Home » » Suluk Gampang Berahi Prawoto

Suluk Gampang Berahi Prawoto

Diposkan oleh Kabar Bangsa pada Wednesday, October 4, 2017 | 7:55 AM

Oleh : Sofyan RH. Zaid*

Keindahan adalah kebenaran, kebenaran adalah keindahan.”
John Keats

Bagaimana dengan air mata penyair? Asrul Sani bertanya dalam “Pembahasan Orang-orang yang Kenes” sekaligus menjawabnya sendiri: Itu urusannya sendiri! Jika baru sebatas air mata, kita tidak berhak mencampurinya, karena itu hanya sekadar menjalankan kehidupan pribadinya. Air mata baru menjadi penting ketika ia telah menjadi puisi dan kita berhak mencampurinya. Sebagaimana penyair baru menjadi penting ketika ia menulis puisi, bukan karena ia kita tahu sebagai penyair. Memang benar penyair adalah ‘manusia masyhur’. Sementara kemasyhuran itu sendiri sebenarnya hanyalah pendapat umum sebagai bentuk penghargaan pada suatu zaman. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah karyanya. Itu sebabnya popularitas tidak pernah bisa menjamin kualitas, begitu juga sebaliknya. Popularitas dan kualitas seakan dua nasib yang berbeda meskipun kadang merupakan hukum kausalitas. 

Baca Juga: 
* Di Hadapan Emha Ainun Nadjib, Gusmus Ketua Ulama' Seumur Hidup
* Jangan Pernah Menyakiti Penyair

puisi sofyan rh zaid
Sumber Gambar: zirakarisma.blogspot.id
Penyair menulis puisi -lebih lanjut Sani- adalah menulis suka-duka, pahit-manis, dan lain sebagainya yang dialami. Pengalaman yang telah menjadi kesadaran dan berganti bentuk menjadi kata-kata dalam puisi. Tidak ada yang mengingkari bahwa puisi dan kata adalah kulit dan manusia. Penyair tidak akan bisa menulis puisi jika ia menyelesaikan -misal- deritanya hanya dengan keluh kesah, berurai air mata ataupun mengepalkan tangan. Setiap puisi terdiri dari kata, kata yang liar dan kasar, kemudian penyair menjinakkannya dan dibuatnya patuh pada kehendaknya. Nah, pada titik tolak inilah saya melihat puisi-puisi Gampang Prawoto dalam Suluk Berahi lahir dan diletakan dengan mahir. Kita bisa lihat bagaimana kitab puisi ini dibuka dengan puisi:

ANGGUR KEHARUMAN

bila
kau benamkan aku
dalam lautan anggur
yang menyala
maka
bara yang kau simpan
dalam baki
antara jantung dan lambung
terbang bersama cawan
menjadi sendawa di tepian siang dan malam.

bila
kau mandikan aku
dengan sepatah wewangian
maka
keharuman menjelma air
merendah menjadi hati,
seperti bulan dan bintang
menerangi dinding
dinding nadi malam
karena kegelapan
tetap
bagian dari kehidupan.

Kraton Sastra; Alas-Jati,00112009

Kemudian ditutup secara cantik oleh puisi:

SELISIH

Kau
berjalan dengan detik
sedangkan
yang lain menghitung
menit.

Wajar
kalau kita ada
persepsi
berbeda.

Walau
Sesungguhnya
Kita
akan bertemu
di
jam yang sama.

Jambon,13032014

Bagi Boejoeng Saleh, puisi tidak terletak pada pilihan tema; apakah aktual ataukah bernilai abadi, melainkan pada kemampuan dan penjiwaan penyair dalam menciptakan puisinya sendiri. Sedangkan penyair yang ulung -menurut Boen S. Oemarjati- akan mengungkapkan secara tersurat apa yang semula tersirat. Pencurahan, pengujaran, proyeksi makna-makna yang adiluhur dari pikiran dan perasaan penyair yang terjadi dalam suatu greget spontan, kreatif, dan mandiri. Bebas lepas dari ikatan apapun. Puisi-puisi Gampang mencerminkan hal itu secara kuat. Bila kita cermati lebih jauh, kitab puisi ini secara umum ‘dibanjiri’ air mata yang bermuara pada dua hal besar sebagaimana judul bukunya; suluk dan berahi. Maka, wajar jika Gampang menyuratkan sikap kepenyairannya pada puisi:

AIRMU

hujan,
jatuh ke muara
bersua laut asal moyangnya

langkahmu pernah beku dalam kulkas
lambaianmu pernah mendidih dalam bejana

kemarin menjelma kencing
hari ini keruh mengaliri sungai-sungai
lusa menggenangi kampung pemukiman
esok kita minum sama-sama

segar,
karena kehausan
ada mabuk ada nikmat berlebihan

air adalah kehidupan
sedang kehidupan adalah puisi
puisi panjang dari drama kisah luka
air mata.

Pejambon, 20022013

Suluk Gampang

Secara pengertian, suluk mempunyai dua makna, yaitu: Pertama, jalan ke arah kesempurnaan batin. Sementara orang yang menempuh jalan tersebut adalah salik. Dalam khazanah keislaman, suluk merupakan tasawuf, semacam jalan panjang kerohanian menuju Tuhan. Kedua, bisa berarti nyanyian atau tembang dalam tradisi Jawa untuk mengawali babak pertunjukan wayang. Kita hanya bisa menafsir mana pengertian yang dimaksud oleh Gampang. Namun dalam kitab puisi ini, kita bisa jumpai puisi-puisinya yang menyiratkan perjalanan ketuhanan, misalnya pada puisi:


HANYUT

desah tasbih
seirama dentum hati
berkisah tentang belukar, daun kering
berguguran basah menyeka mata
hanyut bersama dosa.

Bojonegoro, 14072013


SAJAK AKHIR TAHUN

aku
debu dari kerikil
kerikil yang terlempar
membinasakan nafsu .

aku
embun dari karat
karat malam tanpa cercah cahaya

Tuhan
dalam renung menung yang hening
bening
tahun-tahunku
tidak ada apa-apa”
belum ada apa-apa”
hanya darah memerah bercampur nanah
dan dosa-dosa.

Tuhan
dalam kering dan tandus
percikkan senyum langit biru
akan kutanam benih
kupu-kupu dan kunang
baru di tahun baru.

Kraton Sastra Alas-Jati,122009

Berahi Prawoto

Begitupun kata berahi bisa dipakai untuk manusia dan hewan dengan pengertian yang sama, yakni perasaan tertarik yang sangat terhadap suatu hal. Namun umumnya dipakai untuk ketertarikan pada lawan jenis pasanganya. Berahi merupakan unsur paling kuat dari cinta antara manusia untuk ‘menciptakan’ manusia baru sebagai keturunan dan mempertahankan jenisnya. Dalam hal ini, Gampang tahu kalau ‘manusia adalah hewan yang berpikir’ sekaligus juga punya nafsu yang sama. Dalam kitab puisi ini, kita bisa jumpai puisi yang menyuratkan hal itu, misalnya pada puisi-puisi:

GORESAN DINDING MATAMU

akhir musim,
angin tersenyum
menghantarkan angsa mengibaskan bulunya
pada sebuah pertemuan
walau hanya berpapasan saja.

aku baca
goresan pada setiap kerut dinding
dinding matamu, ada
mutiara di kedalaman samudera yang nakal
dari untaian melati yang pernah mengajariku
arti rasa
pada indra penciuman.

aku dengarkan
angin di akhir musim
kenanga, kanthil atau mawar
mengajakku tamasya, mengulang harum
wangi yang manja
sesaat koma, kadang seru
tanda tanya, petik tanpa titik, berderet tanpa kata
persenyawaan adam dan hawa
menjadi molekul-molekul
ion positif dan ion negatif
pada pusaran angin yang menggila.

akhir musim
angin membawaku pada perjamuan
dinding-dinding matamu
yang bernyawa.

Kampoes Tegalgondo Malang, 05 01 2010


DINDING SYAIR

Aku pahat cintaku pada dinding
dinding syair

13.30
aku lihat bibirmu
seangan rasaku
adakah sama

14.00
aku dan kamu
segitiga bermuda
terlintas di laut Jawa
jiwa tergoda

14.33
Aku
Masih
terbayang angan rasamu
dalam bongkahan rasa

16,00
tatapan
sebungkul bawang merah
matamu
aku
bisa
gila.

Bojonegoro, 14072013


Suluk yang Berahi

Sepintas, suluk dan berahi terkesan berlawanan secara pengertian. Namun bila kita renungkan lebih dalam, barangkali Gampang ingin mengatakan bahwa manusia bermula ‘dari berahi untuk kenal Ilahi’, seperti kisah Adam dan Hawa sebagai awal kehidupan di bumi dimulai. Perkawinan dua kata kunci ini bisa kita lihat pada puisinya:

MENGINANG

awal
pergantian
musim
kuncup kama-cita bersemi
menanti  bunga senja
tersenyum  mekar.

pucuk warsa
kasih  yang terapung
di antara sungai-sungai kecil
rindu lelah tertimba mesin
mesin yang meraung dahaga
senyapkan alunan irama tingkilan.

dulu
pernah kau asuh asupan tradisi
adab kultur leluhur
gambir  sirih
menanam kesabaran
sedangkan
kapur  pinang
mengajarkan  kesetiaan.

malam telah rebah
gelir sampan kecil mengayuh nasib
meniti  janji yang kau titipkan pada waktu
adakah lagu yang belum kau gubah dalam  kehidupan ini
padahal tembakau susur baru saja aku jereng
pada binar celah angan.

Di sini
pengidon
lama tersaji.

agar dubang tak tercecer ke lantai
lantai lain hati.

Bojonegoro, 16122013

Sebagai penutup, saya ingin mengutip bagian pengantar Percy Bysshe Shelley dalam The Revolt of Islam secara bebas: Puisi yang kini saya persembahkan kepada dunia, merupakan suatu percobaan, yang kemungkinan berhasilnya sangatlah minim. Saya hanya berharap agar puisi mampu membangkitkan harapan umum serta menyinari budi dan memperbaiki kemanusiaan. Melalui kitab puisi ini, Gampang tentunya ingin mengatakan bahwa ‘air mata jangan hanya mengalir dan berakhir’ namun harus kita bagi kepada manusia lain dalam bentuk puisi agar menjadi abadi dan berharga.

Jakarta, 06 September 2017

*Penyair, dan editor. Tinggal di Bekasi.


Artikel Terkait:

0 comments :

Post a Comment