Home » » Tauhidu al-Dzat dan Keindahan Iman Inklusif

Tauhidu al-Dzat dan Keindahan Iman Inklusif

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Friday, September 8, 2017 | 9:40 AM

KABARBANGSA.COM---Ada peristiwa penting sebelum turunnya ayat "sayaqulus sufaha'......" perihal qiblat yang menghadap ke Baitul Maqdis.

Baitul Maqdis dibangun oleh Nabi Daud. Ketika dibangun, Baitul Maqdis selalu roboh. Kemudian Nabi Daud matur kepada Allah, "Ya Allah, bagaimana mungkin saya membangun rumah-Mu selalu roboh. Padahal rumah ini akan menjadi kiblat semua orang,"

radarjogja
"Bagaimana mungkin rumahku akan dibangun oleh tangan-tangan yang belepotan darah, yakni darah peperangan."

Selanjutnya, Baitul Maqdis berhasil dibangun oleh putra Nabi Daud, yaitu Nabi Sulaiman.

***

Gemuruh keberagamaan bukanlah pengakuan, melainkan kekuatan pengamalannya. Tidak ada yang lebih luas dari kasih sayang Allah dan Rahmat-Nya.

Di akhirat, ketika Allah marah yang belum pernah terjadi sebelum dan sesudahnya, maka yang bisa mendinginkan kemurkaan Allah adalah Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad adalah realitas tinggi yang lebih tinggi dari nama-Nya sekalipun. Menurut Muhammad Iqbal, Allah bisa kau ingkari, tapi tidak dengan Nabi Muhammad, sebab nabi adalah realitas sejarah.

***

Perkara rohani adalah perkara rasa. Tauhidu al-Dzat adalah melihat segala sesuatu hanyalah melihat dzat Allah. Orang yang mengalami tahapan ini dapat mengasah rasa ketuhanan dengan tajam. Mereka lebih dekat dengan Allah daripada makhluk-Nya.

Orang yang seperti itu di mana-mana pasti khusyuk. Dapat menjumpai Allah di dalam diri dan Allah di luar diri. Di saat Nabi mengalami seperti itu turunlah perintah untuk mengubah kiblat ke ka'bah.

Atas dasar perubahan kiblat tersebut, muncullah rerasan di sekitar masyarakat. Allah melalui ayat "sayaqulus sufaha'u......." memberitahukan kepada Nabi.

Takwa adalah ketika bersama-sama menuju Allah dengan jalan yang serasi. Sementara tawakkal adalah  tidak ada jalan selain jalan Allah.

Aslu kulli ma'shiatin lima artinya asal usul maksiat pertanyaan "kenapa?"----bagian ini berlaku dalam ketundukan kepada Allah dan Nabi. Iblis itu tersingkir karena kritis kepada Allah. Kritis bukan pada tempatnya.

Allah menyediakan jalan adalah ujian kesetiaan kita. Bukankah seorang budak itu sepenuhnya di hadapan tuannya? Menghamba kepada Allah itu tunduk terlebih dahulu, pahamnya kemudian.

Hidangan yang lebih nikmat adalah Allah Swt. Bagaimana tidak nikamat toh yang menghidangkan dan yang dihidangkan adalah Allah Swt.

***

Agama itu indah. Agama itu menyesakkan kalau beragama menyalahkan orang lain. Beriman kemudian menyalahkan orang lain. Allah memantul melalui segala sesuatu yang kita jumpai.

Masuk dalam tauhidu al-dzat adalah masuk di kedalaman iman yang inklusif. Keimanan kita lebih terbuka pada segala sesuatu, sebab segala sesuatu itu sejatinya adalah Allah Swt.***

(Tulisan ini merupakan saduran dari pengajian tafsir al-Jailani oleh Kiai Kuswaidi Syafi'ie, tanggal 9 September 2017, di Pondok Pesantren Maulana Rumi Yogyakarta)


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment