Home » » Jangan Pernah Menyakiti Penyair

Jangan Pernah Menyakiti Penyair

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Sunday, September 24, 2017 | 11:30 PM

Oleh : Sofyan RH. Zaid

“Baik buruknya hasil karya seni selalu berpengaruh pada moral kemanusiaan.”
Johann Woflgang van Goethe

Pilihan Kebahagiaan

Plato -menurut Hatta- merupakan murid Sokrates yang setia dan paling mencerminkan ajaran filsafatnya. Suatu pagi, di tepi taman bunga, Plato bertanya pada Sokrates: “Apa itu kebahagiaan?” Sokrates berkata: “Masuk dan berjalanlah lurus di taman bunga ini. Petiklah untukku sekuntum bunga yang paling indah menurutmu.” Plato masuk dan berjalan, lalu kembali dengan sekuntum bunga: “Aku melihat dan berpikir, inilah bunga yang paling indah. Setelah aku memetiknya dan berjalan melintasi bunga yang lain, aku tetap yakin pada pilihanku, inilah yang paling indah, menurutku.” Sokrates tersenyum, dan berkata sebelum akhirnya pergi: “Itulah kebahagiaan! Berusaha, berpikir, dan memilih dengan yakin. Pilihanmu adalah kebahagiaanmu.”

Baca Juga:
Literasi Malaysia Makin Redup, wawancara dengan Wan Zamzahidi Wan Zahid
* Mengintip Makna Dari Celah Pagar Kenabian

Ada banyak versi cerita ini, baik dalam khazanah filsafat ataupun kesufian. Namun intinya sama, memilih itu selalu sulit, karena harus memilih sesuatu yang akan membuat kita bahagia. Demikianlah saya mengingat cerita ini, ketika Eddy Pranata PNP, penyair yang saya hormati -karena karya, kiprah, dan usianya- meminta saya memilih 54 puisi di antara 100 lebih puisinya yang telah terbit di sejumlah media. Saat itu, saya seolah menjadi Plato, mesti memasuki taman puisi yang luas, dan memilih 54 kuntum puisi yang paling indah menurut saya. Tentu memilih sekian puisi dari sekian banyak puisi bukanlah perkara mudah. Butuh waktu khusus untuk membaca, mencermati, dan mendalami. Kesulitannya seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami. Inilah pilihan dan kebahagiaan saya. Angka 54 merupakan usianya, maka saya pun memilih puisi-puisi terindah yang paling mencerminkan kematangannya dalam berkarya.

Baca juga: Pertobatan Seorang Pembaca

Sumber Gambar: kabarbangsa.com
Saya mengenal nama Eddy Pranata PNP pertama kali di grup Sastra Minggu (facebook). Nyaris setiap minggu melihat namanya ‘berwarna biru’, pertanda sebagai salah satu penyair yang puisinya terbit di media. Suatu ketika di Tegal dalam acara sastra tahunan Negeri Poci, saya berjumpa dengannya untuk pertama kali. Sosok pribadi yang ramah, familiar, egaliter, dan rendah hati. Meski Eddy merupakan penyair ‘angkatan’ Mimbar Abad  21. Namun dia tidak pernah menganggap dirinya demikian. Baginya semua sama dalam dunia kepenyairan, sama-sama harus saling menghargai dan belajar satu sama lain.

Baca Juga: Tubuh Tanpa Lekuk

“Menulis puisi itu bagi saya merupakan upaya menjaga kesadaran agar tetap menjadi orang baik, mengabdi kepada Allah, dan peduli terhadap masyarakat,” ujarnya pada suatu malam dalam pertemuan selanjutnya, di tepi pantai Ancol saat acara MUNSI II, 2017. Pernyataan Eddy tersebut senada dengan Dorsi Lessing peraih Nobel Sastra (2007) bahwa kewajiban penyair yang pertama adalah membangkitkan kekaguman untuk perbuatan-perbuatan baik yang sebenarnya. Malam itu, kami bicara banyak hal, mulai dari puisi sampai masalah nasi, mulai dari spiritual hingga masalah sosial, mulai dari kebijaksanaan sampai perihal perempuan.

Menulis Puisi Mengabadikan Diri

Barangkali kita pernah tahu ada ungkapan: “Jangan pernah menyakiti seorang penyair, karena itu akan abadi dalam puisi-puisinya.” Tentu warning ini agak lebai, meski itu benar, dan berlaku sebaliknya, yaitu “beruntunglah yang mencintai dan dicintai seorang penyair, karena itu akan abadi dalam puisi-puisinya”. Ketahuilah ketika seorang penyair sedang menulis puisi, sebenarnya ia tengah berjuang mengabadikan “sesuatu terkait dirinya”, dan “dirinya sendiri” melalui kata-kata.

Baca Juga: Ketika Jihadis Beraksi, Tuhanpun Tertawa

Mengabadikan “sesuatu terkait dirinya” bisa berupa nama, tempat, peristiwa, dan momentum lainnya yang terkait dengan sang penyair. Salah satu contoh dalam Abadi dalam Puisi ini bisa kita lihat pada:

Ketika Tubuhmu Mawar

ketika tubuhmu mawar
aku duri di seluruh rantingnya
ketika tubuhmu laut
aku karang di sepanjang selat dan teluk
ketika hatimu pualam
aku rongga yang melindunginya
ketika darahmu sehangat cintaku
aku penyair yang menuliskan darahnya
jadi puisi abadi

ou, darah cintaku yang menyala
kalau api tengah menyala pada tulang tubuhmu 
yang mawar kemudian menjadi bara
dan kemudian menjadi abu
aku hanya akan berbicara dengan abu
hanya dengan abu!

Cilacap, 29 Maret 2016

Sedangkan mengabadikan “dirinya sendiri” lebih pada eksistensi dan problem psikologis sang penyair sendiri. Salah satu contoh dalam Abadi dalam Puisi ini bisa kita lihat pada:

Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur

bila jasadku kaumasukkan ke liang kubur
jangan lupa seluruh puisiku kaumasukkan juga
tapi sebelum kautimbun liang kuburku
kawan-kawanku penyair dipersilakan membacakan sejumlah puisiku

lalu istriku juga membacakan sebuah puisiku
auh seperti pesta puisi di atas kubur
yang menganga
dan di dalamnya jasadku
begitu bahagia mendengar kawan dan istriku membaca puisi
di sela-sela isak tangis
setelah itu timbunlah
tidak perlu taburan bunga.

Bogor, 15 Mei 2013

Usaha penyair mengabadikan kedua hal tersebut ke dalam bentuk puisi, tentu sangat membutuhkan alat yang bernama kata-kata. Apa itu kata-kata? Dick Hartoko dalam “Penyair Sebagai Bendahara Sabda” memaparkan dua kategori kata-kata. Pertama, kata-kata yang kita kuasai; Kedua, kata-kata yang menguasai kita. Kata-kata yang kita kuasai lahir dari proses penciptaan kita sendiri yang bersifat datar dan hanya memuaskan akal budi. Dengan kata-kata ini benda-benda dapat kita kuasai. Jenis kata-kata yang bisa kita sebut bikinan, teknis, dan kegunaan. Sedangkan kata-kata yang menguasai kita lahir dari Sang Pencipta itu sendiri dan melampaui kenyataan. Kata-kata inilah yang membuka pintu gerbang menuju karya-karya agung yang bersifat abadi. Kata-kata yang keluar melalui hati, yang menguasai, menyatukan, memuliakan, dan mencerahkan.

Baca Juga: Kontroversi Hadiah Nobel Bobdylan

Tentu saja -kata Hartoko-  tidak semua kata dapat kita bagi demikian. Pembagian ini lebih pada “nasib dan sejarah kata-kata”. Di sini kita tidak sedang bicara mengenai kata-kata mati yang tersimpan dalam kamus bagai kupu-kupu dalam kotak. Kita sedang bicara perihal kata-kata hidup dalam pergaulan sehari-hari, pidato, musik, dan khususnya puisi. Penyair punya “kesaktian kata-kata”, hal-hal biasa kemudian menjadi luar biasa, hal-hal yang sementara lantas menjadi abadi, setelah ditulis menjadi puisi. Oleh karena itu, maka wajar jika Pram pernah bilang bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, karena orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika ia tidak menulis, akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Kesadaran semacam ini juga dirasakan oleh Eddy melalui puisinya:

Engkau Tahu; 
Tidaklah Ada yang Abadi di Dunia Ini Selain Puisi?

kenapa terus kaunyalakan bara api pada permukaan wajahmu?
ini hidup bisa saja tinggal beberapa kerjap mata
: weisku, timbalah air sumur dalam dirimu 
kurasa bisa memadamkan api yang menyala itu
engkau tahu, tidaklah ada yang abadi di dunia ini
kecuali Puisi?

weisku; engkau bisa saja menghapus seluruh kenangan bersamaku
tetapi akan sangat sulit engkau melupakan baris-baris puisiku

laut yang bergemuruh, api yang kian menyala-nyala
dalam dirimu suatu ketika akan menjadi bukit batu
dan tidak ada tumbuhan, hanya sipongang
hanya desau angin saja
lalu sepanjang waktu; lengang bergelombang

dan untuk sekadar mengikuti keras hati dalam lingkaran waktu
apakah harus memadamkan bara api dalam dada
atau kaubiarkan pijar mercusuar yang selalu berpendar-pendar
menerangi kegelapan
sementara labirin waktu yang kaususuri kian memanjang.

Cirebah, 7 Juni 2016


Ternyata...

Setelah selesai memilih 54 puisi dan rampung menjadi manuskrip puisi siap terbit, saya menyadari satu hal, bahwa saya tidak hanya seperti Plato di taman bunga, tapi juga seperti kupu-kupu (yang tidak mati) dalam puisi Eddy ini:

Kisah Kupu-kupu yang Menggelepar 
di Atas Tumpukan Majalah Sastra

kebahagiaan yang paling indah
adalah ketika ada seekor kupu-kupu terbang
di taman halaman belakang rumah
lalu hinggap di kelopak wijayakusuma yang mekar

kupu-kupu itu terbang berputar-putar
lalu hinggap di anggrek putih
: "iya, benar, di taman belakang inilah
segalanya terasa sangat indah!"

angin berkesiur, senja jatuh perlahan
kupu-kupu itu kembali terbang
masuk ke dalam rumah lewat jendela yang selalu terbuka

kupu-kupu seperti berdendang
berputar-putar di ruang tamu lalu hinggap di kelopak
mawar putih dari plastik
: "luka memang perih, tetapi cobalah sesekali dinikmati"

kupu-kupu kuning merah keemasan itu terbang lagi
berputar-putar lalu hinggap di pigura sepasang pengantin 
: "pertemuan dan perpisahan hanyalah soal waktu
cinta tersimpan di lorong misteri" 

kupu-kupu terbang lagi, tetapi ou, sayapnya patah sebelah
melayang; hinggap di tumpukan majalah sastra
yang usianya sudah lima puluh tahun itu

kupu-kupu hatinya sungguh terguncang
: "seperti majalah ini, tidak banyak yang peduli
tetapi pilihan harus dijatuhkan!"

kupu-kupu itu beberapa saat bergerak-gerak
sayap sebelahnya lagi patah, tidak lama kemudian menggelepar
ada rintih lirih dan panjang lalu sungguh senyap
ruang tamu rumah yang terbuat dari kayu sangatlah berduka

kupu-kupu itu telah mati dengan indahnya di atas majalah sastra!

Cirebah, 20 Agustus 2016

Demikian dan selamat! Semoga berkah buku ini dan membawanya kian tinggi terbang, kian jauh melintang. Jangan pernah menyakiti penyair, jangan pernah penyair menyakiti yang lain.

Jakarta, 17 Agustus 201


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment