Home » » Mencari Tanah Berpijak Puisi-Puisi Langit Sofyan RH. Zaid

Mencari Tanah Berpijak Puisi-Puisi Langit Sofyan RH. Zaid

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, October 11, 2017 | 9:29 PM

Oleh : Dwi Pranoto

Petikan dari perempuan penyair Rusia semasa Revolusi Bolshevik, Marina Tsvetaeva, sebelum Mukadimah yang memuat kesaksian kreatif yang diakhiri dengan rentetan ucapan terimakasih menjadi semacam gerbang penanda sebelum berhadap-hadapan dengan puisi-puisi Sofyan RH. Zaid yang terbagi dalam empat bagian. Komitmen Tsvetaeva yang memposisikan penyair sebagai belaka mengemban peran mediator dalam tugas kesastraan memberikan peringatan bahwa karya-karya yang terlahir adalah bukan kehendak sastrawan atau penyair. Sastrawan atau penyair impersonal. Ia secuma penyampai kata-kata dari suatu kekuasaan yang menguasai dirinya. Disamping menegaskan posisi penyair sebagai penyampai, Tsvetaeva juga menetapkan karyanya bukan untuk sesiapa. Tapi karya untuk karya.

Baca Juga:

“Bukan untuk mereka yang berjuta-juta, bukan juga untuk seseorang, bukan pula untuk diriku. Aku menulis untuk karya itu sendiri. Ia menuliskan dirinya lewat diriku” (Marina Tsvetaeva dalam Sofyan RH. Zaid, Pagar Kenabian, 2015)

pagar kenabian
Sumber Gambar: pixabay.com
Sepintas Tsvetaeva tampak memaklumatkan bahwa puisinya berada di luar hiruk-pikuk dunia, jika tidak boleh disebut apolitis. Namun demikian sajak epiknya Lebidinyi Stan (Encampment of the Swans / Perkemahan Angsa-angsa) yang memuliakan Balatentara Putih yang bertempur melawan pasukan Komunis menegaskan keberpihakan Tsvetaeva secara politik dan “kejatuhannya” dalam kemelut duniawi.

“Tidak ada pembiasan estetik tanpa sesuatu yang dibiaskan: tidak ada imajinasi tanpa ada hal yang diimajinasikan”, kata Theodor W. Adorno dalam Aesthetic Theory. Karya seni, apapun itu – termasuk puisi, tidak pernah berangkat dari kekosongan atau hal-hal di luar dunia. Jikapun suatu  bentuk karya seni harus menemui takdir dirinya secara inheren dalam dirinya sendiri, namun isi karya seni tak mungkin melepaskan diri dari berkorespondensi dengan dunia. Puisi selalu berbicara kepada dunia, atau tepatnya dunia yang dipersepsikan. Oleh karenanya, puisi berbicara kepada manusia dengan segala pengalaman duniawi yang ada dalam dirinya.

Baca Juga

Pagar Kenabian

Sejak diterbitkan April 2015, Pagar Kenabian telah memperoleh banyak tanggapan dari berbagai kalangan. Bahkan bentuk puisi yang ada dalam Pagar Kenabian telah memicu perdebatan di Republika. Salah satu ulasan yang cukup komprehensif atas puisi-puisi dalam Pagar Kenabian ditulis oleh Jamal T. Suryanata dengan judul Membuka Pagar Kenabian: Memasuki Rumah Kepenyairan Sofyan RH. Zaid. Jamal menelaah puisi-puisi dalam Pagar Kenabian dari segi bentuk dan isi. Bagi Jamal, bentuk puisi-puisi Sofyan bukan bentuk nazam sebagaimana mestinya, namun nazam yang telah dimodifikasi. Sementara isi puisi-puisi Sofyanmenurutnya penuh dengan pesan-pesan profetik dengan dipengaruhi oleh sufisme atau ajaran tasawuf.
Sebagaimana diisyaratkan oleh judul dan tiga paragraf pembuka, ulasan atas Pagar Kenabian di sini tidak akan menitik berat atau berhenti pada tema sufistik dan bentuk nazam yang sudah banyak dibahas dalam berbagai ulasan sebelumnya oleh banyak pihak. Dalam ulasan ini kita akan berupaya meninjau puisi-puisi Sofyan dengan menjejakkannya pada tanah padat tempat kita berdiri dan melakukan segala perbuatan hidup.

Puisi Sebagai Penyair barangkali tepat bagi kita untuk memulai pencarian tanah berpijak puisi-puisi langit Sofyan. Puisi Sebagai Penyair ini dapat dibaca sebagai suatu pernyataan sikap kepenyairan terhadap kemashuran. Sebagai penyair kita tak perlu # memaksakan terukir di batu / atau dunia memberikan tempat # dalam sejarah dan hikayat merupakan pernyataan gamblang bahwa kemashuran bukanlah yang dikejar. Namun demikian kemashuran bukan hal yang ditanggalkan benar-benar, sebab puisi itu sendiri telah menyimpan kemashuran di dalam dirinya sendiri. Kemashuran puisi yang sui generis inilah yang dipercaya penyair akan menuntun dirinya. Sebab penyair, seolah menggemakan komitmen Tsvetaeva, belaka media bagi puisi:kita hanya melahirkan # dari rahim keabadian. Dalam puisi ini penyair, sebagai subyek, seolah lesap dalam ketiadaan, tapi tidak. Penyair sebagai subyek tidak belaka pasif tapi ia ada dan aktif; ke mana angin bertiup # kita lari mencari degub. Dengan demikian penyair mencari puisi yang menyimpan kemashuran sui generis. Atau lebih lugasnya penyair “mencari” kemashuran walaupun menolak sebagai kehendaknya sendiri. Sikap ambigu semacam ini terus terulang di dalam hampir seluruh puisi yang terhimpun dalam Pagar Kenabian.

Baca Juga:

Barangkali karena kezuhudan yang berkait dengan pengaruh ajaran tasawuf, puisi-puisi dalam Pagar Kenabian seolah hendak menolak segala godaan duniawi. Kehidupan dunia dijalani sebagai musafir lata yang menyimpan rindu pada kebaqaan. Sehingga jarak yang terbentang antara yang fana dan baqa menumbuhkan segala siksa dan keperihan. Baik tersurat maupun tersurat jarak menjadi kendala paling nyana  bagi diri yang dipenuhi dengan angan-angan ilahiah seperti diungkapkan dalam Butterfly Effect,Sehelai Rambut Alfreda, Lembah Sembah, Ratib Rindu, dan masih banyak lagi.

pagar kenabian
Sumber Gambar: pixabay.com
Jarak yang direpresentasikan sebagai dualitas tubuh dan ruh, masa silam dan kekinian, kefanaan dan kebaqaan, dunia dan akhirat seringkali juga melahirkan ambiguitas yang tak terhindarkan. Momen-momen penyatuan begitu rapuh dan guyah. Bertukar tangkap dengan lepas, kata Amir Hamzah. Tubuh yang terjangkar karam di tanah padat dan terus menerus menarik turun angan-angan kemanunggalan panteistik menjelmakan ekspresi-eskpresi kemenduaan seperti terbaca dalam Risalah Rahasia, Nabi KangenKampung Kebenaran. Bahkan dalam Kawin Batindan Puncak Kebijaksanaanyang sekilas tampak mengekspresikan kemanunggalan ternyata masih tetap menyimpan keretakan. Dalam Kawin Batin, perkawinan ruh ternyata bukan suatu pencapaian paripurna dari perwujudan angan-angan kemanunggalan. Sebab, jarak antara yang fana dan abadi tak serta merta hapus. Pasangan ruh masih harus menempuh pelayaran menuju pulau abadi: ruh kita satu tuju # lebur menyatu dalam hu / berloncatan ikan abad # menuju pulau abadi.Keretakan ruang-waktu dalam kemanunggalan ini juga muncul dalam Puncak Kebijaksanaan. Bukan hanya karena tamasya keabadian yang diisyaratkan oleh berhentinya segala pencerapan pancaindera yang memilah realitas kebendaan dipenggal oleh tatapan pada kesengsaraan duniawi: di tiang yang tercipta dari cuaca# terus berkibar bendera air mata. Lebih dari itu, pada baris berikutnya sikap hormat pada maut ternyata diikuti oleh penilaian yang tidak sejajar dengan sikap hormat dengan menyebut maut sebagai penghianat: kita pejamkan mata memberi hormat # kepada maut sebagai penghianat.

Baca Juga:

Ambiguitas atau kemenduaan yang mewujud dalam keretakan ruang-waktu dalam puisi-puisi dalam Pagar Kenabian menjadi tak terelak. Sebagaimana doktrin sufisme wahdat al-Wujud, yang dapat dilacak sampai Ibn Arabi, yang sesungguhnya merepresentasikan kesulitan dan kerumitan menggambarkan hubungan antara Tuhan dan manusia karena keterbatasan bahasa dan nalar. Ya, kita adalah Tuhan, tapi kita bukan Tuhan. Ambiguitas yang disadari ini juga dapat dibaca sebagai “anti-kemapanan”, jika bukan sikap anarkistis, yang sulit bahkan tak terbaca pada level tertentu.Suatu sikap yang terlarang bagi institusi kekuasaan apapun yang menghendaki ketundukan dan kekakuan batas dalam identitas kekuasaannya. 

Bagaimanapun, walaupun berangkat dari pondasi keagamaan, tradisi sufistik ini melampaui wujud keras keagamaan sebagai suatu institusi dan sumber nilai sosial. Persekutuannya dengan kekuasaan ilahiah membuat sufisme menjauh dari kekuasaan duniawi. Posisi ini membuat sufisme bersifat subversif terhadap kekuasaan duniawi (kekuasaan politik). Tidak seperti agama yang kerap menjadi kakitangan kultural negara untuk menertibkan, yang tepat mestinya menjinakan, kehidupan sosial. Nilai-nilai sufistik yang menjauh atau berbeda dari nilai-nilai umum yang menopang tatanan sosial seringkali dipandang merongrong tatanan sosial. Oleh karenanya, hampir di sepanjang sejarah komunitas-komunitas sufi selalu ditindas dan bahkan diburu untuk dihancurkan oleh negara. Pada abad 17 kerajaan Aceh di bawah Sultan Iskandar Tsani dengan Nurrudin Al-Raniri sebagai mufti kerajaan, menghancurkan dan memburu pengamal ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Sementara Turki melarang sufisme sejak 1925. Bahkan sampai sekarang ajaran sufi di Turki secara teknis masih ilegal. Kita masih dapat menyebut lagi sejumlah negara yang membatasi kehidupan sufistik seperti di Saudi Arabia, Mesir, Pakistan.

Sufisme bukan hanya “lawan” bagi negara. Institusi keagamaan, tertutama institusi keagamaan yang dibangun menyerupai negara atau berkehendak merengkuh status negara bagi dirinya sendiri, bahkan menekan komunitas sufi lebih keras lagi. Nilai-nilai dan norma-norma sufisme yang relatif memandang eksistensi apapun (termasuk agama-agama dan manusia) sebagai satu kesatuan kebajikan universal perwujudan keilahian membuat mereka dikutuk sebagai zindik dan membahayakan kehidupan sosial. Di Gujarat India sebuah makam seorang penyair sufi, Wali Deccani, yang sangat dicintai oleh berbagai pemeluk agama dihancurkan oleh fundamentalis Hindu. Sementara di Mali, Al Qaeda yang bersekutu dengan kelompok pemberontak Tuareq memporak-porandakan komunitas sufi di Timbuktu.Namun, pada sisi yang lain sufisme dapat menjelma gerakan radikal yang militan dalam melawan penindas-penindasnya seperti di Senegal yang melawan penjajah Prancis pada tahun 1853-1927.Kita mungkin juga bisa menyebut pemberontakan Hur di India yang melawan penjajah Inggris sejak 1871.

Hampir di sepanjang sejarah sufisme relatif selalu beroposisi terhadap kekuasaan-kekuasaan mapan, negara maupun agama. Pembebasan manusia dari belenggu duniawi dalam praktik kezuhudan hidup dipandang membahayakan bagi kekuasaan-kekuasaan politik dan tatanan sosial hirarki yang terbentuk dari penguasaan sumber daya alam dan sosial. Sepertinya pernyataan Marx tentang agama itu candu pantas dilekatkan pada ajaran tasawuf  ini. Ajaran sufisme yang menjauhkan diri dari keduniawian menjadi semacam ekspresi perlawanan tanpa kekuatan terhadap ketidakadilan kekuasaan dunia. Syair-syair Rumi  dan Ibn Arabi dapat dibaca sebagai pembebasan belenggu rasialis dunia pada masanya.

Namun demikian, di era pencapaian tekhnologi informasi saat ini, wacana-wacana sufisme telah menyebar luas tanpa disertai oleh praktik-praktik sufistik yang dituntun oleh seorang mursyid secara langsung. Pengajaran sufisme telah bermetamorfosa dari lisan ke manuskrip ke teks digital. Sufisme hari ini, dalam istilah Zizek, seperti bir tanpa alkohol atau kopi tanpa kafein. Hakikat sufisme sesungguhnya adalah cita-cita ilahiah dalam kebertubuhan. Praktik sufistik dengan demikian menjadi mustahil tanpa perbuatan-perbuatan badani. Jika kemudian praktik sufistik menjadi gaya hidup, maka sufisme hadir tanpa suatu perlawanan nyata melawan ketidakadilan dunia. Sufi seolah, sebagaimana Punk sebagai budaya tanding, berakhir di toko-toko merchandise dan distro-distro.

Pagar Kenabian memang banyak disarati oleh istilah-istilah sufisme dan ajaran-ajaran tasawuf. Namun keterkaitannya yang lemah pada kehidupan hari ini membuat ajaran-ajaran tasawuf seolah telah dinetralkan. Tidak ada “gangguan” yang ditimbulkan oleh Pagar Kenabian sebagaimana syair-syair Ibn Arabi yang mengguncangkan kehidupan sosio-kultural, bahkan politik, pada masa itu. Syair Ibn Arabi, seperti “Hatiku adalah padang rumput bagi kijang-kijang dan tempat bagi pendeta-pendeta Kristen” dan “Agamaku adalah agama cinta. Di manapun unta-unta berpaling, itulah agamaku dan keyakinanku” menjadi semacam lontaran kritik keras terhadap mentalitas rasialis masa itu. Adakah Pagar Kenabian ini bisa dibaca sebagaimana syair-syair Marina Tsveteva yang posisi politiknya diselubung oleh pernyataan-pernyataan apolitis dan haluan spiritualitasnya dihela oleh hancurnya tatanan sosial yang menyokong status dan previlage penyair yang melahirkan kelaparan dan kemiskinan duniawi yang menderitakan?


Penulis Adalah penyair, esais, dan penerjemah. Buku puisi tunggalnya, Hantu, Api, Butiran Abu (Gress Publishing, 2011), buku terjemahannya yang telah terbit, Piramid (Marjinkiri, 2011). Saat ini sedang menyelesaikan terjemahan karya James T. Scott dan Chaim Potok. 


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment