke sarang # kembali menjadi pohon rindang
laron mulai menembang # angin menabuh genderang
(Plato memanggil gua # menulis kalimat pada dindingnya
:suluh menyebabkan bayangan # gerak menjadikan pengetahuan

matahari karam ke kelam # kita padam menjelma malam
menyimpan segala rahasia # kesenyapan melahirkan serigala
seketika bulan gerhana # kentongan membangunkan segala
(Farabi memainkan qanun # menari bersama daun
: mulanya adalah cahaya # kemudian tercipta semesta)

****
Dalam puisi tersebut sangat kental sekali nuansa filsafat yang disuguhkan Sofyan, dimana beberapa tokoh filsafat dan pemikiranya, yakni Marx, Kant, Plato dan Farabi dirangkum secara estetik dalam sebuah puisi. Dimulai dari Filsafat Barat sampai Filsafat Timur. Sampai pada kesimpulan pada bait terakhir puisi di atas yang mengandung sentuhan sufistik, bahwa nanti akan sampai pada yang hakekat, asalkan punya tujuan yang sama meski dengan jalan yang berbeda. Seperti lanjutan kutipan puisi berikut:

kita tersesat dalam gelap # meraba arah lalu lelap
paginya kita terpisah # mata mengucur kisah
kau tertinggal dalam gua # aku tersangkut di menara
kita percaya pada surga# kembali berjumpa suatu masa
: melihat Kant, mendengar Farabi # lalu mendaki puncak puisi

Agama: Jalan Akal dan Hati menuju Tuhan

Islam datang menyempurnakan akhlak dengan menempuh jalan Ilahiah. Sudah sejak lama perdebatan  mengenai kontradiksi antara akal dan hati, manakah yang dapat mengantarkan manusia mengenal Tuhannya. Dalam novelnya Hayy Ibnu Yaqzan, Ibnu Thufail menggambarkan bagaimana seorang anak yang hidup sendirian jauh dari peradaban di alam dapat menemukan jalan spiritual dengan mengandalkan penuh pada akalnya. Diduga kuat novel ini merupakan jawaban atas tuduhan Al-Ghazali yang menghukumi filosof atheis.

Baca Juga:
* Hijab, Puisi, dan Kitab Suci
* Pengarang Itu Tuhan Kecil

Berkat bukunya Talafut Al-Falasifah, orang-orang jadi takut untuk berfilsafat. Tetapi jika direnungi, para atheis, meski ada, hampir semuanya tidak menemukan jalan spiritual, mereka tidak mengenal tuhan meski mereka selalu hidup dengan akal. Jadi akal memerlukan rambu-rambu berpikir agar buah pemikirannya mencapai inti, mengenal Tuhan. Rambu-rambu tersebut ialah syari’at. Dalam dunia tasawuf sendiri, syari’at diibaratkan sebagai sebuah bahtera, kemudian Tuhan ada di tengah laut, untuk sampai pada Tuhan maka perlu menempuh perjalan, setelah baik syari’atnya, pelaku tasawuf menempuh jalan ke tengah laut (thariqah). Namun dengan apa sebuah bahtera sampai di tengah laut? Tentu dengan ilmu. Dan akal menempati posisi penting di sini. Dalam tahap pertama Hay Ibnu Yaqzan hidup di alam liar dan menemukan jalan spiritual, dia memulai dengan melakukan pengamatan inderawi, kemudian rasio dan ke tiga hatinya. Akal menempati posisi awal dalam upaya mengenal Tuhan.
Kemudian banyak orang yang memposisikan diri di tengah, bahwa filsafat dan tasawuf itu tidak bertentangan. Ke duanya dapat saling menyempurnakan dalam upaya mengenal Tuhan. Lalu berfilsafat untuk mengenal Tuhan oleh muslim disamakan dengan ilmu hikmah. Sama halnya dengan penyair Sofyan RH Zaid, dalam beberapa puisinya dalam buku kumpulan puisi Pagar Kenabian, nampak ia memposisikan hati dan akal, filsafat dan tasawuf sebagai komponen-komponen yang membentuk perangkat penghubung kepada Tuhan. Kita tahu bahwa filsafat menempatkan akal sebagai ukuran kebenaran, jika akal mengiyakan maka itulah kebenaran. Namun dalam pandangan penyair, kebenaran dicari dengan dua alat ini, akal dan hati melalui jalan agama. Kita bisa melihatnya dalam puisi Butterfly Effect, Filsafat Agama dan Kampunng kebenaran (Karl Marx dan Al-farabi). Demikian.

*Penyair dan peneliti di Pusat Studi Budaya Jawa Patani (PSBJP).


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment